Me!

YO WASSUP !

Holla! I'm Nabila Alya Ramadhina but you can call me by nickname, it's Alzeya! i just joined blog this year so actually i don't even know what people usually do in their own blog~ but i'm writing here and i hope you willing to read those hehe i'm 14yo and i'm an exofan. asking me over here www.ask.fm/growlseductively and follow me www.twitter.com/xeyeol thank you xoxo

Selasa, 01 Juli 2014

Oh Sehun and the Goddess of Hearth (chapter 7)

Title : Oh Sehun and the Goddess of Hearth (Oh Sehun dan sang Dewi Perapian)

Main Casts : Sehun, Kai and Sharley (all of exo's members are including too)

Genre : Greek Mythology, Action, Thriller (not-really-but-i-love-to-added-it-so-yeah)
Author : Alzeya
 
Assalammualaikum (special ramadhan guys)
it had been a long time right huhu maaf ya bagi yang selalu nungguin fanfiction ini. Masalahnya, selain sibuk sekolah, file nya hilang. FILENYA HILANG. sengaja diulang biar greget. Dan terpaksa bikin lagi, it was really exhausted man. Maaf kalau ceritanya makin gak jelas dan alurnya bukan maju, mundur atau campuran tapi berantakan.

 Sehun P.O.V

Di tengah gelapnya malam, aku menyesal pernah berharap bisa membuat mesin untuk memberhentikan waktu saat masih kecil. Nyatanya, ketika waktu berhenti, semua organ tubuhmu bergerak lambat. Aku hampir mati kehabisan napas, dan berdiri seperti mayat hidup karena jantungku bergerak amat sangat lambat. Semua tulangku terasa seperti agar-agar, bergerak sangat lembek. Kekuatanku belum pulih sepenuhnya walaupun aku baru saja meminum cukup banyak nektar. Bahkan Kai tidak bisa berteleportasi, kekuatannya masih memulihkan diri. Hanya satu orang yang masih bisa bergerak sepuasnya, Huang Zitao. Dia mendekat ke arahku sekaligus menjambak rambutku.
Aku melirik tajam ketika dia mendekatkan wajahnya. Napasnya sedingin es menyapu kedua pipiku.
Dia menyeringai, "Hanya dengan menculik satu dewi, aku berhasil membuat Apollo mengeluarkan kartu As nya. Lihatlah, anaknya yang paling diemaskan, putra Hades dengan kutukannya yang mematikan dan kau!" Dia menunjuk tepat di depan hidungku.
"Putra Zeus dan pewaris kekuatannya! Tapi ternyata kalian terlihat seperti pecundang." Katanya. Dia tertawa licik, dan berjalan mengitari kami bertiga.
"Kenapa kau menculik dewi kami, bodoh?" Tanyaku, masih dengan posisi yang sama.
"Untuk menyembuhkan seseorang. Kekuatan dewi lah yang bisa membuat dia seperti sedia kala. Aku bisa memanfaatkannya jika dia sudah sembuh." Jelasnya
Aku menggeram marah, memutar otak untuk mengalihkan perhatiannya. Lalu aku memusatkan pikiran untuk mendatangkan sambaran petir.
Duar
Petir menyambar tepat di belakang sang putra Kronos, dia terperanjat dan secara reflek menoleh ke balik punggungnya. Aku mengerahkan seluruh tenaga lalu menumbuk udara di depanku.
Aku tahu mengenai kekuatan penghentian waktu, udara adalah kaca, karena ketika waktu berhenti kau berada dalam dimensi yang lain. Kaca membuatmu tidak bisa bergerak, dan aku baru saja menumbuk kaca. Aku bergerak normal berusaha menghunus pedangku dengan tangan yang bercucuran darah segar. Lalu menebas udara di hadapan Kai dan Sharley.
Tao berusaha menghentikan waktu lagi tapi aku menebas udara di hadapanku. Kaca bertebaran kemana-mana, beberapa ada yang menancap di kulitku dan menyebabkan sakit yang menggigit.
Kai mencoba membuyarkan konsentrasi Tao, bongkahan berlian dan emas menyembul dari dalam tanah sehingga membuat Tao tersungkur beberapa kali. Sedangkan Sharley bernyanyi, suaranya memiliki kekuatan untuk menjerat seseorang menjadi lemah, aku hampir saja tergoda untuk duduk bersantai dan mendengarkan nyanyiannya.
Aku menatap garang ke arah Tao, matanya berkilat-kilat marah. Seketika langit berubah menjadi kemerahan, tanah bergetar, dan aku merasakan sesuatu yang besar mendekat.
Tao meringsut maju perlahan sambil menyeka darah di sudut bibirnya, "Matilah kalian!"
Makhluk besar itu datang, dengan tinggi sekitar enam meter dan badan bersisik seperti naga tapi dia bukan spesies seperti itu. Lebih besar barangkali?
"Drakon." Gumam Sharley. "Kudengar cuman anak Ares yang bisa membunuhnya."
Aku mendesah, "Aku jadi kangen si tiang yang selalu salah sebut nama itu—Kris."
Makhluk itu menghembuskan napas apinya, aku sontak mundur perlahan.
Kai berbisik di telingaku, "Teleportasiku sudah bekerja. Aku ambil Tao, kekuatannya tidak ampuh padaku." Katanya. "Urus si makhluk buruk rupa ini."
Aku mengangguk sepakat, "Hati-hati."
Dia berlari menyerang Tao, aku memandang Sharley dan mengangguk. Rupanya kata buruk rupa tadi telah melukai hati si Drakon, dia meraung marah dan menghentakkan kakinya kemana-mana. Aku harus berguling untuk menghidari cakaran beracun nan mematikan itu. 
"Aku akan alihkan perhatiannya. Kau harus incar matanya, hanya itu titik kelemahannya." Titahku pada Sharley. Cewek itu sudah kelelahan setengah mati, ditambah pundaknya yang retak tapi dia tetap berlari untuk bersiap memanah mata Drakon.
Sekarang aku berhadapan dengan makhluk buas setinggi rumahku sambil berusaha memikat perhatiannya. Menghunus pedang dan menyiagakan Aegis, aku tidak bisa menggunakan sayap lagi.
"Halo, Tuan Drakon. Malam yang indah ya, sayang sekali sepertinya ini malam terakhirmu." Kataku. Saat mengatakan malam terakhirmu dia mencoba menerkamku, saat kepalanya turun, aku melompat ke atasnya dan berpegangan pada celah-celah sisiknya. Aegis terlempar ke bawah, aku mengumpat sambil berusaha mencapai wajah Drakon. Sang Drakon menggoyang-goyangkan kepalanya, aku merasa kalau lambungku jadi berbentuk absurd. Tiba-tiba Drakon ini diam seakan seseorang baru mencabut baterai di dalam tubuhnya. Di ekor mataku, aku bisa melihat Sharley siap membidik.
"Jangan!" Pekikku. Terlambat lagi, Sharley sudah melepaskan satu anak panah untuk menusuk mata sang Drakon, tapi makhluk ini cukup pandai. Sehingga dia memutar badannya, dan anak panah itu sukses menancap di betisku.
"SEHUN!" Jerit Sharley.
Peganganku terlepas lalu aku terjatuh cukup keras menghantam tanah, mengerang kesakitan. Drakon itu mendekat perlahan, membuka mulutnya selebar mungkin. Aku memberanikan diri melihat kondisi betisku, darah mengalir melalui daging yang terbuka, panah itu menancap sangat dalam. Mataku berkunang-kunang dan aku merasakan sakit yang teramat sangat.
Dengan kesadaran yang sedikit, aku bisa melihat Sharley mendekat, tapi Drakon itu tidak mengizinkan sehingga Sharley terpental beberapa meter setelah di tabrak ekor Drakon seukuran pohon kelapa. Dia terjatuh di hadapan Tao, dan mereka bertarung.
Aku mencabut anak panah itu dan berteriak kesakitan, membuat si Drakon meraung seakan aku telah menantangnya.
Kai muncul di sampingku lalu merangkulku dan kami berpindah tempat hingga jauh dari jangkauan Drakon.
"Bung, kau terluka parah banget." Katanya.
Aku mengerlingkan mata jengkel, "Oh ya, betul. Aku baru tahu kalau aku terluka, malangnya."
Kai terengah-engah, "Jangan bersarkasme, Bego! Aku tidak kuat untuk berteleportasi lagi nih. Bagaimana?"
"Aku bahkan tidak bisa menghunus pedang." Tukasku. "Marahlah, Kai. Mungkin ini saatnya kutukan itu menjadi berguna."
Kai tampak berpikir, "Demi Hades! Itu bakal melelahkan." Keluhnya. "Cowok itu kuat sekali, minta ampun! Energi nya tidak habis-habis."
Aku memandang sang Drakon yang tengah mencari keberadaanku dan Sharley yang sedang kesulitan mengatasi Tao, aku mencoba berdiri.
"Tenggelamkan dia, Kai." Titahku. Dia memandangku seolah aku sedang bercanda.
"Kalau dia bisa berenang?" Tanya Kai.
Aku mendengus sebal, "Jatuh dari ketinggian sepuluh meter bakalan mampus." Kataku. "Ya sudah, aku urusi Tao, kau ambil Drakon. Aku muak jatuh terus."
Kai mengangguk setuju, berlari untuk menantang Drakon. Aku mendekati Sharley dan menyuruhnya membantu Kai, dia terlihat khawatir tapi aku berusaha untuk tampak baik-baik saja.
Tao menyeringai, "Wah, ada yang sok kuat disini." Katanya. Dia berusaha untuk menghentikan waktu, aku bisa merasakannya ketika denyut nadiku melambat. Tapi aku tahu kalau dia sudah kelelahan, waktu tidak berhenti.
Lalu aku balas menyeringai, "Kurasa mesin waktu milik doraemon lebih ampuh ya?" 
Dia menggeram, mencoba menusukku dengan tombaknya yang sepanjang dua meter. Aku menghindar, lalu dia memutar-mutar tombaknya pakai jurus wushu lagi. Mata tombaknya hampir mengenai dadaku kalau saja aku tidak berguling, dan tidak menghiraukan rasa sakit yang memanas di betis. Gagang tombaknya menghantam tulang belikatku, aku tergeletak di tanah. Tao menginjak dadaku, menekan kakinya semakin kuat menghimpit saluran pernapasanku.
"Suatu hal yang paling sulit adalah membalaskan dendam pada ayahmu, tapi, karena namanya balas dendam, kurasa tidak masalah jika aku melampiaskan pada keturunannya." Katanya.
"Kau—kau kah yang ada dalam ramalan?" Tanyaku.
Dia tertawa, "Aku tidak sudi menjadi subjek dalam ramalan tolol Apollo."
Tao menghentak-hentakkan kakinya di atas dadaku. Aku memekik tertahan, kupegang erat pergelangan kakinya.
Dia berjengit, "Kurang ajar! Menyentrum kakiku dengan listrik." Pekiknya.
Dengan segera aku bangkit dan membacok paha kirinya, dia jatuh terduduk sambil menyumpahiku. Betisku hampir tidak berbentuk lagi, aku hampir menangis kalau tidak punya rasa gengsi lagi.
"Kau seharusnya tidak pernah lahir. Kronos atau bangsa titan tidak boleh memiliki anak manusia." Kataku.
Tao terkekeh-kekeh, "Kau juga sama, dungu. Anaknya, si Zeus itu tidak boleh punya anak lagi, ya kan? Tapi mereka sama-sama melanggar peraturan itu. Buah tidak jatuh dari pohonnya, dan tidak ada yang mustahil di dunia ini, Bung."
Aku mendengus sebal, "Penjelasan yang menyenangkan sekali, Paman." Kataku. "Aku terpaksa harus memiliki paman yang menjijikkan." Lanjutku.
Dia menumbuk rahang kananku dengan gagang tombaknya, saraf-saraf di sekitar tulang pipiku sepertinya terputus dan aku pusing bukan main.
Aku meliriknya tajam, "Paman sensitif banget sih."
"Jangan panggil aku paman!" Bentak Tao. "Makhluk abadi tidak punya DNA, persetan dengan keluarga!"
Aku meludah di depannya lalu menghunus pedang, dia menghalau mata pedangku dengan mata tombaknya. Bunyi berdenting terdengar ketika bilah pedangku dengan tombaknya beradu, aku mengerahkan seluruh berat badanku, memutar badanku lalu tombak Tao pun terjatuh. Aku menebas lengan kanannya membuat luka sabetan yang lumayan parah, dia bergerak cepat mengambil tombaknya.
Mata tombaknya berada tepat di depan hidungku, dia menodongku semakin lama semakin dekat dengan air terjun yang curam. Sialnya, aku terpeleset dan jatuh terlentang di sisi sungai karena terlalu lemah untuk menopang tubuhku sendiri. Kepalaku terkena cipratan air yang dingin.
"Ada kata-kata terakhir?" Tanyanya sambil menyeringai.
Di belakang Tao, aku bisa melihat Kai berjalan terpincang-pincang sambil mengeluarkan emosinya.
Aku tersenyum kecil, "Semoga kau selamat."
Tao terlihat heran, "Kenapa aku?"
Aku berdiri tegak ketika mata tombak milik Tao sudah berpindah posisi. Lalu melakukan gerakan yang tadi dan menyebabkan tombak Tao terlempar beberapa meter.
Kai berdiri di sampingku dan berteriak,
"Aku membencimu." Satu gundukan emas menutupi kaki Tao.
"Membenci ayahmu." Gundukan perak melilit pergelangan kakinya.
"Kuharap kau mati cepat dan dihukum untuk mengangkut batu-batu sebesar makhluk buruk rupa yang di belakang itu! Sehun, ayo minta doa juga supaya yang tadi terkabulkan! Dan oh tidak, Kronos adalah kakekku juga, dia adalah ayah Hades, Zeus, dan Poseidon jadi kau pamanku ya? Hah, paman macam apa memperlakukan keponakannya seperti ini? Oh ya ampun, orang seperti mu tidak boleh ada di dunia."
Aku melongo mendengar luapan emosinya yang kelewat berlebihan, dalam waktu singkat, Tao sudah terbenam dalam gundukan logam-logam mulia.
Kai nyengir bangga ke arahku, sambil terengah-engah, "Aku hebat juga ya. Seharusnya aku masuk lomba debat ala presiden."
"Aku baru tahu kau bisa ngomong sebanyak itu, biasanya kau hemat." Timpalku.
Tiba-tiba gundukan logam mulia itu bergetar, aku melangkah ke samping dengan perlahan, seketika Tao keluar dan memegang kedua pundak Kai. Mereka melayang ke arah air terjun dan terjatuh ke dalam air. Aku sontak merasa baru ditinju.
"KAI, TELEPORTASI! PIKIRANMU!" Jeritku panik. Kai berusaha berenang ke tepi sungai, aku menolongnya dengan membuat pusaran angin agar air di sekitarnya menjauh. Tapi Tao menekan kepala Kai hingga kembali ke dalam.
Kepala Kai kembali menyembul ke permukaan air, aku berusaha menariknya tapi dia menggeleng. "Tidak—"
"KAI! JANGAN BODOH!" Pekikku.
Kepalanya kembali masuk ke dalam air, lalu keluar lagi. "Vial milikku—" Perkataannya terpotong karena dia terbawa arus, sekitar dua meter dia muncul lagi.
"Membantuku!" Serunya.
Aku tidak bisa berpikir jernih ketika Kai terbawa arus ke air terjun, dan dia jatuh.
"SEHUN!"
Aku menoleh ke arah Sharley yang susah payah melawan Drakon, bodohnya aku telah melupakan dia! Aku berlari mendekat ke arah Sharley.
"Demi Zeus!" Seruku. Aku membantunya berdiri dan berlari menghindari jangkauan Drakon.
"Kai—dia terjatuh ke bawah, aku bodoh banget!" Keluhku.
Sharley memindahkan tumpuan kaki kirinya ke belakang, "Kurasa aku bisa menolongnya. Aku tahu bagaimana caranya tapi—"
"Kau tidak boleh menolongnya. Aku tidak bisa membiarkanmu mati. Kaburlah selagi bisa." Kataku.
Dia melotot, memajukan wajahnya ke wajahku, "Ini misiku, Tuan. Aku harus bisa menuntaskannya sampai selesai, hidup ataupun mati. Mengerti?"
Drakon itu membakar sebagian pohon-pohon di sekitar sini, menyebabkan asap yang membubung tinggi ke langit. Para peri pohon menghilang satu persatu bagaikan kabut seiring dengan hangusnya pohon mereka.
Aku mendesah sedih, "Lalu kenapa masih ragu?" Tanyaku.
Sharley menurunkan pundaknya, menatapku cemas, "—tapi Sehun, Aphrodite menyuruhku untuk terus melindungimu, aku tidak bisa meninggalkanmu. Walaupun aku tahu cara menyelamatkan dia! Aphrodite bilang kau akan mati jika aku tidak melindungimu. Aku—aku tidak bisa membiarkan itu terjadi."
Aku merasa ragu-ragu, aku tidak mau membiarkan salah satu teman terbaikku juga jatuh menjemput ajal, walau masih ada peluang untuk hidup.
"Jangan pernah ikuti kata Aphrodite, Shar. Dia menyesatkan banyak pahlawan, aku tahu ini berat, tapi hanya ini satu-satunya rencana untuk menyelesaikan misi." Tukasku.
Dia tersenyum, "Kau jadi bijaksana ya, Anak Manja. Tetaplah berhati-hati. Kita bertemu lagi nanti." Katanya.
Sharley menyiagakan busurnya, aku menatap dia dengan sendu. Berusaha menyingkirkan pikiran kalau hari ini adalah yang terakhir aku bisa melihat wajahnya.
"Berjanjilah untuk tetap baik-baik saja." Ujarku.
Dia mengangguk, "Kau juga. Aku akan segera kembali dan membantumu." Sharley tersenyum manis, dan mendekat ke arahku. Dia mengecup pipiku lalu berlari menuju tebing curam dan menuruninya. Lalu dia menghilang ketika melompat ke sungai di bawah air terjun.
Aku berusaha untuk mengembalikan pikiranku lagi setelah yang Sharley lakukan padaku.
"Nah, tinggal kau dan aku ya." Kataku pada si Drakon yang rupanya membiarkan aku menyusun rencana dengan mencari mainan baru yaitu membakar ini-itu. Baik sekali kan.
Aku menaiki punggungnya dan memanjat ke atas, sisik-sisiknya yang tajam terkadang mengoyak kulitku. Aku berusaha untuk tidak menghiraukan rasa sakit di sekujur tubuhku. Dan bahkan aku merasa kalau betisku sudah tidak ada.
Aku menusuk-nusuk kepalanya dengan pedang, tapi itu hanya membuatnya makin marah dan makin kencang menggoyang-goyangkan badannya agar aku terjatuh.
"Diam, Nak." Perintahku.
Aku melompat turun dan berlari mengelilinginya, mencari titik kelemahan agar aku bisa membunuh rajanya para naga ini. Badannya sudah dipenuhi luka sabetan dan panah tapi tampaknya itu tidak berpengaruh banyak pada sang Drakon.
"Kau tahu, Bung? Kurasa terlalu kuat itu tidak bagus juga, nanti kau nggak punya teman." Kataku.
Drakon itu menyemburkan napas apinya yang lebih dashyat dari Cacus, aku melompat kesana-kemari karena menambah penderitaanku dengan luka bakar bukan pilihan yang bagus.
Badanku merah semua, karena darah yang mengalir dan juga panas tubuh yang lebih dari empat puluh derajat celcius.
Aku menyabet kakinya bertubi-tubi, Drakon itu menghentakkan kedua kakinya membuat tanah bergetar. Aku jatuh dengan bokong mendarat duluan. Aku sudah kelelahan setengah mati, kekurangan darah dan kesusahan bernapas karena asap yang mengotori paru-paru.
Ketika mataku hampir tertutup, aku melihat sebuah kereta perang mendarat di dekat air terjun. Tiga pemuda melompat keluar, aku segera berdiri dan berjalan terhuyung-huyung.
"SEHUN!" Aku bisa mendengar mereka memanggilku dan berlari mendekat.
"Di immortales." Kata pemuda yang pendek dengan kulit seputih kertas sambil memegang kedua pundakku. "Kenapa kau jadi separah ini?"
"OH YA AMPUN! DRAKOOOOON!" Jerit yang satunya dengan heboh.
"Ini bakalan jadi makan malamku." Timpal yang paling tinggi.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku agar bisa melihat mereka dengan jelas.
"Suho?" Kataku.
Dia menatapku khawatir dan menggangguk, "Kau baik-baik saja?" Tanyanya. "Biar mereka tangani Drakon ini."
Suho menggiringku ke arah sungai dan menyuruhku duduk. Aku melihat dua pemuda yang ikut bersama Suho menghadang Drakon dengan berani. Pemuda yang tinggi dengan rambut pirang yang berkibar tersibak angin itu mengacungkan tombaknya dengan gagah sedangkan yang satunya menggunakan sabuk perkakas di pinggangnya, berambut coklat yang tegak tidak gentar oleh angin itu memukulkan palunya ke buntut Drakon. Mereka adalah anak Ares dan anak Hephaestus. Kris dan Chanyeol.
Suho masuk ke dalam air, "Mana Kai dan Sharley?"
"Mereka—mereka hanyut terbawa arus. Berusaha membunuh anak Kronos." Jawabku.
"Anak Kronos? Seorang Titan?" Tanyanya, suaranya terdengar gusar.
Aku menggeleng, "Bukan. Setengah manusia setengah titan, aku nggak tahu harus menyebutnya apa." 
"Baiklah, diam sebentar ya. Dan coba lihat ini." Katanya.
Suho menggenggam tanganku, lalu air mengalir naik ke sekujur tubuhku, membasuh semua lukaku. Dengan ajaib, semua lukaku tertutup dan aku terlihat sangat baik-baik saja.
"Wow." Gumamku. "Keren banget."
Dia mengendikkan bahu, "Kekuatan Poseidon. Air adalah temanku, Bung."
"Kalau begitu, apakah kau bisa tahu keadaan Kai dan Sharley? Mereka kan di dalam air." Tukasku.
Suho tampak berpikir lalu berenang ke dalam sungai, sekitar dua menit, dia kembali lagi.
"Masih hidup," katanya. "Mereka bernapas di dalam air."
Aku mendesah lega, "Vial itu. Membantu mereka. Benar."
Suho naik ke darat, dan duduk di sampingku. Dia tidak basah sama sekali, mungkin air merasa hina jika berani menyentuhnya karena dia anak Poseidon? Keren banget.
Kami berdua beranjak dari tanah dan mendekat ke arah Kris dan Chanyeol yang sedang menangani Drakon, mereka tidak terluka sama sekali justru mereka ketawa-ketiwi ketika si Drakon meraung marah.
"Apa mereka gila?" Tanyaku.
Suho terkekeh, "Sudah lama sekali sejak mereka melawan monster sebesar ini, hasrat membunuh mereka sangat tinggi. Drakon adalah hiburan mereka."
"Iya, mereka gila." Balasku.
Suho berjingkrak-jingkrak ketika Chanyeol mengeluarkan api dari tangannya, seakan dia tidak pernah melihat api sebelumnya. Aku memandang Suho dengan tatapan tidak percaya, grup ini benar-benar gila.
Kris memanjat kepala Drakon dengan mudah, dia menyeringai tombaknya yang akan menyayat habis muka si Drakon. Lalu dengan satu kali gerakan dia menancapkan tombaknya di mata Drakon. Drakon itu melolong dan ambruk seketika, Kris melompat turun dan mengajak Chanyeol tos.
"Woah, yang tadi itu benar-benar asyik." Kata Chanyeol.
Kris mengendikkan bahu, "Dan sangat gampang."
"Tentu saja, Drakon hanya bisa dibunuh oleh anak Ares." Sambungku.
Kris mendelik sebal ke arahku, "Wah, anak Zeus tidak tahu terima kasih nih."
"Makasih." Balasku cepat.
Chanyeol nyengir, "Kau lihat apiku tadi nggak? Keren banget nggak sih haha."
"Banget! Wow, kurasa kau akan jadi musuhku, Yeol." Kata Suho.
Aku memandang mereka bergantian, "Omong-omong, bagaimana kalian bisa disini?"
Kris mendengus sebal, "Apa yang harus dilakukan demigods di luar Camp Half Blood selain menjalankan misi, Suhyun?"
"Sehun." Kataku. "Misi apa?"
"Rahasia." Jawabnya. "Aku harap kau bisa membawa kembali Hestia untuk menjaga perkemahan, bahaya tidak mau menunggu." Jelas Suho.
Aku mengangguk, Chanyeol menaruh tangannya di pundakku dan mengedipkan matanya. "Kau putra Zeus, kau pasti bisa! Doakan kami juga ya."
Aku nyengir, "Sip!"
Kris dan Chanyeol menaiki kereta perangnya yang berwarna coklat gelap dengan berbagai senjata yang mematikan. Suho masih berada di sampingku.
"Di balik air terjun." Katanya.
Aku menatapnya bingung, "Apanya?"
"Yang sedang kau cari, Bodoh. Masuk lah dengan perlahan, aku sudah memerintahkan naiad—peri air—untuk mengizinkanmu masuk." Jawab Suho.
Aku mendesah lega, "Terima kasih, Sobat! Kau benar-benar memperlancar ini semua."
Suho mengedipkan matanya dan melesat naik ke kereta perang.
"Semoga kau mati, Sungha!" Jerit Kris saat mereka lepas landas.
Aku tertawa, "Sehun, dasar Bodoh."
Keheningan malam kembali menyelimuti keadaan di sekitarku, hanya ada suara percikan api dan bangkai Drakon yang menemaniku.
Aku memungut pedangku dan Aegis, ranselku sudah hilang sedangkan bajuku sudah tidak layak dipakai. Vial pemberian Dewi Hecate masih berada di kantong celanaku.
Lalu dengan langkah yang diperhatikan, aku menuruni tebing yang curam untuk mencapai dasar air terjun. Aku memasuki dinginnya air, dan melangkah dengan hati-hati. Tiba-tiba seorang wanita cantik melihatku dari dalam air. Seorang peri air.
Dia berenang ke arah air terjun dan menggerakkan tangannya, lalu air terjun itu terbuka lebar. Menampakkan gua yang gelap dan mengerikan. Naiad itu tersenyum ke arahku dan mengisyaratkan untuk segera masuk.
"Makasih." Kataku. Aku berjalan memasuki gua dan air terjun di belakangku tertutup, mengalir seperti biasa.
Aku berjalan semakin dalam ke gua yang lembab dan licin ini, memegangi dinding gua yang kasar.
Di hadapanku ada sebuah kotak yang sangat besar dengan kabel-kabel yang melilitnya dengan lampu-lampu yang padam, di sampingnya ada lima tabung dengan cahaya kemerahan berpendar di dalamnya. Aku melangkah mendekat, mencoba melihat apa yang ada di dalam kotak itu.
Aku berjengit ketika melihat seorang wanita cantik, dibelenggu dengan rantai. Terpejam dan menghela napas pelan sekali, mukanya pucat dan kulitnya keriput.
"Halo?" Kataku.
Wanita itu membelakkan matanya, lalu dengan cepat dia tersenyum. Aku langsung merasa hangat dan berpikir semuanya akan baik-baik saja.
"Oh Sehun." Katanya. "Aku tahu kau pasti berhasil."
Aku bergeming, tetap menatap mata coklatnya yang membara.
"Anda adalah...."

Dia tersenyum lemah, "Hestia, Sang Dewi Perapian."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar