Main Casts : Sehun, Kai and Sharley (all of exo's members are including too)
Genre : Greek Mythology, Action, Thriller (not-really-but-i-love-to-added-it-so-yeah)
Author : Alzeya
Assalammualaikum (special ramadhan guys)
it had been a long time right huhu maaf ya bagi yang selalu nungguin fanfiction ini. Masalahnya, selain sibuk sekolah, file nya hilang. FILENYA HILANG. sengaja diulang biar greget. Dan terpaksa bikin lagi, it was really exhausted man. Maaf kalau ceritanya makin gak jelas dan alurnya bukan maju, mundur atau campuran tapi berantakan.
Sehun P.O.V
Aku melirik tajam ketika dia mendekatkan
wajahnya. Napasnya sedingin es menyapu kedua pipiku.
Dia menyeringai, "Hanya dengan menculik
satu dewi, aku berhasil membuat Apollo mengeluarkan kartu As nya. Lihatlah,
anaknya yang paling diemaskan, putra Hades dengan kutukannya yang mematikan dan
kau!" Dia menunjuk tepat di depan hidungku.
"Putra Zeus dan pewaris kekuatannya!
Tapi ternyata kalian terlihat seperti pecundang." Katanya. Dia tertawa
licik, dan berjalan mengitari kami bertiga.
"Kenapa kau menculik dewi kami,
bodoh?" Tanyaku, masih dengan posisi yang sama.
"Untuk menyembuhkan seseorang.
Kekuatan dewi lah yang bisa membuat dia seperti sedia kala. Aku bisa
memanfaatkannya jika dia sudah sembuh." Jelasnya
Aku menggeram marah, memutar otak untuk
mengalihkan perhatiannya. Lalu aku memusatkan pikiran untuk mendatangkan
sambaran petir.
Duar
Petir menyambar tepat di belakang sang putra
Kronos, dia terperanjat dan secara reflek menoleh ke balik punggungnya. Aku
mengerahkan seluruh tenaga lalu menumbuk udara di depanku.
Aku tahu mengenai kekuatan penghentian
waktu, udara adalah kaca, karena ketika waktu berhenti kau berada dalam dimensi
yang lain. Kaca membuatmu tidak bisa bergerak, dan aku baru saja menumbuk kaca.
Aku bergerak normal berusaha menghunus pedangku dengan tangan yang bercucuran
darah segar. Lalu menebas udara di hadapan Kai dan Sharley.
Tao berusaha menghentikan waktu lagi tapi
aku menebas udara di hadapanku. Kaca bertebaran kemana-mana, beberapa ada yang
menancap di kulitku dan menyebabkan sakit yang menggigit.
Kai mencoba membuyarkan konsentrasi Tao,
bongkahan berlian dan emas menyembul dari dalam tanah sehingga membuat Tao
tersungkur beberapa kali. Sedangkan Sharley bernyanyi, suaranya memiliki
kekuatan untuk menjerat seseorang menjadi lemah, aku hampir saja tergoda untuk
duduk bersantai dan mendengarkan nyanyiannya.
Aku menatap garang ke arah Tao, matanya
berkilat-kilat marah. Seketika langit berubah menjadi kemerahan, tanah
bergetar, dan aku merasakan sesuatu yang besar mendekat.
Tao meringsut maju perlahan sambil menyeka
darah di sudut bibirnya, "Matilah kalian!"
Makhluk besar itu datang, dengan tinggi
sekitar enam meter dan badan bersisik seperti naga tapi dia bukan spesies
seperti itu. Lebih besar barangkali?
"Drakon." Gumam Sharley.
"Kudengar cuman anak Ares yang bisa membunuhnya."
Aku mendesah, "Aku jadi kangen si
tiang yang selalu salah sebut nama itu—Kris."
Makhluk itu menghembuskan napas apinya, aku
sontak mundur perlahan.
Kai berbisik di telingaku,
"Teleportasiku sudah bekerja. Aku ambil Tao, kekuatannya tidak ampuh
padaku." Katanya. "Urus si makhluk buruk rupa ini."
Aku mengangguk sepakat,
"Hati-hati."
Dia berlari menyerang Tao, aku memandang
Sharley dan mengangguk. Rupanya kata buruk rupa tadi telah melukai hati si
Drakon, dia meraung marah dan menghentakkan kakinya kemana-mana. Aku harus
berguling untuk menghidari cakaran beracun nan mematikan itu.
"Aku akan alihkan perhatiannya. Kau harus incar matanya, hanya itu titik
kelemahannya." Titahku pada Sharley. Cewek itu
sudah kelelahan setengah mati, ditambah pundaknya yang retak tapi dia tetap
berlari untuk bersiap memanah mata Drakon.
Sekarang aku berhadapan dengan makhluk buas
setinggi rumahku sambil berusaha memikat perhatiannya. Menghunus pedang dan
menyiagakan Aegis, aku tidak bisa menggunakan sayap lagi.
"Halo, Tuan Drakon. Malam yang indah
ya, sayang sekali sepertinya ini malam terakhirmu." Kataku. Saat
mengatakan malam terakhirmu dia mencoba menerkamku, saat kepalanya turun, aku
melompat ke atasnya dan berpegangan pada celah-celah sisiknya. Aegis terlempar
ke bawah, aku mengumpat sambil berusaha mencapai wajah Drakon. Sang Drakon
menggoyang-goyangkan kepalanya, aku merasa kalau lambungku jadi berbentuk
absurd. Tiba-tiba Drakon ini diam seakan seseorang baru mencabut baterai di
dalam tubuhnya. Di ekor mataku, aku bisa melihat Sharley siap membidik.
"Jangan!" Pekikku. Terlambat
lagi, Sharley sudah melepaskan satu anak panah untuk menusuk mata sang Drakon,
tapi makhluk ini cukup pandai. Sehingga dia memutar badannya, dan anak panah
itu sukses menancap di betisku.
"SEHUN!" Jerit Sharley.
Peganganku terlepas lalu aku terjatuh cukup
keras menghantam tanah, mengerang kesakitan. Drakon itu mendekat perlahan,
membuka mulutnya selebar mungkin. Aku memberanikan diri melihat kondisi
betisku, darah mengalir melalui daging yang terbuka, panah itu menancap sangat
dalam. Mataku berkunang-kunang dan aku merasakan sakit yang teramat sangat.
Dengan kesadaran yang sedikit, aku bisa
melihat Sharley mendekat, tapi Drakon itu tidak mengizinkan sehingga Sharley
terpental beberapa meter setelah di tabrak ekor Drakon seukuran pohon kelapa.
Dia terjatuh di hadapan Tao, dan mereka bertarung.
Aku mencabut anak panah itu dan berteriak
kesakitan, membuat si Drakon meraung seakan aku telah menantangnya.
Kai muncul di sampingku lalu merangkulku
dan kami berpindah tempat hingga jauh dari jangkauan Drakon.
"Bung, kau terluka parah banget."
Katanya.
Aku mengerlingkan mata jengkel, "Oh
ya, betul. Aku baru tahu kalau aku terluka, malangnya."
Kai terengah-engah, "Jangan
bersarkasme, Bego! Aku tidak kuat untuk berteleportasi lagi nih.
Bagaimana?"
"Aku bahkan tidak bisa menghunus
pedang." Tukasku. "Marahlah, Kai. Mungkin ini saatnya kutukan itu
menjadi berguna."
Kai tampak berpikir, "Demi Hades! Itu
bakal melelahkan." Keluhnya. "Cowok itu kuat sekali, minta ampun!
Energi nya tidak habis-habis."
Aku memandang sang Drakon yang tengah
mencari keberadaanku dan Sharley yang sedang kesulitan mengatasi Tao, aku
mencoba berdiri.
"Tenggelamkan dia, Kai." Titahku.
Dia memandangku seolah aku sedang bercanda.
"Kalau dia bisa berenang?" Tanya
Kai.
Aku mendengus sebal, "Jatuh dari
ketinggian sepuluh meter bakalan mampus." Kataku. "Ya sudah, aku
urusi Tao, kau ambil Drakon. Aku muak jatuh terus."
Kai mengangguk setuju, berlari untuk
menantang Drakon. Aku mendekati Sharley dan menyuruhnya membantu Kai, dia
terlihat khawatir tapi aku berusaha untuk tampak baik-baik saja.
Tao menyeringai, "Wah, ada yang sok kuat disini." Katanya. Dia berusaha untuk menghentikan waktu, aku bisa
merasakannya ketika denyut nadiku melambat. Tapi aku tahu kalau dia sudah
kelelahan, waktu tidak berhenti.
Lalu aku balas menyeringai, "Kurasa
mesin waktu milik doraemon lebih ampuh ya?"
Dia menggeram, mencoba menusukku dengan
tombaknya yang sepanjang dua meter. Aku menghindar, lalu dia memutar-mutar
tombaknya pakai jurus wushu lagi. Mata tombaknya hampir mengenai dadaku kalau
saja aku tidak berguling, dan tidak menghiraukan rasa sakit yang memanas di
betis. Gagang tombaknya menghantam tulang belikatku, aku tergeletak di tanah.
Tao menginjak dadaku, menekan kakinya semakin kuat menghimpit saluran
pernapasanku.
"Suatu hal yang paling sulit adalah
membalaskan dendam pada ayahmu, tapi, karena namanya balas dendam, kurasa tidak
masalah jika aku melampiaskan pada keturunannya." Katanya.
"Kau—kau kah yang ada dalam
ramalan?" Tanyaku.
Dia tertawa, "Aku tidak sudi menjadi
subjek dalam ramalan tolol Apollo."
Tao menghentak-hentakkan kakinya di atas
dadaku. Aku memekik tertahan, kupegang erat pergelangan kakinya.
Dia berjengit, "Kurang ajar!
Menyentrum kakiku dengan listrik." Pekiknya.
Dengan segera aku bangkit dan membacok paha
kirinya, dia jatuh terduduk sambil menyumpahiku. Betisku hampir tidak berbentuk
lagi, aku hampir menangis kalau tidak punya rasa gengsi lagi.
"Kau seharusnya tidak pernah lahir.
Kronos atau bangsa titan tidak boleh memiliki anak manusia." Kataku.
Tao terkekeh-kekeh, "Kau juga sama,
dungu. Anaknya, si Zeus itu tidak boleh punya anak lagi, ya kan? Tapi mereka
sama-sama melanggar peraturan itu. Buah tidak jatuh dari pohonnya, dan tidak
ada yang mustahil di dunia ini, Bung."
Aku mendengus sebal, "Penjelasan yang
menyenangkan sekali, Paman." Kataku. "Aku terpaksa harus memiliki
paman yang menjijikkan." Lanjutku.
Dia menumbuk rahang kananku dengan gagang
tombaknya, saraf-saraf di sekitar tulang pipiku sepertinya terputus dan aku
pusing bukan main.
Aku meliriknya tajam, "Paman sensitif
banget sih."
"Jangan panggil aku paman!"
Bentak Tao. "Makhluk abadi tidak punya DNA, persetan dengan
keluarga!"
Aku meludah di depannya lalu menghunus
pedang, dia menghalau mata pedangku dengan mata tombaknya. Bunyi berdenting
terdengar ketika bilah pedangku dengan tombaknya beradu, aku mengerahkan
seluruh berat badanku, memutar badanku lalu tombak Tao pun terjatuh. Aku
menebas lengan kanannya membuat luka sabetan yang lumayan parah, dia bergerak
cepat mengambil tombaknya.
Mata tombaknya berada tepat di depan
hidungku, dia menodongku semakin lama semakin dekat dengan air terjun yang
curam. Sialnya, aku terpeleset dan jatuh terlentang di sisi sungai karena
terlalu lemah untuk menopang tubuhku sendiri. Kepalaku terkena cipratan air
yang dingin.
"Ada kata-kata terakhir?"
Tanyanya sambil menyeringai.
Di belakang Tao, aku bisa melihat Kai
berjalan terpincang-pincang sambil mengeluarkan emosinya.
Aku tersenyum kecil, "Semoga kau
selamat."
Tao terlihat heran, "Kenapa aku?"
Aku berdiri tegak ketika mata tombak milik
Tao sudah berpindah posisi. Lalu melakukan gerakan yang tadi dan menyebabkan
tombak Tao terlempar beberapa meter.
Kai berdiri di sampingku dan berteriak,
"Aku membencimu." Satu gundukan
emas menutupi kaki Tao.
"Membenci ayahmu." Gundukan perak
melilit pergelangan kakinya.
"Kuharap kau mati cepat dan dihukum
untuk mengangkut batu-batu sebesar makhluk buruk rupa yang di belakang itu!
Sehun, ayo minta doa juga supaya yang tadi terkabulkan! Dan oh tidak, Kronos
adalah kakekku juga, dia adalah ayah Hades, Zeus, dan Poseidon jadi kau pamanku
ya? Hah, paman macam apa memperlakukan keponakannya seperti ini? Oh ya ampun,
orang seperti mu tidak boleh ada di dunia."
Aku melongo mendengar luapan emosinya yang
kelewat berlebihan, dalam waktu singkat, Tao sudah terbenam dalam gundukan
logam-logam mulia.
Kai nyengir bangga ke arahku, sambil
terengah-engah, "Aku hebat juga ya. Seharusnya aku masuk lomba debat ala
presiden."
"Aku baru tahu kau bisa ngomong
sebanyak itu, biasanya kau hemat." Timpalku.
Tiba-tiba gundukan logam mulia itu
bergetar, aku melangkah ke samping dengan perlahan, seketika Tao keluar dan
memegang kedua pundak Kai. Mereka melayang ke arah air terjun dan terjatuh ke
dalam air. Aku sontak merasa baru ditinju.
"KAI, TELEPORTASI! PIKIRANMU!"
Jeritku panik. Kai berusaha berenang ke tepi sungai, aku menolongnya dengan
membuat pusaran angin agar air di sekitarnya menjauh. Tapi Tao menekan kepala
Kai hingga kembali ke dalam.
Kepala Kai kembali menyembul ke permukaan
air, aku berusaha menariknya tapi dia menggeleng. "Tidak—"
"KAI! JANGAN BODOH!" Pekikku.
Kepalanya kembali masuk ke dalam air, lalu
keluar lagi. "Vial milikku—" Perkataannya terpotong karena dia
terbawa arus, sekitar dua meter dia muncul lagi.
"Membantuku!" Serunya.
Aku tidak bisa berpikir jernih ketika Kai
terbawa arus ke air terjun, dan dia jatuh.
"SEHUN!"
Aku menoleh ke arah Sharley yang susah
payah melawan Drakon, bodohnya aku telah melupakan dia! Aku berlari mendekat ke
arah Sharley.
"Demi Zeus!" Seruku. Aku
membantunya berdiri dan berlari menghindari jangkauan Drakon.
"Kai—dia terjatuh ke bawah, aku bodoh
banget!" Keluhku.
Sharley memindahkan tumpuan kaki kirinya ke
belakang, "Kurasa aku bisa menolongnya. Aku tahu bagaimana caranya
tapi—"
"Kau tidak boleh menolongnya. Aku
tidak bisa membiarkanmu mati. Kaburlah selagi bisa." Kataku.
Dia melotot, memajukan wajahnya ke wajahku,
"Ini misiku, Tuan. Aku harus bisa menuntaskannya sampai selesai, hidup
ataupun mati. Mengerti?"
Drakon itu membakar sebagian pohon-pohon di
sekitar sini, menyebabkan asap yang membubung tinggi ke langit. Para peri pohon
menghilang satu persatu bagaikan kabut seiring dengan hangusnya pohon mereka.
Aku mendesah sedih, "Lalu kenapa masih
ragu?" Tanyaku.
Sharley menurunkan pundaknya, menatapku
cemas, "—tapi Sehun, Aphrodite menyuruhku untuk terus melindungimu, aku
tidak bisa meninggalkanmu. Walaupun aku tahu cara menyelamatkan dia! Aphrodite
bilang kau akan mati jika aku tidak melindungimu. Aku—aku tidak bisa membiarkan
itu terjadi."
Aku merasa ragu-ragu, aku tidak mau
membiarkan salah satu teman terbaikku juga jatuh menjemput ajal, walau masih
ada peluang untuk hidup.
"Jangan pernah ikuti kata Aphrodite,
Shar. Dia menyesatkan banyak pahlawan, aku tahu ini berat, tapi hanya ini
satu-satunya rencana untuk menyelesaikan misi." Tukasku.
Dia tersenyum, "Kau jadi bijaksana ya,
Anak Manja. Tetaplah berhati-hati. Kita bertemu lagi nanti." Katanya.
Sharley menyiagakan busurnya, aku menatap
dia dengan sendu. Berusaha menyingkirkan pikiran kalau hari ini adalah yang
terakhir aku bisa melihat wajahnya.
"Berjanjilah untuk tetap baik-baik
saja." Ujarku.
Dia mengangguk, "Kau juga. Aku akan
segera kembali dan membantumu." Sharley tersenyum manis, dan mendekat ke
arahku. Dia mengecup pipiku lalu berlari menuju tebing curam dan menuruninya.
Lalu dia menghilang ketika melompat ke sungai di bawah air terjun.
Aku berusaha untuk mengembalikan pikiranku
lagi setelah yang Sharley lakukan padaku.
"Nah, tinggal kau dan aku ya."
Kataku pada si Drakon yang rupanya membiarkan aku menyusun rencana dengan
mencari mainan baru yaitu membakar ini-itu. Baik sekali kan.
Aku menaiki punggungnya dan memanjat ke
atas, sisik-sisiknya yang tajam terkadang mengoyak kulitku. Aku berusaha untuk
tidak menghiraukan rasa sakit di sekujur tubuhku. Dan bahkan aku merasa kalau
betisku sudah tidak ada.
Aku menusuk-nusuk kepalanya dengan pedang,
tapi itu hanya membuatnya makin marah dan makin kencang menggoyang-goyangkan
badannya agar aku terjatuh.
"Diam, Nak." Perintahku.
Aku melompat turun dan berlari
mengelilinginya, mencari titik kelemahan agar aku bisa membunuh rajanya para
naga ini. Badannya sudah dipenuhi luka sabetan dan panah tapi tampaknya itu
tidak berpengaruh banyak pada sang Drakon.
"Kau tahu, Bung? Kurasa terlalu kuat
itu tidak bagus juga, nanti kau nggak punya teman." Kataku.
Drakon itu menyemburkan napas apinya yang
lebih dashyat dari Cacus, aku melompat kesana-kemari karena menambah
penderitaanku dengan luka bakar bukan pilihan yang bagus.
Badanku merah semua, karena darah yang
mengalir dan juga panas tubuh yang lebih dari empat puluh derajat celcius.
Aku menyabet kakinya bertubi-tubi, Drakon
itu menghentakkan kedua kakinya membuat tanah bergetar. Aku jatuh dengan bokong
mendarat duluan. Aku sudah kelelahan setengah mati, kekurangan darah dan
kesusahan bernapas karena asap yang mengotori paru-paru.
Ketika mataku hampir tertutup, aku melihat
sebuah kereta perang mendarat di dekat air terjun. Tiga pemuda melompat keluar,
aku segera berdiri dan berjalan terhuyung-huyung.
"SEHUN!" Aku bisa mendengar
mereka memanggilku dan berlari mendekat.
"Di immortales." Kata pemuda yang
pendek dengan kulit seputih kertas sambil memegang kedua pundakku. "Kenapa
kau jadi separah ini?"
"OH YA AMPUN! DRAKOOOOON!" Jerit
yang satunya dengan heboh.
"Ini bakalan jadi makan malamku."
Timpal yang paling tinggi.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku agar bisa
melihat mereka dengan jelas.
"Suho?" Kataku.
Dia menatapku khawatir dan menggangguk,
"Kau baik-baik saja?" Tanyanya. "Biar mereka tangani Drakon
ini."
Suho menggiringku ke arah sungai dan
menyuruhku duduk. Aku melihat dua pemuda yang ikut bersama Suho menghadang
Drakon dengan berani. Pemuda yang tinggi dengan rambut pirang yang berkibar
tersibak angin itu mengacungkan tombaknya dengan gagah sedangkan yang satunya
menggunakan sabuk perkakas di pinggangnya, berambut coklat yang tegak tidak
gentar oleh angin itu memukulkan palunya ke buntut Drakon. Mereka adalah anak
Ares dan anak Hephaestus. Kris dan Chanyeol.
Suho masuk ke dalam air, "Mana Kai dan
Sharley?"
"Mereka—mereka hanyut terbawa arus.
Berusaha membunuh anak Kronos." Jawabku.
"Anak Kronos? Seorang Titan?"
Tanyanya, suaranya terdengar gusar.
Aku menggeleng, "Bukan. Setengah
manusia setengah titan, aku nggak tahu harus menyebutnya apa."
"Baiklah, diam sebentar ya. Dan coba
lihat ini." Katanya.
Suho menggenggam tanganku, lalu air
mengalir naik ke sekujur tubuhku, membasuh semua lukaku. Dengan ajaib, semua
lukaku tertutup dan aku terlihat sangat baik-baik saja.
"Wow." Gumamku. "Keren
banget."
Dia mengendikkan bahu, "Kekuatan
Poseidon. Air adalah temanku, Bung."
"Kalau begitu, apakah kau bisa tahu
keadaan Kai dan Sharley? Mereka kan di dalam air." Tukasku.
Suho tampak berpikir lalu berenang ke dalam
sungai, sekitar dua menit, dia kembali lagi.
"Masih hidup," katanya.
"Mereka bernapas di dalam air."
Aku mendesah lega, "Vial itu. Membantu
mereka. Benar."
Suho naik ke darat, dan duduk di sampingku.
Dia tidak basah sama sekali, mungkin air merasa hina jika berani menyentuhnya
karena dia anak Poseidon? Keren banget.
Kami berdua beranjak dari tanah dan
mendekat ke arah Kris dan Chanyeol yang sedang menangani Drakon, mereka tidak
terluka sama sekali justru mereka ketawa-ketiwi ketika si Drakon meraung marah.
"Apa mereka gila?" Tanyaku.
Suho terkekeh, "Sudah lama sekali
sejak mereka melawan monster sebesar ini, hasrat membunuh mereka sangat tinggi.
Drakon adalah hiburan mereka."
"Iya, mereka gila." Balasku.
Suho berjingkrak-jingkrak ketika Chanyeol
mengeluarkan api dari tangannya, seakan dia tidak pernah melihat api
sebelumnya. Aku memandang Suho dengan tatapan tidak percaya, grup ini
benar-benar gila.
Kris memanjat kepala Drakon dengan mudah,
dia menyeringai tombaknya yang akan menyayat habis muka si Drakon. Lalu dengan
satu kali gerakan dia menancapkan tombaknya di mata Drakon. Drakon itu melolong
dan ambruk seketika, Kris melompat turun dan mengajak Chanyeol tos.
"Woah, yang tadi itu benar-benar
asyik." Kata Chanyeol.
Kris mengendikkan bahu, "Dan sangat
gampang."
"Tentu saja, Drakon hanya bisa dibunuh
oleh anak Ares." Sambungku.
Kris mendelik sebal ke arahku, "Wah,
anak Zeus tidak tahu terima kasih nih."
"Makasih." Balasku cepat.
Chanyeol nyengir, "Kau lihat apiku
tadi nggak? Keren banget nggak sih haha."
"Banget! Wow, kurasa kau akan jadi
musuhku, Yeol." Kata Suho.
Aku memandang mereka bergantian,
"Omong-omong, bagaimana kalian bisa disini?"
Kris mendengus sebal, "Apa yang harus
dilakukan demigods di luar Camp Half Blood selain menjalankan misi,
Suhyun?"
"Sehun." Kataku. "Misi
apa?"
"Rahasia." Jawabnya. "Aku
harap kau bisa membawa kembali Hestia untuk menjaga perkemahan, bahaya tidak
mau menunggu." Jelas Suho.
Aku mengangguk, Chanyeol menaruh tangannya
di pundakku dan mengedipkan matanya. "Kau putra Zeus, kau pasti bisa!
Doakan kami juga ya."
Aku nyengir, "Sip!"
Kris dan Chanyeol menaiki kereta perangnya
yang berwarna coklat gelap dengan berbagai senjata yang mematikan. Suho masih
berada di sampingku.
"Di balik air terjun." Katanya.
Aku menatapnya bingung, "Apanya?"
"Yang sedang kau cari, Bodoh. Masuk
lah dengan perlahan, aku sudah memerintahkan naiad—peri air—untuk mengizinkanmu
masuk." Jawab Suho.
Aku mendesah lega, "Terima kasih,
Sobat! Kau benar-benar memperlancar ini semua."
Suho mengedipkan matanya dan melesat naik
ke kereta perang.
"Semoga kau mati, Sungha!" Jerit
Kris saat mereka lepas landas.
Aku tertawa, "Sehun, dasar
Bodoh."
Keheningan malam kembali menyelimuti
keadaan di sekitarku, hanya ada suara percikan api dan bangkai Drakon yang
menemaniku.
Aku memungut pedangku dan Aegis, ranselku
sudah hilang sedangkan bajuku sudah tidak layak dipakai. Vial pemberian Dewi
Hecate masih berada di kantong celanaku.
Lalu dengan langkah yang diperhatikan, aku
menuruni tebing yang curam untuk mencapai dasar air terjun. Aku memasuki
dinginnya air, dan melangkah dengan hati-hati. Tiba-tiba seorang wanita cantik
melihatku dari dalam air. Seorang peri air.
Dia berenang ke arah air terjun dan
menggerakkan tangannya, lalu air terjun itu terbuka lebar. Menampakkan gua yang
gelap dan mengerikan. Naiad itu tersenyum ke arahku dan mengisyaratkan untuk
segera masuk.
"Makasih." Kataku. Aku berjalan
memasuki gua dan air terjun di belakangku tertutup, mengalir seperti biasa.
Aku berjalan semakin dalam ke gua yang
lembab dan licin ini, memegangi dinding gua yang kasar.
Di hadapanku ada sebuah kotak yang sangat
besar dengan kabel-kabel yang melilitnya dengan lampu-lampu yang padam, di
sampingnya ada lima tabung dengan cahaya kemerahan berpendar di dalamnya. Aku
melangkah mendekat, mencoba melihat apa yang ada di dalam kotak itu.
Aku berjengit ketika melihat seorang wanita
cantik, dibelenggu dengan rantai. Terpejam dan menghela napas pelan sekali,
mukanya pucat dan kulitnya keriput.
"Halo?" Kataku.
Wanita itu membelakkan matanya, lalu dengan
cepat dia tersenyum. Aku langsung merasa hangat dan berpikir semuanya akan
baik-baik saja.
"Oh Sehun." Katanya. "Aku
tahu kau pasti berhasil."
Aku bergeming, tetap menatap mata coklatnya
yang membara.
"Anda adalah...."
Dia tersenyum lemah, "Hestia, Sang
Dewi Perapian."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar