Me!

YO WASSUP !

Holla! I'm Nabila Alya Ramadhina but you can call me by nickname, it's Alzeya! i just joined blog this year so actually i don't even know what people usually do in their own blog~ but i'm writing here and i hope you willing to read those hehe i'm 14yo and i'm an exofan. asking me over here www.ask.fm/growlseductively and follow me www.twitter.com/xeyeol thank you xoxo

Minggu, 02 Maret 2014

Oh Sehun and the Goddess of Hearth (chapter 6)



Title : Oh Sehun and the Goddess of Hearth (Oh Sehun dan sang Dewi Perapian

Main Casts : Sehun, Kai and Sharley (all of exo's members are including too)

Genre : Greek Mythology, Action, Thriller (not-really-but-i-love-to-added-it-so-yeah)

Author : Alzeya 

HIIII~
OMG!!! it had been a month since i uploaded the previous chapter, huhu you guys have been so bored to wait it right?! i'm sorry, its because i moved to another city in another island (so far from the place i used to be) so the new home, new school and other stuffs are making me stress so i forgot to post my fanfiction AND I ALMOST FORGET THAT I HAVE AN UNFINISH FF -_- and the last, this chapter is sharley's and this fanfiction is straight, not sekai nor hunhan though. i hope you understand the whole story! Enjoy~



Sharley P.O.V

Terkadang mengikuti saran temanmu yang paling bodoh bukan ide yang terburuk, seharusnya tadi aku menyetujui usulan Sehun untuk mencari orang yang lebih baik untuk dimintai bantuan. Daripada makan escargot bumbu pasta dengan brokoli yang membuat perut enggan mencerna makanan campuran yang aneh itu. Aku merasa mual dan mau pingsan. Kai terlihat sama, perutnya terus-terusan menolak lalu mendorong makanan itu kembali ke atas, dan dia buru-buru menutup mulutnya.

"Kau punya sesuatu untuk mengatasi mual ala ibu hamil, hm, barangkali permen?" Tanyanya.
Aku menggeleng lemas.

Tidak ada pilihan lain, aku terlalu lapar untuk menolak makanan dari Kleidouchos dan Prosphoros jadi aku mendesak perutku untuk menerima ini dan berjanji padanya  penderitaan ini akan berakhir.
Kleidouchos tidak mengerti kalau kami berdua menganggap makanan ini menjijikkan, dia senantiasa bertanya apakah kami mau tambah, tapi Kai menolak dengan halus sedangkan aku masih limbung. Tiba-tiba aku merasa khawatir pada Sehun, kira-kira apa yang akan Hecate lakukan padanya jika kedua wujud yang bukan Hecate seutuhnya ini sangat mengerikan.

"Kalian demigods yang sangat lucu, apa kalian mau tambah escargotnya?" Tanya Kleidouchos.

Prosphoros mendengus sebal, "Dasar bodoh! Kau terus melontarkan pertanyaan yang sama dan tidak berbobot. Mereka bilang tidak mau."

Kleidouchos mendesah sedih lalu membereskan piring-piring yang kotor, aku dan Kai saling pandang. Tatapan Kai mengatakan bahwa dia tidak bisa apa-apa, aku mendengus dan berdiri menghampiri Kleidouchos.

"Maafkan kami, Klei- hm Klei apa sih?. Pokoknya anda sangat baik membuatkan kami makanan yang mewah dalam porsi yang banyak, sayang sekali kami tidak bisa memakan semuanya. Maaf ya?" Kataku.
Aku memang bukan anak Aphrodite yang punya keindahan dalam suara mereka yang bisa membuat siapa aja merasa lebih baik, tapi anak Apollo tidak kalah kerennya.

Kleidouchos tersenyum lebar, "Betapa manisnya kau! Nah, panggil aku Kyle saja! Mari kita melihat-lihat."
Dia menuntunku menuju ruangan yang pertama kali aku datangi. Kyle menjelaskan bahwa vial-vial ini berisi cairan kekuatan yang bisa membuatmu melakukan apa saja, misalnya yang warna hijau untuk membuat mata yang buta menjadi kembali normal dan sebagainya. Kai dan Prosphoros—yang minta dipanggil Roz—datang menyusul kami. 

"Apa kau punya vial berisi cairan untuk melepaskan tali belenggu dewi? Atau sihir?" Tanya Kai sambil meraba vial-vial yang terbuat dari kaca. 

Kyle menggeleng, "Mustahil! Tali belenggu tidak bisa dilepaskan oleh cairan atau sihir."
Aku menelengkan kepala, "Lalu, apa anda tahu cara melepaskan ikatannya?"

"Bermacam-macam, Sayang." Jawab Roz. Asap keunguan berputar-putar di sekelilingnya. "Aku tidak tahu persis seperti apa ikatan yang menjerat dewi mu. Barangkali dia bisa di penjara atau di bekukan. Kau akan mengetahui sendiri caranya."

Aku dan Kai bertatapan lagi dan mendesah frustasi.
Kai berdeham, "Bagaimana dengan kutukanku, Roz?"
Aku menoleh ke arahnya, mendapati keperihan mendalam ketika ia menatap balik ke arahku. Aku tahu mengenai kutukannya, bagiku ini tidak adil. Bagaimana mungkin Hades tega membiarkan Kai mengemban kutukan yang semestinya tidak diberikan kepadanya? Aku juga tahu kalau Kai salah karena menghanyutkan saudaranya, tapi dia kan masih terlalu dini untuk mencerna apa yang telah dia lakukan. Pikiranku terbuyarkan ketika Roz mendesah sedih.

"Kutukan itu hanya bisa dihapus oleh ayahmu sendiri, Nak. Maaf ya, aku tidak banyak membantu." Kata Roz. Kai memaksakan senyum dan mengangguk pelan.

Kyle berjalan mengitari aku dan Kai, lalu menepuk tangannya satu kali, "Bagus! Roz tidak bisa membantu, tapi aku bisa." Katanya. "Kurasa sedikit bantuan tidak akan membuat Zeus geram, ya kan, Roz?"
Kyle terlihat mencari-cari sesuatu di rak, berlari kesana kemari untuk menemukannya. Roz mendengus sebal ke arah Kyle.

"Di atas sana." Kata Roz. Dia menunjuk ke bagian paling atas rak vial di depan kami. Kyle tersenyum lebar dan dua buah vial itu turun ke genggamannya.

Kyle menghampiri kami lalu meletakkan masing-masing sebuah vial ke tanganku dan Kai.    
"Vial ini bisa membantu kalian, aku tidak boleh memberitahu kegunaannya. Gunakan disaat keadaan yang paling genting!" Jelasnya.

Vial berisi cairan berwarna hitam itu bergejolak seolah sedang ditaruh di api kecil. Punya Kai berwarna biru sewarna laut, berputar-putar membuat pusaran air.

Aku menatap ragu kedua wanita di hadapanku, "Bagaimana mungkin aku bisa tahu saat yang tepat untuk menggunakan vial ini? Kami mengalami banyak keadaan yang genting." Tukasku.

Kyle tertawa kecil, "Kalian tidak usah khawatir, demigods memiliki GPPH atau Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperactivitas. Jadi, insting kalian selalu berkerja dengan benar selagi melawan monster atau perang."

Kai menggembungkan pipinya, "Pantas saja aku nggak bisa diam." Kata Kai. "Dan bagaimana kami bisa tahu kegunaannya?" Lanjutnya.
Roz mengerlingkan matanya malas, "Warna."

Aku dan Kai sama-sama menatap khidmat vial yang berada di tangan kami masing-masing.
"Terima kasih, Roz juga Kyle. Ini sangat berharga." Ungkapku. Kyle bertepuk tangan senang sedangkan Roz hanya tersenyum tipis. 
Roz merangkulku dan berjalan menuju ruangan milik Hecate, "Mari kita lihat apa yang terjadi pada putra Zeus itu."

Tangan Roz terhenti di udara sebelum menyibak gorden berwarna ungu dengan serbuk emas yang mengapung di sekitarnya, Roz mengerutkan keningnya.
Belum sempat aku bertanya ada apa, samar-samar suara Sehun bisa kudengar.

"Untuk apa?" Tanya Sehun. Ada jeda yang cukup lama sebelum Hecate menjawab.
 "Untuk membunuh saudaramu, tentu saja."

Aku menegang, jantungku berpacu cepat. Penekanan pada kata saudara cukup membuatku terguncang. Kami memang beda ayah, tapi aku adalah saudara Sehun, Kai juga. Mungkinkah Sehun diperintahkan untuk membunuh kami atau salah satu dari kami?

Kai yang tadinya berdiri di belakangku, dengan penuh emosi menyibak gorden ungu itu tanpa mempedulikan serbuk emas yang menempel di seluruh badannya.
Dia terengah-engah, "Membunuh siapa?" Tanya Kai.

Hecate hanya tersenyum angkuh, "Kau tidak sopan, putra Hades. Tidak usah ikut campur."
Kai mengepalkan tangannya, "Bagaimana mungkin aku tidak ikut campur?! Ini misiku, Dewi!" Pekiknya. 

Aku memegang kedua pundaknya dari belakang, mencoba membuatnya tenang.
Sehun membalikkan badannya, matanya merah, baju hitam dan celananya terkoyak disana-sini, dia menatap nanar ke arah kami berdua. Di tangannya  ada sebuah vial berisi cairan berwarna merah. Keringat bercucuran dari pelipisnya. Badannya terguncang, dia merunduk lalu menengadah lagi menatap balik ke manik mataku.

Sehun memaksakan senyumnya, "Tidak ada yang dibunuh. Tenanglah, Kai."
Ada sesuatu yang sesak menghantam dadaku melihat Sehun dalam keadaan seperti itu, "Apa...apa yang terjadi padamu?" Tanyaku.
Raut wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat lalu dia nyengir, "Aku dapat bantuannya lho!" Sehun menggoyang-goyangkan vial itu.

Hecate beranjak dari duduknya dan menghembuskan napas dengan perlahan. "Waktu kalian tidak banyak, pergilah sebelum hari gelap. Ingatlah tujuannya ya, Sehun?"
Sehun berdiri tegak dan mengedipkan matanya, "Selalu! Terima kasih, Dewi Hecate. Tapi, sebelum aku pergi, bolehkah aku minta baju baru?" Kata Sehun.
Hecate tertawa dan menyuruh Kyle mengambil beberapa potong baju untuk kami bertiga. Sehun berjalan mendekatiku dan tersenyum lebar. Sialan dia, tidakkah dia tahu kalau jantungku hampir berpindah tempat ke lutut hanya karena senyumnya itu?

"Kalian baik-baik saja? Aku baru saja melawan raksasa bernapas api sambil mencicipi pasta." Katanya.
Aku mengeryitkan dahi, "Melawan raksasa bernapas api?"
"Makan pasta." Tambah Kai dengan lesu.

Sehun mengendikkan bahu, "Untuk dapat bantuan Hecate aku harus ke Italia dan melawan Cacus. Tidak lihat nih bajuku terlalu mengekspos badanku yang sexy?"
Kai menjitak dahinya dan memandang Sehun dengan jijik, "Najis banget." Katanya.

Aku tertawa sedangkan Sehun hanya meringis, "Aku bersyukur kau selamat." Tukasku.
"Yayayaya, sekarang bagaimana kalau kita cari makan yang lebih enak dari bekicot?" Kata Kai. Dia memutar matanya tanpa minat.

Setelah Kyle dan Roz memberi kami baju baru dan aku diberi mantra supaya berbahasa korea, kami berterima kasih dan pamit untuk melanjutkan misi—juga setelah bermain bersama sepasang telinga bernama Eotto dan Kkaji—kami memutuskan untuk makan di McDonald.

Kai melompat-lompat kesenangan dan berseru, "Aku yang pesan! Aku yang pesan!" Menyebabkan kursi dan meja bergeser lima senti. Lalu dia berlari untuk mengantri sedangkan aku dan Sehun duduk berhadapan.
Sehun memajukan tubuhnya dan menatapku lekat-lekat, aku memundurkan kepalaku, "A...apa?" Tanyaku.
Dia terkekeh dan kembali ke posisinya yang semula, "Tidak apa-apa, kita berpisah selama tiga jam ya? Aku jadi kangen."

Aku benar-benar harus bisa mengendalikan jantungku kalau dia terus-terusan begini. Aku melihatnya sedang meraba-raba vial miliknya itu dengan tatapan penasaran. Aku mengeluarkan vial milikku dan meletakkannya di meja.

Sehun menatapku bingung, "Hitam?" Tanyanya.
Aku menggangguk, "Menyeramkan ya?"
"Tidak lebih menyeramkan dari punyaku. Dewi bilang ini sangat mematikan." Tukas Sehun. Dia mendesah pelan.
"Apa saja yang dewi berikan padamu?" Tanyaku.
Sehun meletakkan dagunya di kedua tangan, berpose dengan imutnya. Aku ingin sekali-kali menyiksanya agar berhenti bersikap seperti itu.
"Cuma vial ini dan informasi. Dia bilang kita harus ke air terjun di utara."
Aku memajukan bibirku seraya mendesah frustasi karena air terjun yang kuketahui sangat jauh dari sini.
"Jangan begitu atau kau kucium." Kata Sehun.

Aku melotot dan memekik, "OH SEHUN!" Aku beranjak dari dudukku dan pergi ke toilet. Sayup-sayup suara tawa Sehun terdengar sampai aku menutup pintu toilet.
Aku menempelkan punggung di pintu toilet sambil mengatur napas.

"Oh, demi ciuman pertama. Maskaraku luntur!" Pekik sebuah suara yang sangat indah terdengar oleh kedua telingaku.
Aku bisa melihat tubuh yang terbentuk indah, mengenakan gaun berwarna merah yang mencolok sedang mengolok-ngolok dandanan yang luntur. Dia terperanjat saat melihatku di belakangnya, wajahnya mengingatkanku pada teman sekolahku yang paling cantik, hanya saja dia lebih cantik atau sempurna.

"Halo, Sayang! Akhirnya kau datang, kukira kau akan terus bermesraan dengan putra Zeus itu." Katanya.
Aku mengangkat alis, tidak mengerti, "Anda siapa?"
Wanita itu mengerlingkan mata sambil mengipasi wajahnya dengan imut, "Oh, ya ampun! Jangan bilang kau sudah jadi lamban gara-gara Sehun."

Aku menggerutu, "Anda Aphrodite." Kataku. "Dewi Cinta."
Aku menahan hasrat untuk memanggil Sehun karena aku tahu kalau dia ingin sekali bertemu dengannya.
Dia memoleskan lipstik lebih tebal lagi, "Nah, itu kau tahu!"

"Apa yang anda lakukan disini?" Tanyaku.
Aphrodite memutir rambutnya sehingga lebih bergelombang, jadi aku berpikir sia-sia saja dia harus melakukan itu rambutnya memang sudah bergelombang.
"Bercermin." Katanya. "Tentu saja untuk bertemu denganmu, Nona!"   
Aphrodite berkacak pinggang sambil mengamati tubuhku dari pangkal kaki sampai kepala, "Aku tadinya tidak mau mengacaukan kemesraanmu dengan Oh Sehun tapi—"

"Aku tidak bermaksud begitu! Aku dan Sehun cuman sekedar teman lagipula kami saudara." Potongku.
Aphrodite menggeram, "Dengar ya, Sharley sayang, dewa-dewi tidak memiliki DNA! Tidak masalah jika kau mau menikah dengan demigod juga. Kata saudara hanya karena orang tua kalian bersaudara tapi sesungguhnya tidak ada persamaan DNA, oh mustahil!" Jelasnya.

"Tapi kami tidak saling mencintai." Tukasku, mencoba mengelak sebisa mungkin.
"Bah!" Kata Aphrodite. "Aku ini Dewi Cinta, mana mungkin kau bisa membohongiku, dear."         
Aku mendesah pelan, "Baiklah, jadi apa maksud anda ingin menemuiku?"
Dia tersenyum, aku bersumpah wajahnya berubah menjadi wajah artis wanita favoritku.

"Aku hanya ingin kau memilih keputusan yang paling benar." Katanya. "Kau akan menghadapi keadaan yang mengharuskan untuk berpikir dengan cepat tapi tepat. Dan aku menyarankan untuk terus mengikuti kata hatimu."

Aku berusaha mencerna maksud dari perkataannya itu, sulit sekali mengerti ketika kau melakukan percakapan dengan wanita paling cantik di muka bumi.
"Tapi, aku tidak bisa." Keluhku.

Aphrodite mengelus pipiku dengan tangannya yang lembut, "Maka dari itu aku datang membantu."
Tiba-tiba tubuhnya berdenyar dan perlahan menghilang, lalu dia muncul lagi sambil mengumpat. "Itu tanda dari Zeus agar aku kembali ke Olympus. Hah, benar-benar pelit bantuan." Gerutunya. Guntur menggelegar.
"Nah, waktuku tidak banyak. Jadi, ketika pacarmu itu menghadapi kesulitan. Aku harap kau memusatkan perhatian padanya sekalipun kau sedang mengalami bahaya juga. Kenapa? Dia putra Zeus, semua makhluk abadi sangat ingin dia dimusnahkan. Kau tidak ingin orang yang kau cintai itu mati kan? Pergilah selamatkan dia!" Jelasnya.

Sebelum aku bertanya apa yang dia maksud, Aphrodite berubah menjadi seekor burung merpati dan melesat ke atas menembus atap.
"Sharley? Apa kau di dalam?" Terdengar suara Sehun dari luar toilet, aku tersadar dan segera berjalan membuka pintu.
"Kenapa lama sekali?" Tanyanya.
Aku nyengir, "Aku baru saja bermain dengan merpati."

Sehun memandangku seolah kepalaku baru kepentok badut di dekat toilet.
Kai melambaikan tangan dan menyuruhku segera makan karena Sehun dan Kai sudah menghabiskan makanan terlebih dahulu. Apa aku selama itu atau mereka yang terlalu rakus?
"Tahu nggak sih? Salah satu pelayan di kasir adalah Empousa. Dia menambahkan ekstra nektar di minuman kita." Jelas Kai.

Aku mengeryitkan dahi, tidak mengerti, "Bukannya Empousa makhluk yang jahat? Dia kan bekerja pada Kronos sang Titan." Tukasku.

Kai dan Sehun larut dalam pikirannya masing-masing, aku memandang mereka bergantian.
Sehun melipat tangannya sambil bersandar ke kursi, "Apollo bilang penculik Dewi Hestia adalah keturunan kakekku. Kakekku adalah Kronos. Jadi...." Dia terdiam lalu menatap Kai.
Kai terperanjat dan berdiri tegak, menoleh ke arah kasir. "Di immortales!" Katanya. "Dia hilang!"
Aku dan Sehun dengan segera beranjak dari kursi dan menelaah sepenjuru restoran. Aku meraba-raba cincin yang tersemat di jari manis, busurku, dan gelang yang melingkar di pergelanganku adalah panahnya.
Kami berlari keluar McDonald dan dihadang oleh lima Empousa. Mereka mendesis—baiklah sekedar informasi jika kau sama seperti Sehun—Empousa berbadan setengah manusia setengah ular, dari kepala sampai pinggang terlihat normal bahkan mereka sangat cantik hanya saja gigi taringnya besar dan setajam baja, sedangkan dari pinggang sampai kaki, bersisik seperti ular dan mengeluarkan lendir hijau yang beracun. Ular-ular kecil bergeliut di pinggang mereka.

"Makanan." Desis mereka. Aku menyiagakan busurku dan bersiap membidik, Kai menghunus pedang, sedangkan Sehun terperangah menatap kelima Empousa.
Aku cemberut dan menjitak kepalanya, "Fokus! Lihat kakinya dong!"
Sehun nyengir dan menghunus pedang.

Empousa yang berdiri di tengah menyeringai, "Ah, sayang sekali ya, aku harus memakan kedua pemuda tampan ini. Bagaimana kalau kalian jadi pacarku saja?" Tawarnya.
Sehun menggerutu, "Tawaran yang menyenangkan tapi, makasih deh aku sedang tidak mau muntah."
Kelima Empousa mendesis marah ke arah Sehun tapi cowok edan satu ini cuman cengar-cengir tidak jelas. Mereka menggerakkan badannya seperti ular, tentu saja selincah ular betulan. Sip.
Aku memanah berusaha menarget jantungnya, supaya terjadi kematian langsung. Tapi, Empousa itu melesat menjauh lalu mencoba menerkamku, jaraknya sekitar lima kaki. Aku mundur, lalu mengerahkan tenaga untuk mengumpulkan cahaya ke depan wajahnya. Dia meraung dan terjatuh, aku menancapkan anak panah di kepalanya. Empousa itu melolong, menghilang terbuyarkan jadi debu berwarna hijau. Sebelum aku melihat apa yang terjadi pada Sehun dan Kai, satu Empousa lagi menindihku dari belakang. Aku terjatuh di atas aspal dan Empousa itu membalikkan badanku sehingga aku bisa melihat taring yang sepanjang wortel melengkung sampai ke lehernya.
Kedua tangannya mengunci tubuhku sehingga tidak bisa bergerak. Empousa itu menyeringai dan membuka mulutnya lebar-lebar, aku menutup mata. Lalu aku mendengar suara lolongan dan tubuhku di penuhi debu. 

Sehun menyeringai lalu menindihku dengan cara yang sama.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku dengan muka yang memerah.
 "Baiklah, aku belum memikirkan apa yang harus aku lakukan kalau dalam posisi begini." Katanya polos. Aku menendang tulang keringnya dan dia segera bangkit.

Sehun menggerutu, "Kau jahat sekali."
Aku cuman menjulurkan lidah lalu berdiri, mendapati Kai yang sedang bermain dengan arwah.
Aku berjalan mendekat, "Kai, apa yang kau lakukan?"
Dia nyengir dan mengajakku berkenalan, "Ini Orpheus. Anak Apollo juga. Menyenangkan, bukan? Bertemu dengan saudara."
Aku terperanjat, "Orpheus! Kau yang menciptakan Pintu ke Dunia Bawah di New York dengan lira kan? Wah, senang bertemu denganmu!" Kataku.
Orpheus tersenyum, "Kau sangat manis, Dik." Ujarnya. "Aku tidak bisa berlama-lama lagi. Dik, pacarmu sedang dalam kesulitan."

Dia menghilang dengan perlahan, aku dan Kai segera menoleh pada Sehun yang sedang diserang sekumpulan harpy.
"Ya ampun!" Seruku. Aku berlari mendekat sambil memanah para harpy, melukai sayap mereka, satu persatu mulai menjauh. Tapi, mereka menyerang lagi. Kami kalah jumlah dan manusia setengah ayam itu terbang secepat cahaya.
Kai melempari mereka dengan emas, aku menatapnya tak percaya. Emas itu kan bisa dijual, kita bisa jadi kaya.
 "Emas ini kutukan." Katanya seolah membaca ekspresiku. "Tidak apa-apa. Tolong saja Sehun."

Aku berlari ke arah Sehun, hari sudah gelap dan aku tidak bisa menggunakan kekuatan cahayaku lagi. Sehun mengerang, luka cakaran terdapat di sekujur tubuhnya. Aku merutuki diriku karena membiarkannya sendirian, dan aku bisa mendengar Aphrodite menggeram marah padaku. Aku melingkarkan tanganku dipinggangnya, meletakkan tangan kirinya di sekitar pundakku, dan kami berjalan tertatih-tatih menjauhi harpy yang kelimpungan karena diserang berbagai logam.

"Kai, ingat batasannya! Jangan terlalu banyak, kau bisa mati!" Pekikku. Kai menggeleng cepat sambil terus menerus melempari kursi dan meja. Para pengunjung yang baru kusadari mereka disana dari tadi, tercengang melihat kami bertiga. Aku tidak tahu apa yang ada di pandangan mereka ketika harpy itu melayang di sekitar jalanan karena kabut yang memanipulasi. Mungkin elang jumbo?

Sehun melepaskan pegangannya padaku dan mencoba berdiri sendiri.
"Aku bisa, sedikit sih." Katanya. Dia memusatkan pikirannya, baru kali ini aku melihatnya memanggil petir.
Sehun memegang dadanya, tubuhnya merosot dan aku menangkapnya.
Guntur menggelegar, petir menyambar lima harpy dan membuyarkan mereka jadi debu. Tersisa tujuh lagi yang terbengong-bengong melihat saudaranya musnah.

Kai menjerit, "Kau nggak boleh membunuh harpy! Mereka saudara Dewi Iris—Dewi Pelangi!"
Sehun menggeram marah, "Persetan dengan saudara! Aku sekarat, bodoh!"
Aku memegang kedua pundaknya, "Tenanglah, petir sudah cukup!"

Dia terengah-engah dan berjalan mendekati harpy, aku memanah salah satu harpy tapi dia mengelak dan terbang dengan cepat ke arahku. Harpy itu memegang kedua lenganku, cengkramannya sekeras besi. Dia membawaku terbang dan aku sontak panik.

"Sehun, tolong!" Jeritku.
Sehun terlihat panik dan mengeluarkan sayapnya, lalu menatap Kai.
"Aku akan menyusul!" Seru Kai.
Sehun menggangguk dan melesat terbang di belakangku. Aku terus-terusan memekik karena pundakku sepertinya retak. Sehun berusaha menyusul, tapi beberapa harpy mematuki kakinya. Dia terjatuh beberapa meter, lalu terbang lagi. Aku hampir menangis melihatnya kesusahan setengah mati sambil menahan emosi.
Kai muncul di depan harpy yang membawaku sambil menunggangi naga tengkorak.
Dia menghunus pedangnya dan merapal mantra Yunani Kuno milik Hades yang bisa menguras energinya secara langsung, 
"Apodosi gia fysiko thanato, tiganito kotopoulo—kembalilah ke alam kematian, ayam goreng!"

"AYAM GORENG?!" Pekikku.

Sehun mendengus di belakangku, "Bodoh! Kau tidak boleh mengubah-ubah mantra!"
Lalu para harpy menghilang dan aku terjun bebas, Sehun menangkapku. Tapi dia terlalu lemah, sehingga kami jatuh cukup keras. Kai lebih parah, dia kehilangan seluruh energinya dan dia membentur tanah bagaikan boneka kain.

Aku mengerang kesakitan, keringat bercucuran di sekujur tubuhku, dan tulang belikatku benar-benar retak.
Sehun merogoh tasnya dan mengeluarkan sebotol nektar, dia menyuruhku meminumnya terlebih dahulu. "Lady's first, kan?"
Aku langsung merasa lebih baik, walaupun pundakku masih ngilu. Selagi Sehun meminum nektar, aku menarik tubuh Kai ke pangkuanku dan mengelus pipinya yang sedingin es.

"Buka mulutnya, Shar. Aku akan menuangkan lebih banyak nektar. Keadaannya parah sekali." Kata Sehun. Aku memegang dagu runcing Kai dan membuka mulutnya.
Kai terbatuk-batuk kecil ketika Sehun selesai menuangkan setengah botol nektar.
"Bung, aku khawatir kau bakalan jadi pasir tadi." Tukas Sehun sambil mendesah lega.
Aku tertawa, tapi air mata mengalir membasahi kedua pipiku.
Kai terkekeh. "Bung, aku kira aku bakal mati tadi." katanya. "Gara-gara ayam goreng itu."
"Kau mengambil resiko yang besar, bodoh!" Seruku. Kai bangkit dari pangkuanku dan mengendikkan bahu.  

"Aku bisa masuk Elysium kalau mati dengan cara yang tadi. Dan aku bisa hidup lagi kok." Katanya enteng.
Aku menjitak kepalanya, "Jangan permainkan hidupmu, cowok zombi."

"Teman-teman." Kata Sehun tiba-tiba. Dia berdiri tegak, dan menatap pedih pemandangan di bawahnya.
"Air terjun?" Tanya Kai.
Yang benar saja, ternyata para harpy itu membawa kami ke tujuan. Air terjun setinggi sepuluh meter tepat berada di bawah kami.
Sehun mendesah frustasi, "Selamat datang di air terjun Cheonjeyeon."
Suara tawa menggelegar di keheningan malam, aku merapat ke sisi Sehun. Sehun menggamit tanganku.

"Akhirnya kalian datang juga." Sebuah suara beraksen china sayup-sayup terdengar mendekat.
"Aku beramsumsi bahwa kalian sudah mati karena serangan harpy. Boleh juga."
Sosoknya kian jelas, seorang pria sekitar berumur 16 tahun dengan rambut hitam dan kantung mata yang gelap. Mengenakan baju dengan rantai yang membelit tubuhnya.

"Siapa kau?" Tanya Sehun. Dia melepaskan genggamannya dan melangkah maju.

"Salam putra Zeus." Katanya. "Aku adalah satu-satunya keturunan manusia dari Kronos."

"Namaku Huang Zitao."

Dan seketika waktu berhenti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar