Title : Oh Sehun and the Goddess of Hearth (Oh Sehun dan sang Dewi Perapian
Main Casts : Sehun, Kai and Sharley (all of exo's members are including too)
Genre : Greek Mythology, Action, Thriller (not-really-but-i-love-to-added-it-so-yeah)
Author : Alzeya
HIIII~
OMG!!! it had been a month since i uploaded the previous chapter, huhu you guys have been so bored to wait it right?! i'm sorry, its because i moved to another city in another island (so far from the place i used to be) so the new home, new school and other stuffs are making me stress so i forgot to post my fanfiction AND I ALMOST FORGET THAT I HAVE AN UNFINISH FF -_- and the last, this chapter is sharley's and this fanfiction is straight, not sekai nor hunhan though. i hope you understand the whole story! Enjoy~
Sharley P.O.V
Terkadang mengikuti saran temanmu yang
paling bodoh bukan ide yang terburuk, seharusnya tadi aku menyetujui usulan
Sehun untuk mencari orang yang lebih baik untuk dimintai bantuan. Daripada
makan escargot bumbu pasta dengan brokoli yang membuat perut enggan mencerna
makanan campuran yang aneh itu. Aku merasa mual dan mau pingsan. Kai terlihat
sama, perutnya terus-terusan menolak lalu mendorong makanan itu kembali ke
atas, dan dia buru-buru menutup mulutnya.
"Kau punya sesuatu untuk mengatasi
mual ala ibu hamil, hm, barangkali permen?" Tanyanya.
Aku menggeleng lemas.
Tidak ada pilihan lain, aku terlalu lapar
untuk menolak makanan dari Kleidouchos dan Prosphoros jadi aku mendesak perutku
untuk menerima ini dan berjanji padanya
penderitaan ini akan berakhir.
Kleidouchos tidak mengerti kalau kami
berdua menganggap makanan ini menjijikkan, dia senantiasa bertanya apakah kami
mau tambah, tapi Kai menolak dengan halus sedangkan aku masih limbung.
Tiba-tiba aku merasa khawatir pada Sehun, kira-kira apa yang akan Hecate
lakukan padanya jika kedua wujud yang bukan Hecate seutuhnya ini sangat
mengerikan.
"Kalian demigods yang sangat lucu, apa
kalian mau tambah escargotnya?" Tanya Kleidouchos.
Prosphoros mendengus sebal, "Dasar
bodoh! Kau terus melontarkan pertanyaan yang sama dan tidak berbobot. Mereka
bilang tidak mau."
Kleidouchos mendesah sedih lalu membereskan
piring-piring yang kotor, aku dan Kai saling pandang. Tatapan Kai mengatakan
bahwa dia tidak bisa apa-apa, aku mendengus dan berdiri menghampiri Kleidouchos.
"Maafkan kami, Klei- hm Klei apa sih?.
Pokoknya anda sangat baik membuatkan kami makanan yang mewah dalam porsi yang
banyak, sayang sekali kami tidak bisa memakan semuanya. Maaf ya?" Kataku.
Aku memang bukan anak Aphrodite yang punya
keindahan dalam suara mereka yang bisa membuat siapa aja merasa lebih baik,
tapi anak Apollo tidak kalah kerennya.
Kleidouchos tersenyum lebar, "Betapa
manisnya kau! Nah, panggil aku Kyle saja! Mari kita melihat-lihat."
Dia menuntunku menuju ruangan yang pertama
kali aku datangi. Kyle menjelaskan bahwa vial-vial ini berisi cairan kekuatan
yang bisa membuatmu melakukan apa saja, misalnya yang warna hijau untuk membuat
mata yang buta menjadi kembali normal dan sebagainya. Kai dan Prosphoros—yang
minta dipanggil Roz—datang menyusul kami.
"Apa kau punya vial berisi cairan
untuk melepaskan tali belenggu dewi? Atau sihir?" Tanya Kai sambil meraba
vial-vial yang terbuat dari kaca.
Kyle menggeleng, "Mustahil! Tali
belenggu tidak bisa dilepaskan oleh cairan atau sihir."
Aku menelengkan kepala, "Lalu, apa
anda tahu cara melepaskan ikatannya?"
"Bermacam-macam, Sayang." Jawab
Roz. Asap keunguan berputar-putar di sekelilingnya. "Aku tidak tahu persis
seperti apa ikatan yang menjerat dewi mu. Barangkali dia bisa di penjara atau
di bekukan. Kau akan mengetahui sendiri caranya."
Aku dan Kai bertatapan lagi dan mendesah
frustasi.
Kai berdeham, "Bagaimana dengan
kutukanku, Roz?"
Aku menoleh ke arahnya, mendapati keperihan
mendalam ketika ia menatap balik ke arahku. Aku tahu mengenai kutukannya,
bagiku ini tidak adil. Bagaimana mungkin Hades tega membiarkan Kai mengemban
kutukan yang semestinya tidak diberikan kepadanya? Aku juga tahu kalau Kai
salah karena menghanyutkan saudaranya, tapi dia kan masih terlalu dini untuk
mencerna apa yang telah dia lakukan. Pikiranku terbuyarkan ketika Roz mendesah
sedih.
"Kutukan itu hanya bisa dihapus oleh
ayahmu sendiri, Nak. Maaf ya, aku tidak banyak membantu." Kata Roz. Kai
memaksakan senyum dan mengangguk pelan.
Kyle berjalan mengitari aku dan Kai, lalu
menepuk tangannya satu kali, "Bagus! Roz tidak bisa membantu, tapi aku
bisa." Katanya. "Kurasa sedikit bantuan tidak akan membuat Zeus
geram, ya kan, Roz?"
Kyle terlihat mencari-cari sesuatu di rak,
berlari kesana kemari untuk menemukannya. Roz mendengus sebal ke arah Kyle.
"Di atas sana." Kata Roz. Dia
menunjuk ke bagian paling atas rak vial di depan kami. Kyle tersenyum lebar dan
dua buah vial itu turun ke genggamannya.
Kyle menghampiri kami lalu meletakkan
masing-masing sebuah vial ke tanganku dan Kai.
"Vial ini bisa membantu kalian, aku
tidak boleh memberitahu kegunaannya. Gunakan disaat keadaan yang paling
genting!" Jelasnya.
Vial berisi cairan berwarna hitam itu
bergejolak seolah sedang ditaruh di api kecil. Punya Kai berwarna biru sewarna
laut, berputar-putar membuat pusaran air.
Aku menatap ragu kedua wanita di hadapanku,
"Bagaimana mungkin aku bisa tahu saat yang tepat untuk menggunakan vial
ini? Kami mengalami banyak keadaan yang genting." Tukasku.
Kyle tertawa kecil, "Kalian tidak usah
khawatir, demigods memiliki GPPH atau Gangguan Pemusatan Perhatian dan
Hiperactivitas. Jadi, insting kalian selalu berkerja dengan benar selagi
melawan monster atau perang."
Kai menggembungkan pipinya, "Pantas
saja aku nggak bisa diam." Kata Kai. "Dan bagaimana kami bisa tahu
kegunaannya?" Lanjutnya.
Roz mengerlingkan matanya malas,
"Warna."
Aku dan Kai sama-sama menatap khidmat vial
yang berada di tangan kami masing-masing.
"Terima kasih, Roz juga Kyle. Ini
sangat berharga." Ungkapku. Kyle bertepuk tangan senang sedangkan Roz
hanya tersenyum tipis.
Roz merangkulku dan berjalan menuju ruangan
milik Hecate, "Mari kita lihat apa yang terjadi pada putra Zeus itu."
Tangan Roz terhenti di udara sebelum
menyibak gorden berwarna ungu dengan serbuk emas yang mengapung di sekitarnya,
Roz mengerutkan keningnya.
Belum sempat aku bertanya ada apa,
samar-samar suara Sehun bisa kudengar.
"Untuk
apa?" Tanya Sehun. Ada jeda yang cukup lama sebelum Hecate menjawab.
"Untuk
membunuh saudaramu, tentu saja."
Aku menegang, jantungku berpacu cepat.
Penekanan pada kata saudara cukup membuatku terguncang. Kami memang beda ayah,
tapi aku adalah saudara Sehun, Kai juga. Mungkinkah Sehun diperintahkan untuk
membunuh kami atau salah satu dari
kami?
Kai yang tadinya berdiri di belakangku,
dengan penuh emosi menyibak gorden ungu itu tanpa mempedulikan serbuk emas yang
menempel di seluruh badannya.
Dia terengah-engah, "Membunuh
siapa?" Tanya Kai.
Hecate hanya tersenyum angkuh, "Kau
tidak sopan, putra Hades. Tidak usah ikut campur."
Kai mengepalkan tangannya, "Bagaimana
mungkin aku tidak ikut campur?! Ini misiku, Dewi!" Pekiknya.
Aku memegang
kedua pundaknya dari belakang, mencoba membuatnya tenang.
Sehun membalikkan badannya, matanya merah,
baju hitam dan celananya terkoyak disana-sini, dia menatap nanar ke arah kami
berdua. Di tangannya ada sebuah vial
berisi cairan berwarna merah. Keringat bercucuran dari pelipisnya. Badannya terguncang,
dia merunduk lalu menengadah lagi menatap balik ke manik mataku.
Sehun memaksakan senyumnya, "Tidak ada
yang dibunuh. Tenanglah, Kai."
Ada sesuatu yang sesak menghantam dadaku
melihat Sehun dalam keadaan seperti itu, "Apa...apa yang terjadi
padamu?" Tanyaku.
Raut wajahnya berubah seratus delapan puluh
derajat lalu dia nyengir, "Aku dapat bantuannya lho!" Sehun
menggoyang-goyangkan vial itu.
Hecate beranjak dari duduknya dan
menghembuskan napas dengan perlahan. "Waktu kalian tidak banyak, pergilah
sebelum hari gelap. Ingatlah tujuannya ya, Sehun?"
Sehun berdiri tegak dan mengedipkan
matanya, "Selalu! Terima kasih, Dewi Hecate. Tapi, sebelum aku pergi,
bolehkah aku minta baju baru?" Kata Sehun.
Hecate tertawa dan menyuruh Kyle mengambil
beberapa potong baju untuk kami bertiga. Sehun berjalan mendekatiku dan
tersenyum lebar. Sialan dia, tidakkah dia tahu kalau jantungku hampir berpindah
tempat ke lutut hanya karena senyumnya itu?
"Kalian baik-baik saja? Aku baru saja
melawan raksasa bernapas api sambil mencicipi pasta." Katanya.
Aku mengeryitkan dahi, "Melawan
raksasa bernapas api?"
"Makan pasta." Tambah Kai dengan
lesu.
Sehun mengendikkan bahu, "Untuk dapat
bantuan Hecate aku harus ke Italia dan melawan Cacus. Tidak lihat nih bajuku
terlalu mengekspos badanku yang sexy?"
Kai menjitak dahinya dan memandang Sehun
dengan jijik, "Najis banget." Katanya.
Aku tertawa sedangkan Sehun hanya meringis,
"Aku bersyukur kau selamat." Tukasku.
"Yayayaya, sekarang bagaimana kalau
kita cari makan yang lebih enak dari bekicot?" Kata Kai. Dia memutar
matanya tanpa minat.
Setelah Kyle dan Roz memberi kami baju baru
dan aku diberi mantra supaya berbahasa korea, kami berterima kasih dan pamit
untuk melanjutkan misi—juga setelah bermain bersama sepasang telinga bernama
Eotto dan Kkaji—kami memutuskan untuk makan di McDonald.
Kai melompat-lompat kesenangan dan berseru,
"Aku yang pesan! Aku yang pesan!" Menyebabkan kursi dan meja bergeser
lima senti. Lalu dia berlari untuk mengantri sedangkan aku dan Sehun duduk
berhadapan.
Sehun memajukan tubuhnya dan menatapku
lekat-lekat, aku memundurkan kepalaku, "A...apa?" Tanyaku.
Dia terkekeh dan kembali ke posisinya yang
semula, "Tidak apa-apa, kita berpisah selama tiga jam ya? Aku jadi
kangen."
Aku benar-benar harus bisa mengendalikan
jantungku kalau dia terus-terusan begini. Aku melihatnya sedang meraba-raba
vial miliknya itu dengan tatapan penasaran. Aku mengeluarkan vial milikku dan
meletakkannya di meja.
Sehun menatapku bingung, "Hitam?"
Tanyanya.
Aku menggangguk, "Menyeramkan
ya?"
"Tidak lebih menyeramkan dari punyaku.
Dewi bilang ini sangat mematikan." Tukas Sehun. Dia mendesah pelan.
"Apa saja yang dewi berikan
padamu?" Tanyaku.
Sehun meletakkan dagunya di kedua tangan,
berpose dengan imutnya. Aku ingin sekali-kali menyiksanya agar berhenti
bersikap seperti itu.
"Cuma vial ini dan informasi. Dia
bilang kita harus ke air terjun di utara."
Aku memajukan bibirku seraya mendesah
frustasi karena air terjun yang kuketahui sangat jauh dari sini.
"Jangan begitu atau kau kucium."
Kata Sehun.
Aku melotot dan memekik, "OH
SEHUN!" Aku beranjak dari dudukku dan pergi ke toilet. Sayup-sayup suara
tawa Sehun terdengar sampai aku menutup pintu toilet.
Aku menempelkan punggung di pintu toilet
sambil mengatur napas.
"Oh, demi ciuman pertama. Maskaraku
luntur!" Pekik sebuah suara yang sangat indah terdengar oleh kedua
telingaku.
Aku bisa melihat tubuh yang terbentuk
indah, mengenakan gaun berwarna merah yang mencolok sedang mengolok-ngolok
dandanan yang luntur. Dia terperanjat saat melihatku di belakangnya, wajahnya
mengingatkanku pada teman sekolahku yang paling cantik, hanya saja dia lebih
cantik atau sempurna.
"Halo, Sayang! Akhirnya kau datang,
kukira kau akan terus bermesraan dengan putra Zeus itu." Katanya.
Aku mengangkat alis, tidak mengerti,
"Anda siapa?"
Wanita itu mengerlingkan mata sambil
mengipasi wajahnya dengan imut, "Oh, ya ampun! Jangan bilang kau sudah
jadi lamban gara-gara Sehun."
Aku menggerutu, "Anda Aphrodite."
Kataku. "Dewi Cinta."
Aku menahan hasrat untuk memanggil Sehun
karena aku tahu kalau dia ingin sekali bertemu dengannya.
Dia memoleskan lipstik lebih tebal lagi,
"Nah, itu kau tahu!"
"Apa yang anda lakukan disini?"
Tanyaku.
Aphrodite memutir rambutnya sehingga lebih
bergelombang, jadi aku berpikir sia-sia saja dia harus melakukan itu rambutnya
memang sudah bergelombang.
"Bercermin." Katanya. "Tentu
saja untuk bertemu denganmu, Nona!"
Aphrodite berkacak pinggang sambil mengamati
tubuhku dari pangkal kaki sampai kepala, "Aku tadinya tidak mau
mengacaukan kemesraanmu dengan Oh Sehun tapi—"
"Aku tidak bermaksud begitu! Aku dan
Sehun cuman sekedar teman lagipula kami saudara." Potongku.
Aphrodite menggeram, "Dengar ya, Sharley
sayang, dewa-dewi tidak memiliki DNA! Tidak masalah jika kau mau menikah dengan
demigod juga. Kata saudara hanya karena orang tua kalian bersaudara tapi
sesungguhnya tidak ada persamaan DNA, oh mustahil!" Jelasnya.
"Tapi kami tidak saling
mencintai." Tukasku, mencoba mengelak sebisa mungkin.
"Bah!" Kata Aphrodite. "Aku
ini Dewi Cinta, mana mungkin kau bisa membohongiku, dear."
Aku mendesah pelan, "Baiklah, jadi apa
maksud anda ingin menemuiku?"
Dia tersenyum, aku bersumpah wajahnya
berubah menjadi wajah artis wanita favoritku.
"Aku hanya ingin kau memilih keputusan
yang paling benar." Katanya. "Kau akan menghadapi keadaan yang
mengharuskan untuk berpikir dengan cepat tapi tepat. Dan aku menyarankan untuk
terus mengikuti kata hatimu."
Aku berusaha mencerna maksud dari
perkataannya itu, sulit sekali mengerti ketika kau melakukan percakapan dengan
wanita paling cantik di muka bumi.
"Tapi, aku tidak bisa." Keluhku.
Aphrodite mengelus pipiku dengan tangannya
yang lembut, "Maka dari itu aku datang membantu."
Tiba-tiba tubuhnya berdenyar dan perlahan
menghilang, lalu dia muncul lagi sambil mengumpat. "Itu tanda dari Zeus
agar aku kembali ke Olympus. Hah, benar-benar pelit bantuan." Gerutunya.
Guntur menggelegar.
"Nah, waktuku tidak banyak. Jadi, ketika
pacarmu itu menghadapi kesulitan. Aku harap kau memusatkan perhatian padanya
sekalipun kau sedang mengalami bahaya juga. Kenapa? Dia putra Zeus, semua
makhluk abadi sangat ingin dia dimusnahkan. Kau tidak ingin orang yang kau
cintai itu mati kan? Pergilah selamatkan dia!" Jelasnya.
Sebelum aku bertanya apa yang dia maksud,
Aphrodite berubah menjadi seekor burung merpati dan melesat ke atas menembus
atap.
"Sharley? Apa kau di dalam?"
Terdengar suara Sehun dari luar toilet, aku tersadar dan segera berjalan
membuka pintu.
"Kenapa lama sekali?" Tanyanya.
Aku nyengir, "Aku baru saja bermain
dengan merpati."
Sehun memandangku seolah kepalaku baru
kepentok badut di dekat toilet.
Kai melambaikan tangan dan menyuruhku
segera makan karena Sehun dan Kai sudah menghabiskan makanan terlebih dahulu.
Apa aku selama itu atau mereka yang terlalu rakus?
"Tahu nggak sih? Salah satu pelayan di
kasir adalah Empousa. Dia menambahkan ekstra nektar di minuman kita."
Jelas Kai.
Aku mengeryitkan dahi, tidak mengerti,
"Bukannya Empousa makhluk yang jahat? Dia kan bekerja pada Kronos sang
Titan." Tukasku.
Kai dan Sehun larut dalam pikirannya
masing-masing, aku memandang mereka bergantian.
Sehun melipat tangannya sambil bersandar ke
kursi, "Apollo bilang penculik Dewi Hestia adalah keturunan kakekku.
Kakekku adalah Kronos. Jadi...." Dia terdiam lalu menatap Kai.
Kai terperanjat dan berdiri tegak, menoleh
ke arah kasir. "Di immortales!" Katanya. "Dia hilang!"
Aku dan Sehun dengan segera beranjak dari
kursi dan menelaah sepenjuru restoran. Aku meraba-raba cincin yang tersemat di
jari manis, busurku, dan gelang yang melingkar di pergelanganku adalah
panahnya.
Kami berlari keluar McDonald dan dihadang
oleh lima Empousa. Mereka mendesis—baiklah sekedar informasi jika kau sama
seperti Sehun—Empousa berbadan setengah manusia setengah ular, dari kepala
sampai pinggang terlihat normal bahkan mereka sangat cantik hanya saja gigi
taringnya besar dan setajam baja, sedangkan dari pinggang sampai kaki, bersisik
seperti ular dan mengeluarkan lendir hijau yang beracun. Ular-ular kecil
bergeliut di pinggang mereka.
"Makanan." Desis mereka. Aku
menyiagakan busurku dan bersiap membidik, Kai menghunus pedang, sedangkan Sehun
terperangah menatap kelima Empousa.
Aku cemberut dan menjitak kepalanya,
"Fokus! Lihat kakinya dong!"
Sehun nyengir dan menghunus pedang.
Empousa yang berdiri di tengah menyeringai,
"Ah, sayang sekali ya, aku harus memakan kedua pemuda tampan ini.
Bagaimana kalau kalian jadi pacarku saja?" Tawarnya.
Sehun menggerutu, "Tawaran yang
menyenangkan tapi, makasih deh aku sedang tidak mau muntah."
Kelima Empousa mendesis marah ke arah Sehun
tapi cowok edan satu ini cuman cengar-cengir tidak jelas. Mereka menggerakkan
badannya seperti ular, tentu saja selincah ular betulan. Sip.
Aku memanah berusaha menarget jantungnya,
supaya terjadi kematian langsung. Tapi, Empousa itu melesat menjauh lalu
mencoba menerkamku, jaraknya sekitar lima kaki. Aku mundur, lalu mengerahkan
tenaga untuk mengumpulkan cahaya ke depan wajahnya. Dia meraung dan terjatuh,
aku menancapkan anak panah di kepalanya. Empousa itu melolong, menghilang
terbuyarkan jadi debu berwarna hijau. Sebelum aku melihat apa yang terjadi pada
Sehun dan Kai, satu Empousa lagi menindihku dari belakang. Aku terjatuh di atas
aspal dan Empousa itu membalikkan badanku sehingga aku bisa melihat taring yang
sepanjang wortel melengkung sampai ke lehernya.
Kedua tangannya mengunci tubuhku sehingga
tidak bisa bergerak. Empousa itu menyeringai dan membuka mulutnya lebar-lebar,
aku menutup mata. Lalu aku mendengar suara lolongan dan tubuhku di penuhi debu.
Sehun menyeringai lalu menindihku dengan cara yang sama.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku
dengan muka yang memerah.
"Baiklah, aku belum memikirkan apa
yang harus aku lakukan kalau dalam posisi begini." Katanya polos. Aku
menendang tulang keringnya dan dia segera bangkit.
Sehun menggerutu, "Kau jahat
sekali."
Aku cuman menjulurkan lidah lalu berdiri,
mendapati Kai yang sedang bermain dengan arwah.
Aku berjalan mendekat, "Kai, apa yang
kau lakukan?"
Dia nyengir dan mengajakku berkenalan,
"Ini Orpheus. Anak Apollo juga. Menyenangkan, bukan? Bertemu dengan
saudara."
Aku terperanjat, "Orpheus! Kau yang
menciptakan Pintu ke Dunia Bawah di New York dengan lira kan? Wah, senang
bertemu denganmu!" Kataku.
Orpheus tersenyum, "Kau sangat manis,
Dik." Ujarnya. "Aku tidak bisa berlama-lama lagi. Dik, pacarmu sedang
dalam kesulitan."
Dia menghilang dengan perlahan, aku dan Kai
segera menoleh pada Sehun yang sedang diserang sekumpulan harpy.
"Ya ampun!" Seruku. Aku berlari
mendekat sambil memanah para harpy, melukai sayap mereka, satu persatu mulai
menjauh. Tapi, mereka menyerang lagi. Kami kalah jumlah dan manusia setengah
ayam itu terbang secepat cahaya.
Kai melempari mereka dengan emas, aku
menatapnya tak percaya. Emas itu kan bisa dijual, kita bisa jadi kaya.
"Emas ini kutukan." Katanya
seolah membaca ekspresiku. "Tidak apa-apa. Tolong saja Sehun."
Aku berlari ke arah Sehun, hari sudah gelap
dan aku tidak bisa menggunakan kekuatan cahayaku lagi. Sehun mengerang, luka
cakaran terdapat di sekujur tubuhnya. Aku merutuki diriku karena membiarkannya
sendirian, dan aku bisa mendengar Aphrodite menggeram marah padaku. Aku
melingkarkan tanganku dipinggangnya, meletakkan tangan kirinya di sekitar
pundakku, dan kami berjalan tertatih-tatih menjauhi harpy yang kelimpungan
karena diserang berbagai logam.
"Kai, ingat batasannya! Jangan terlalu
banyak, kau bisa mati!" Pekikku. Kai menggeleng cepat sambil terus menerus
melempari kursi dan meja. Para pengunjung yang baru kusadari mereka disana dari
tadi, tercengang melihat kami bertiga. Aku tidak tahu apa yang ada di pandangan
mereka ketika harpy itu melayang di sekitar jalanan karena kabut yang
memanipulasi. Mungkin elang jumbo?
Sehun melepaskan pegangannya padaku dan
mencoba berdiri sendiri.
"Aku bisa, sedikit sih." Katanya.
Dia memusatkan pikirannya, baru kali ini aku melihatnya memanggil petir.
Sehun memegang dadanya, tubuhnya merosot
dan aku menangkapnya.
Guntur menggelegar, petir menyambar lima
harpy dan membuyarkan mereka jadi debu. Tersisa tujuh lagi yang
terbengong-bengong melihat saudaranya musnah.
Kai menjerit, "Kau nggak boleh
membunuh harpy! Mereka saudara Dewi Iris—Dewi Pelangi!"
Sehun menggeram marah, "Persetan
dengan saudara! Aku sekarat, bodoh!"
Aku memegang kedua pundaknya,
"Tenanglah, petir sudah cukup!"
Dia terengah-engah dan berjalan mendekati
harpy, aku memanah salah satu harpy tapi dia mengelak dan terbang dengan cepat
ke arahku. Harpy itu memegang kedua lenganku, cengkramannya sekeras besi. Dia
membawaku terbang dan aku sontak panik.
"Sehun, tolong!" Jeritku.
Sehun terlihat panik dan mengeluarkan
sayapnya, lalu menatap Kai.
"Aku akan menyusul!" Seru Kai.
Sehun menggangguk dan melesat terbang di
belakangku. Aku terus-terusan memekik karena pundakku sepertinya retak. Sehun
berusaha menyusul, tapi beberapa harpy mematuki kakinya. Dia terjatuh beberapa
meter, lalu terbang lagi. Aku hampir menangis melihatnya kesusahan setengah
mati sambil menahan emosi.
Kai muncul di depan harpy yang membawaku
sambil menunggangi naga tengkorak.
Dia menghunus pedangnya dan merapal mantra
Yunani Kuno milik Hades yang bisa menguras energinya secara langsung,
"Apodosi gia fysiko thanato, tiganito
kotopoulo—kembalilah ke alam kematian, ayam goreng!"
"AYAM GORENG?!" Pekikku.
Sehun mendengus di belakangku, "Bodoh!
Kau tidak boleh mengubah-ubah mantra!"
Lalu para harpy menghilang dan aku terjun
bebas, Sehun menangkapku. Tapi dia terlalu lemah, sehingga kami jatuh cukup
keras. Kai lebih parah, dia kehilangan seluruh energinya dan dia membentur
tanah bagaikan boneka kain.
Aku mengerang kesakitan, keringat
bercucuran di sekujur tubuhku, dan tulang belikatku benar-benar retak.
Sehun merogoh tasnya dan mengeluarkan
sebotol nektar, dia menyuruhku meminumnya terlebih dahulu. "Lady's first, kan?"
Aku langsung merasa lebih baik, walaupun
pundakku masih ngilu. Selagi Sehun meminum nektar, aku menarik tubuh Kai ke
pangkuanku dan mengelus pipinya yang sedingin es.
"Buka mulutnya, Shar. Aku akan
menuangkan lebih banyak nektar. Keadaannya parah sekali." Kata Sehun. Aku
memegang dagu runcing Kai dan membuka mulutnya.
Kai terbatuk-batuk kecil ketika Sehun
selesai menuangkan setengah botol nektar.
"Bung, aku khawatir kau bakalan jadi
pasir tadi." Tukas Sehun sambil mendesah lega.
Aku tertawa, tapi air mata mengalir
membasahi kedua pipiku.
Kai terkekeh. "Bung, aku kira aku
bakal mati tadi." katanya. "Gara-gara ayam goreng itu."
"Kau mengambil resiko yang besar,
bodoh!" Seruku. Kai bangkit dari pangkuanku dan mengendikkan bahu.
"Aku bisa masuk Elysium kalau mati
dengan cara yang tadi. Dan aku bisa hidup lagi kok." Katanya enteng.
Aku menjitak kepalanya, "Jangan
permainkan hidupmu, cowok zombi."
"Teman-teman." Kata Sehun
tiba-tiba. Dia berdiri tegak, dan menatap pedih pemandangan di bawahnya.
"Air terjun?" Tanya Kai.
Yang benar saja, ternyata para harpy itu
membawa kami ke tujuan. Air terjun setinggi sepuluh meter tepat berada di bawah
kami.
Sehun mendesah frustasi, "Selamat
datang di air terjun Cheonjeyeon."
Suara tawa menggelegar di keheningan malam,
aku merapat ke sisi Sehun. Sehun menggamit tanganku.
"Akhirnya kalian datang juga."
Sebuah suara beraksen china sayup-sayup terdengar mendekat.
"Aku beramsumsi bahwa kalian sudah
mati karena serangan harpy. Boleh juga."
Sosoknya kian jelas, seorang pria sekitar
berumur 16 tahun dengan rambut hitam dan kantung mata yang gelap. Mengenakan
baju dengan rantai yang membelit tubuhnya.
"Siapa kau?" Tanya Sehun. Dia
melepaskan genggamannya dan melangkah maju.
"Salam putra Zeus." Katanya.
"Aku adalah satu-satunya keturunan manusia dari Kronos."
"Namaku Huang Zitao."
Dan seketika waktu berhenti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar