Me!

YO WASSUP !

Holla! I'm Nabila Alya Ramadhina but you can call me by nickname, it's Alzeya! i just joined blog this year so actually i don't even know what people usually do in their own blog~ but i'm writing here and i hope you willing to read those hehe i'm 14yo and i'm an exofan. asking me over here www.ask.fm/growlseductively and follow me www.twitter.com/xeyeol thank you xoxo

Jumat, 31 Januari 2014

Oh Sehun and the Goddess of Hearth (chapter 5)


Title : Oh Sehun and the Goddess of Hearth (Oh Sehun dan sang Dewi Perapian)

Main Casts : Sehun, Kai and Sharley (all of exo's members are including too)

Genre : Greek Mythology, Action, Thriller

Author : 92940lyf 

hi guys! i'm back with the fifth chapter, i hope you like it~ once again if you find any similarity with percy jackson, fanfiction ini memang terinspirasi dari novel percy jackson karyanya om rick riordan hehe. and maaf kalau bahasa tidak terlalu baku like 'banget' or 'nggak', i'm trying to make this fics with little comedy which i thought it fails, isn't it? -_-
Happy reading!

 Sehun P.O.V
            Mengunjungi seorang dewi yang kurasa sedikit tidak waras adalah sesuatu yang tidak diinginkan ketika kau baru saja mengintip tempat tinggalmu setelah mati. Tapi, karena kami buta petunjuk untuk melanjutkan misi, aku terpaksa mengikuti langkah Kai dan Sharley memasuki rumah tua, memasang tampang anti dewa-dewi yang terkeren setelah kejadian bersama dewi sinting yang gila kecepatan dan warna perak, Artemis. Dan dewi yang bau mawar karena menyukai mandi kembang, Persephone. Kali ini, aku tidak mau dipermainkan lagi.
            "Apa sebaiknya kita cari dewi yang lebih baik? Aphrodite atau Athena misalnya?" Tawarku. "Dewi Sihir kedengaran mengerikan."
            Sharley menggerutu. "Kau kira menemukan dewi itu semudah terbang dan mengeluarkan angin?"
Aku tersedak. "Mengeluarkan angin? Kentut?"
Sharley menjitak kepalaku sedangkan Kai tertawa, benar-benar tertawa. Sebutir berlian muncul di depan kakinya, lalu ia menginjaknya sampai berlian itu terbenam ke dalam tanah lagi.
            Kai mengusap matanya, seolah air mata menetes. "Dasar putra Zeus."
Sharley mengerlingkan mata, "Lagipula kau jangan berpikir Aphrodite dan Athena itu baik. Dewi tak ada yang sebaik Hestia."
            "Hestia juga nggak baik-baik amat, dia pernah membakar rambutku karena aku mencuri jatah makan malam Suho. Aku botak selama tiga bulan." Gerutu Kai.
            "Ya tentu saja! Kau memang anak yang bandel. Aku sebagai saudaramu sangat malu, tahu." Tukas Sharley. Aku terbahak-bahak.
Kai mendengus sebal, "Saudara! Aku kan anak tunggal."
Aku menjitak kepalanya, "Kau menyapaku, 'Hai, Saudara!' saat pertama kali bertemu." Kai nyengir.
            Akhirnya, kami menjejakkan kaki di halaman sebuah rumah tua sederhana itu, pohon-pohon yang tak lazim berbuah lonjong dengan warna merah mencolok dan tampak diberi glitter terdapat di sekitar halaman, dan cat rumahnya berubah-ubah dari hitam, hijau sampai biru.
            "Apa manusia biasa nggak menyadari ini semua?" Tanyaku. Kai mengangkat bahu dan Sharley menggelengkan kepala, benar-benar kompak. Kurasa aku iri?
            "Ini karena kabut, manusia biasa melihatnya seakan warna catnya tetap. Tidak berubah, dan keliatan seperti rumah awam." Jelas Sharley.
            Aku bisa melihat patung pemuda kekar dengan tato hello kitty di perut yang ototnya terbentuk, ya ampun, aku tidak mengerti apa maksud dewi Hecate, mungkin dia punya selera humor yang parah tapi dewa-dewi memang susah ditebak. Bukan gayaku banget.
            Kai berhenti berjalan, dia memegang pundakku, memberi tanda untuk berhenti sejenak. Aku mengerutkan kening, dia mengucek-ngucek matanya sambil menatap ke salah satu pohon. Sungguh, aku merasa khawatir kalau matanya bakalan berubah jadi emas.
            "Hm, teman-teman? Tolong jangan katakan kalau aku terkena kanker mata stadium empat karena melihat telinga berbicara." Katanya. Sharley ikut-ikutan menatap pohon itu dan terkejut juga.
Aku sedang tidak semangat betulan, jadi aku memutar bola mata dengan malas."Ya sudah, tidak akan kukatakan." Balasku acuh. Kai menelengkan kepalaku sehingga melihat sepasang telinga mengoceh tak jelas. Mulutku terbuka lima jari.
            "Demi Zeus," kataku. "Apakah sedetik lagi bakal kiamat?" Tanyaku. Tapi tidak terjadi apa-apa setelah itu, mungkin dunia ini baru saja kiamat.
Kedua telinga itu terbang ke arah kami, dan aku bisa mendengar mereka bilang,
"Eotteokajji~eotteokajji~eotteo eotteo ka ka ka jji~"
            Tanpa disadari, aku mengikuti ucapan mereka hanya saja aku ngerap. Luar biasa. Kai berdecak kagum dan mulai menunjukkan kehebatannya menari, aku baru tahu. Sharley menepuk dahinya, mungkin dia tidak akan menyukaiku lagi karena melihatku bernyanyi bersama sepasang telinga.
            Telinga kanan berhenti bernyanyi dan mulai berbicara, "Hai demigods, namaku Eotteo dan ini pacarku Kkaji." Katanya.
            Aku mengulum bibir berusaha tidak meledakkan tawa. "Oh, nama yang bagus."
Kkaji berputar seratus delapan puluh derajat, "Kupikir kalian tidak akan coba-coba masuk ke dalam sana, kan?"
            Sharley memindahkan tumpuan kakinya, "Ehm, sebenarnya kami berencana untuk bertemu Dewi Hecate." Tukasnya.
            "Aigoooo." Keluh Eotteo. "Terlalu berbahaya, kalian masih sangat muda, jangan sia-siakan hidupmu yang normal, Nak."
            Raut wajahku berubah drastis menjadi sangat oke, "Kurasa kalian harus mendengarkan mereka." Ujarku sambil meletakkan kedua telapak tangan di belakang kepala dan nyengir sumringah.
Kai mendengus, "Ini satu-satunya jalan, ayolah." Dia berjalan mendahului kami, Sharley mengendikkan bahu dan mengikuti Kai.
            Aku menjatuhkan tanganku dan cemberut, lalu mendesah frustasi, "Terima kasih atas peringatan kalian yang semakin membuat kunjungan ini menyenangkan."
Eotteo dan Kkaji terkekeh lalu terbang ke pohon yang sama.
            Melangkahkan kaki rasanya seperti disedot masuk ke dalam bumi. Belum lagi kedua mata patung kekar bertato hello kitty itu seakan mengikutiku. Petualangan ini tak akan pernah terlupakan. Sangat mengasyikkan.
Hm, omong-omong yang tadi itu sarkasme, jangan mengira aku berkata sungguh-sungguh.
            Hingga sampailah kami bertiga di depan pintu. Kai mencoba memutar kenop pintu, tapi terlalu licin. Sharley membantu mendorong pintu supaya terbuka sedangkan aku hanya menatap mereka tak percaya.
            "Ya ampun, apakah kalian tidak berpikir kalau pintu ini dialiri sihir?" Aku memutar bola malas.
Sharley mendesah. "Benar juga. Jadi apa yang harus kita lakukan?"
"Memencet bel?" Tanya Kai. Tapi rumah itu tidak memiliki fasilitas bel listrik.
            Aku meraba pintu dengan khidmat, "Anoixe porta diaboles—terbukalah pintu terkutuk!" Aku merapal mantra asal-asalan dengan bahasa Yunani. Lalu sedetik kemudian aku menyesal, mungkin aku akan dikutuk jadi katak sebentar lagi.
Asap kehijauan keluar dari sela-sela pintu, dan pintu menjeblak terbuka.
Kai dan Sharley berdengap menatapku, "Waw, Sehun, tumben kau pintar," kata mereka.
Aku mendengus sebal, "Aku memang pintar, hanya suka malas berpikir. Ayo, masuk!"
            Kami disambut oleh bau racun yang menusuk, siluet keunguan berpendar di penjuru ruangan, dan vial-vial berisi ramuan tersusun rapi di rak. Tidak ada peralatan lazim seperti kursi, meja atau lampu. Di setiap sudut ruangan, tanaman-tanaman pemakan serangga menyemprotkan racun seperti parfum. Aku berniat berlari keluar sebelum menemukan sesuatu yang lebih aneh tapi pintu tertutup sangat rapat.
Namun di dalam keanehan itu semua, aroma kayu manis menggelitik indra penciumanku, sangat menenangkan. Kai dan Sharley sedang menelaah ruangan ini, lalu aku menyentuh kayu manis itu.
            "Jangan sentuh itu!" Jerit Sharley tiba-tiba. Terlambat, aku sudah merasakan mual yang teramat sangat. Perutku serasa habis ditinju, aku berjalan sempoyongan seperti orang mabuk arak.
            Lalu tiba-tiba aku merasa ada yang terlepas dari wajahku, "Astaga!" Jeritku. Hidungku terlepas dari wajah, ya secara harfiah dia terbang mengitari kepalaku. Lalu aku berlari mengejar hidungku karena tidak bisa bernapas, hanya bernapas lewat mulut.
            Kai menganga dan sedetik kemudian dia terpingkal-pingkal di lantai, kutukannya tidak berjalan disini, mungkin karena sihir. Sharley terlihat panik, ia membantuku menangkap hidung. Dia menarik busurnya bersiap untuk memanah, aku buru-buru menghalanginya.
            "Apa-apaan?!" Gerutunya.
"Kau mau memanah hidungku? Kau mau mencicipi hujan ingus?" Tanyaku. Dia meringis jijik dan menurunkan busurnya sambil menginjak tangan Kai yang masih berguling-guling di lantai.
            "Aduh, santai dong, Nona yang Bercahaya!" Keluh Kai.
Sharley melotot, "Jangan sebut aku dengan panggilan menggelikan itu, Kai!"
            Selagi mereka berdua bertengkar, aku menatap pasrah hidungku yang sedang berputar-putar dan terbang tanpa arah.
            Asap berwarna ungu mengepul di tengah-tengah ruangan, Kai dan Sharley menutup hidungnya sedangkan aku mendesah sedih karena tidak punya hidung lagi.
            Asap itu berpendar dan menghilap, menapakkan sesosok wanita cantik namun memiliki aura menyeramkan. Dia memakai baju serba hitam, bunga-bunga menghiasi kepalanya, dan ditangannya ada sebuah lampu. Wanita itu mendelik ke arah kami bertiga.
            "Kenapa disini sangat ribut?" Tanyanya. Suaranya begitu merdu seakan dia sedang merapal mantra pembuat ramuan.
            "Hidungku terbang!" Seruku. Wanita itu tertawa dan menunjuk hidungku yang bertengger di daun tanaman beracun. Seketika hidung itu pun menempel lagi di wajahku, aku memekik gembira.
            "Terima kasih, ehm... Dewi Hecate?"
            Dia tersenyum, "Aku hanya duplikatnya, kalian ingin bertemu dengannya? Mari kuantar." Dia melayang rendah menuju ruangan yang ditutupi gorden berwarna ungu. Aku masih mencerna maksudnya tentang duplikat, memangnya kunci?
            "Apa hidungmu terasa sama, Sehun?" Tanya Kai setengah meledek.
            Aku cemberut, "Geli." Kai menahan senyum dan melanjutkan jalan.
            Wanita itu menyibakkan gorden, menyebabkan serbuk berwarna emas berterbangan. Kami bertiga bersin, aku memegangi hidungku, takut-takut dia terbang lagi. Ruangan itu terlihat seperti ruangan peramal pada umumnya. Bola yang bersinar untuk melihat citra masa depan, voodoo doll, dan benda-benda mengerikan lainnya. Lalu ada vial-vial lagi berisi ramuan warna-warni yang bergejolak, katak beracun dengan warna yang mencolok melompat kesana-kemari. Di tengah ruangan, dua orang wanita sibuk berdebat, mereka diapit oleh dua anjing yang besar juga menyeramkan. Wanita yang menggiring kami berdecak kesal.
            "Halo? Bisakah kita tidak memperlihatkan etika yang buruk?" Tukasnya. Kedua wanita yang semula berdebat menjadi diam seribu bahasa, salah satunya berdiri tegak.
            Wanita yang satunya lagi tetap duduk sambil berdeham. "Oh, kita kedatangan tamu, ya?" Katanya ceria. "Aku Hecate, dan yang dua wanita ini adalah wujud lain dari aku, Kleidouchos," dia menunjuk wanita di sampingnya yang sedang memegang kunci besar .
            "Dan Prosphoros." Dia menoleh ke arah wanita di sebelah kami.
            Hecate menatapku lekat lalu tersenyum, "Kau baik-baik saja, putra Zeus?"
            Aku berjengit, "I-iya, tentu saja. Hanya saja tadi hidungku mencoba belajar terbang." Dewi itu tertawa, aku ikutan tertawa gugup sambil menggaruk kepala yang sama sekali tidak gatal.
            "Halo, Kim Jongin. Sudah lima tahun semenjak aku bermain denganmu." Kata Hecate.
            Kai mengerutkan kening, "Apa sebelumnya kita pernah bertemu?"
            Hecate mengerlingkan mata, "Aku menjaga nyawa di Dunia Bawah."
            "Anda Melinoe?" Tanya Kai, dia hampir terjengkang ke belakang.
            Sang dewi mengelus kepala anjing peliharaannya itu, "Iya. Aku punya banyak wujud, aku eksis dimana pun. Laut, langit dan bumi. Berterima kasih kepada Zeus."
            Dia menunjuk ke arah Sharley, "Dan kau putri Apollo, kekuatanmu sangat menakjubkan. Aku suka penyanyi."
            Sharley tersenyum gugup, "Terima kasih, Dewi."
            Hecate berdiri dari kursinya yang empuk, lalu bertepuk tangan. "Kurasa kalian butuh makan. Biar kedua wanita murah hati ini mengantar kalian ke dapur."
            Dia berjalan menghampiriku, dan menggamit tanganku. "Kecuali putra Zeus ini, ada banyak hal yang akan kami lakukan." Hecate mengedipkan matanya padaku. Aku nyengir garing.
            Kleuidouchos dan Prosphoros menggiring Sharley dan Kai keluar dari ruangan menyisakan aku bersama dewi yang sempat kubilang menyeramkan, tapi lumayan keren juga. Hecate menyuruhku duduk di hadapannya, aku susah payah menelan ludah melihat anjing peliharaannya itu menggeram.
            "Apakah dia tidak akan menggigitku?" Tanyaku gugup.
            Hecate tertawa, "Tenang saja, sayangku. Mereka anjing yang baik."
            Aku memaksakan senyum, "Oh, ya, betul, Dewi." Ujarku. Kedua anjing itu maju selangkah, menggeram dan air liurnya menetes.
            Dewi Hecate menatapku lekat-lekat lagi, "Baiklah, Oh Sehun. Apa yang membuatmu datang kemari? Biasanya demigod yang datang selalu meminta bantuan." Dia mengerlingkan mata, jengkel.
            Aku mengusap-usap kedua pipi, "Sebenarnya juga saya tidak mau kemari," kataku. Dewi itu melotot, aku buru-buru melanjutkan, "Bukan begitu maksud saya, hanya saja patung bertato hello kitty itu sangat mengerikan."
            Hecate terkekeh, "Ya ampun, Nak. Kau terlalu jujur. Lanjutkan."
            Aku berdeham, "Tapi memang benar, kami datang kesini untuk meminta bantuan anda. Jika tidak keberatan."
            Dewi Hecate melipat tangannya di dada, dan mendesah pelan, "Misi ya? Aku terlalu jengah karena dimintai bantuan terus-menerus oleh para demigod tolol, tapi aku sangat menyukai anak Zeus seperti Jason, Hercules, dan Perseus. Baiklah, apa yang kau butuhkan?"
            Aku mendadak optimis, "Kami ditugaskan untuk membebaskan dewi Hestia. Tapi, kami tidak tahu keberadaannya, saya hanya akan bertanya tentang keberadaannya."
            Dia menaikkan alis, "Itu saja?" Tanyanya. "Kau tidak tahu betapa berbahayanya membebaskan dewi yang diculik, si penawan sangat  kuat dan mengerikan."
"Anda tahu siapa?" Tanyaku.
            Dewi itu tersenyum, "Tentu saja. Tapi aku tidak bisa memberitahumu secara detail, dewi tidak boleh mencampuri urusan demigod."
            Aku cemberut, "Jadi kenapa kau bilang 'itu saja?' kalau tidak bisa membantu?"
            "Ini juga peraturan ayahmu, Bodoh. Aku tidak mau dimarahi terus. Jadi, mau bagaimana lagi?" Dia mendengus. "Tapi, aku bisa membantumu jika kau juga melaksanakan perintahku."
            Aku berusaha mencerna kalimatnya, "Oh, Jadi anda minta imbalan ya?"
            Dewi Hecate menjitak kepalaku, "Dasar, Burung Petir! Jangan samakan aku seperti manusia. Mau bantuanku tidak? Aku bisa membuatmu tetap hidup."
            Aku terdiam, masih tidak mengerti kenapa dia memanggilku burung petir, mungkin karena aku punya sayap dan berpetir?
            "Baiklah, katakan apa yang anda inginkan!" Balasku. Dia menusuk-nusuk voodoo doll. Boneka itu memuncratkan darah. Aku bergidik ngeri.
            Dewi Hecate menyeringai, "Tanaman penemuanku telah dicuri, aku ingin kau membawanya kembali padaku. Kalau bisa bunuh juga pencurinya."
            Aku menganga, mudah saja dia mengatakannya. "Tanaman apa?"
            "Ganja." Jawab Hecate murung. "Dulu sekali, aku meracik obat yang sangat ampuh untuk meningkatkan stamina manusia. Karena aku bukan dewi obat-obatan, aku memberikannya pada Apollo sang Dewa Obat-obatan. Apollo dengan tololnya tidak menjaga tanaman itu, sehingga dicuri, menyebalkan."
            "Siapa yang mencurinya?" Tanyaku.
            Dewi itu semakin murung, "Cacus. Dia hobi sekali mencuri, padahal dia anak Vulcan—Hephaestus, bukan Hermes."
            "Cacus ya? Jadi aku harus membunuh raksasa bernapas api." Kataku. "Menyenangkan sekali, sungguh."
            Dewi Hecate mendengus, "Jangan bersarkasme, Nak." Tukasnya. "Hm, Cacus tinggal di Italia, kau pasti tidak keberatan berkunjung sebentar, ya kan? Hanya sampai jam 2 siang."
            "Oh, berkunjung ke negeri favoritku! Mengasyikkan, betul! Apalagi sambil membunuh raksasa bernapas api." Timpalku.
            "Ya, tentu sa—" dia terdiam sebentar, lalu mendesah. "Kau bersarkasme lagi ya?"
            Aku nyengir. " Hehehe maafkan aku. Tapi bagaimana caranya aku pergi ke sana?"
            Dewi Hecate beranjak dari tempat duduknya, "Mudah, aku kan dewi. Tutup matamu, Oh Sehun." Katanya, dia mengadahkan kedua tangannya lalu meniupkan udara. Seketika asap berwarna ungu mengelilingi kepalaku, aku memejamkan mata.
            Samar-samar suara Dewi Hecate mengantarkanku ke dalam kegelapan lagi. "Sampaikan salamku pada Italia!"
******
            Cahaya bulan keperakan berpendar menerangi malam, ditaburi sejuta bintang yang berkelap-kelip. Lampu berwarna-warni tergantung di sekitar jalanan, dan monumen Pisa berdiri megah di hadapanku. Semerbak wangi keju meleleh membuat perutku keroncongan. Tidak ada seorang pun yang menyadari seorang anak berwajah oriental yang muncul tiba-tiba.
            "Halo, Italia. Kau dapat salam dari Hecate." Kataku lesu.
Lalu menoleh ke arah restoran khas italia. "Apa aku harus mulai dari sana?" Tanyaku pada diri sendiri sambil mengusap-usap perut.
            Aku melihat Aegis yang sekarang berbentuk jam tangan, jam 11 KST. Sedangkan di sini sudah larut malam.
            Aku merogoh tas lalu mendapati segepok uang lira—mata uang Italia. "Hecate benar-benar keren." Lalu berjalan mendekati restoran khas Italia itu.
            Belum sempat mendorong pintu, aku mendengar suara geraman di gorong-gorong, dan seketika api menyembur keluar dari lubang selokan di tengah jalan.
            Aku menggerutu, lalu bergumam mengikuti cara berbicara Hecate, "Oh Sehun, kau tidak diizinkan makan dulu!"
            Bertarung melawan monster bernapas api di malam hari sudah sangat buruk, dan sekarang aku harus masuk ke gorong-gorong untuk bertemu dengannya. Apa Cacus tidak bisa elit sedikit?
            Aku masuk ke dalam lubang, dan menjejakkan kaki di aliran air yang mengalir pelan. Aku menghunus pedang, cahaya emasnya berpendar menerangi jalan. Langkah kakiku bergema, terdengar di sepanjang gorong-gorong.
            Terdengar langkah kaki yang tersaruk-saruk berjalan sekitar lima meter di depanku. Aku menelan ludah, berusaha tenang. Dengan langkah kaki yang pelan, dan tidak menimbulkan bunyi, aku beringsut mendekati sumber suara. Aku mengintip di balik tumpukan rongsokan, sosok itu bergerak kesana-kemari sambil mengumpat. Aku maju selangkah, kali ini aku bisa melihat sosok monster mengerikan berbadan setengah naga setengah kuda. Dari kepala sampai pinggang, bersisik bagaikan naga, lalu ada kepala ular yang menggeliut di pinggangnya, dari pinggang sampai kaki dia berkaki empat dan berbulu coklat yang halus seperti kuda. Ekornya berkibas-kibar menyebarkan api.
            "Cacus." Aku bergumam pelan, "Ya ampun, bentuk yang absurd, Pak."
            Cacus berhenti bergerak dan mengendus-endus, dia menelaah seisi ruangan dengan tatapan awas. Aku membalikkan tubuh, bersembunyi di balik tong minyak.
            "Bau biji ek." Katanya. "Hah, aku kedatangan anak Zeus, hebat!" Dia melangkah semakin dekat ke tempatku bersembunyi, aku berkomat-kamit pada Zeus.
            "Disitu kau rupanya! Tidak bisa bersembunyi dari Cacus! Rasakan!" Dia menyembur api dari kepala dan pinggangnya. Aegis terbentuk menjadi perisai bulat sempurna, menghalau semburan api, tapi tidak bisa bertahan lama. Aegis terbuat dari emas, dan emas adalah penghantar panas yang baik. Sip.
            Lalu aku bergerak cepat, menghidari semburan apinya yang makin besar. Keringat membasahi tubuhku, sebentar lagi aku hampir matang. Aku berlari menuju tangga kayu, Cacus berputar dengan lambat, kelemahan raksasa. Selagi dia berusaha menghadap ke arahku, aku memanjat tangga. Lalu memekik dengan gaya heroik seperti, "Demi Zeus!!!" dan melompat ke punggung kuda Cacus. Cacus mengangkat bokongnya, menggerakan tubuhnya dengan liar, aku hampir kehilangan keseimbangan. Lalu aku menghunus pedang dan menebas leher Cacus, tapi pedangku hanya menembus lehernya seperti aku menebas angin.
            "Lho kok bisa?" Tanyaku kebingungan. Cacus mengangkat bokongnya lagi, kali ini lebih tinggi. Aku terbang, dengan cepat mengatur angin agar aku tidak jatuh, mendarat pelan-pelan sambil terengah-engah.
            "Hahaha, aku tidak bisa dibuyarkan dengan emas imperial atau perunggu langit!" Serunya. "Api untuk api."
            Ular-ular di pinggangnya mendesis ke arahku. "Aku tidak percaya bakal dikunjungi anak Zeus. Wah, makanan yang paling lezat."
            Aku meringis, "Maaf, Pak Cacus. Kita pakai cara yang baik saja ya? Saya datang kemari hanya mau mengambil ganja milik Hecate."
            Dia melotot, "Tidak boleh! Itu asetku yang paling berharga! Ya ampun, ganja laku dimana-mana. Aku kaya, tidak perlu merakit barang lagi seperti yang dilakukan anak Vulcan yang lain."
            Aku memutar bola, tampak tidak antusias. "Kau tinggal memberikan itu padaku, kita salaman dan aku akan pergi. Seperti itu saja, disini panas banget, aku hampir matang." Kataku.
            Cacus tertawa kejam, "aku tidak mungkin membiarkanmu pergi! Kau akan menjadi sarapan yang paling nikmat, dan aku akan tetap kaya. Menyenangkan, ya kan?"
            Dia berjalan mendekati sebuah kandang besar, lalu mengeluarkan seekor babi yang gempal. Cacus menyemburkan api sehingga babi yang tadi berubah warna menjadi coklat.
            Aku menatapnya jijik, "Ew, jangan katakan kalau kau akan—"
            Cacus membuka mulut naganya lebar-lebar, dan melahap babi itu tanpa dikuyah terlebih dahulu.
            Dia bersendawa, "Ya, aku memakannya."
            Selagi dia sibuk dengan makanannya, aku menelaah penjuru ruangan, menemukan tong minyak yang terisi penuh.
            Aku menarik napas panjang, "Baiklah, aku tidak punya banyak waktu."
           Aku menghunus pedang emas dan berlari ke arah Cacus yang sedang minum Kool-Aid. Sebelum dia berbalik, aku menendang badan kudanya, dia menjadi limbung dan hilang keseimbangan dan salah satu kakinya menendang tanganku sehingga pedangku terhempas. Lalu dia  menabrak tong minyak dan minyak keruh itu tumpah kemana-mana, aku menyeringai.
            Cacus menggeram, "Sialan kau!" Dia menyemburkan api lagi, tapi aku mengeluarkan sayap dan mengepakkannya, menghindar dari api. Cacus menatapku bingung, "Sayap?"         
            Aku melayang kesana-kemari untuk menciptakan angin, Cacus tersadar kembali dan menyemburkan api sambil merecokiku, "Dasar elang pematuk pohon!" "Dasar kentut bau bangkai!" "Oh, aku menumpahkan Kool-Aid yang terakhir!"
            Aku terkekeh, "Dasar monster yang bawel." Dia menyemburkan api ke atas, aku membelokkan angin, sehingga api terbawa seolah-olah aku sedang mengendalikan api. Aku mengarahkan api ke minyak tanah yang tergenang, api itu merambat dengan cepat.
            Cacus panik, "Apa-apaan?!" Dia mengibaskan ekornya, barangkali dia mengira ekornya itu normal, tapi ekornya justru menyemburkan api lebih banyak.
            Aku mendarat di tumpukan balok kayu, mengedipkan mata, "Api untuk api."        
            Lama kelamaan, api semakin meninggi dan melahap Cacus ke dalamnya. Dia pun terbuyarkan menjadi debu, lalu api mereda. Aku buru-buru terbang mencari ganja, dan dengan cepat mengambilnya. Aku memasukkan ganja itu ke dalam tas dan terbang menjauhi gorong-gorong.
            "Masih jam satu siang nih." Gumamku ceria. Lalu menyeringai ke arah restoran yang masih buka, dan masuk dengan gembira.
            "Pasta fettucini alfredo, okay?" Pesanku. Sang pelayan mengangguk ramah.                      
            Setelah menyantap makanan khas Italia itu tiba-tiba lampu warna-warni di Italia menjadi hitam dan aku merasa limbung.

******
            Dewi Hecate tersenyum lebar ke arahku, aku mengucek-ngucek mata dan duduk tegak.
            Sang dewi nyengir, "Mana?"
            Aku mengaduk-aduk isi tas, dan memberikan tanaman yang terbungkus kotak kaca padanya. Aku terlihat berantakan dan bau gosong, jaket denimku hilang. Dewi Hecate berbinar-binar.
            "Mana bantuanku?" Tanyaku. Dia mengedipkan mata lalu beranjak ke rak.
            "Berjalanlah ke utara, dan temui dia di sebuah air terjun." Katanya 
            Hecate memajukan tubuhnya ke arahku, aku mundur. "Ambilah vial ini." Dia meletakkan sebuah vial berisi cairan berwarna merah di kedua tanganku.
            Aku menatapnya bingung, "Untuk apa?"
Hecate menyeringai, "Untuk membunuh saudaramu, tentu saja."

2 komentar:

  1. waaaa kak alzeyaaaaaaa

    ahh rlly nice fanfiction keep goingg~
    kalo boleh tauu kira-kira chapternya sampe berapaan ya??

    waiting for the next chap~ hwaiting!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi faraaah~
      Aw thank you very much sweetie! ♡ aku juga belum tahu sih, masih dalam proses penulisan juga. So, yah kalau kira-kira sih sampai 9-10 kali ya. Hehe
      Thank you! Hwaiting!

      Hapus