Title : Oh Sehun and the Goddess of Hearth (Oh Sehun dan sang Dewi Perapian)
Main Casts : Sehun, Kai and Sharley (all of exo's members are including too)
Genre : Greek Mythology, Action, Thriller
Author : 92940lyf
hi guys! i'm back with the fifth chapter, i hope you like it~ once again if you find any similarity with percy jackson, fanfiction ini memang terinspirasi dari novel percy jackson karyanya om rick riordan hehe. and maaf kalau bahasa tidak terlalu baku like 'banget' or 'nggak', i'm trying to make this fics with little comedy which i thought it fails, isn't it? -_-
Happy reading!
Sehun P.O.V
Mengunjungi
seorang dewi yang kurasa sedikit tidak waras adalah sesuatu yang tidak
diinginkan ketika kau baru saja mengintip tempat tinggalmu setelah mati. Tapi, karena kami buta
petunjuk untuk melanjutkan misi, aku terpaksa mengikuti langkah Kai dan Sharley
memasuki rumah tua, memasang tampang anti dewa-dewi yang terkeren setelah
kejadian bersama dewi sinting yang gila kecepatan dan warna perak, Artemis. Dan
dewi yang bau mawar karena menyukai mandi kembang, Persephone. Kali ini, aku
tidak mau dipermainkan lagi.
"Apa sebaiknya
kita cari dewi yang lebih baik? Aphrodite atau Athena misalnya?" Tawarku.
"Dewi Sihir kedengaran mengerikan."
Sharley menggerutu.
"Kau kira menemukan dewi itu semudah terbang dan mengeluarkan angin?"
Aku
tersedak. "Mengeluarkan angin? Kentut?"
Sharley
menjitak kepalaku sedangkan Kai tertawa, benar-benar tertawa. Sebutir berlian
muncul di depan kakinya, lalu ia menginjaknya sampai berlian itu terbenam ke
dalam tanah lagi.
Kai mengusap matanya,
seolah air mata menetes. "Dasar putra Zeus."
Sharley
mengerlingkan mata, "Lagipula kau jangan berpikir Aphrodite dan Athena itu
baik. Dewi tak ada yang sebaik Hestia."
"Hestia juga
nggak baik-baik amat, dia pernah membakar rambutku karena aku mencuri jatah
makan malam Suho. Aku botak selama tiga bulan." Gerutu Kai.
"Ya tentu saja!
Kau memang anak yang bandel. Aku sebagai saudaramu sangat malu, tahu." Tukas
Sharley.
Aku terbahak-bahak.
Kai
mendengus sebal, "Saudara! Aku kan anak tunggal."
Aku
menjitak kepalanya, "Kau menyapaku, 'Hai, Saudara!' saat pertama kali
bertemu." Kai nyengir.
Akhirnya,
kami menjejakkan kaki di halaman sebuah rumah tua sederhana itu, pohon-pohon
yang tak lazim berbuah lonjong dengan warna merah mencolok dan tampak diberi glitter terdapat di sekitar halaman, dan
cat rumahnya berubah-ubah dari hitam, hijau sampai biru.
"Apa manusia
biasa nggak menyadari ini semua?" Tanyaku. Kai mengangkat bahu dan Sharley
menggelengkan kepala, benar-benar kompak. Kurasa aku iri?
"Ini karena
kabut, manusia biasa melihatnya seakan warna catnya tetap. Tidak berubah, dan
keliatan seperti rumah awam." Jelas Sharley.
Aku bisa
melihat patung pemuda kekar dengan tato hello kitty di perut yang ototnya
terbentuk, ya ampun, aku tidak mengerti apa maksud dewi Hecate, mungkin dia
punya selera humor yang parah tapi dewa-dewi memang susah ditebak. Bukan gayaku banget.
Kai berhenti berjalan,
dia memegang pundakku, memberi tanda untuk berhenti sejenak. Aku mengerutkan
kening, dia mengucek-ngucek matanya sambil menatap ke salah satu pohon.
Sungguh, aku merasa khawatir kalau matanya bakalan berubah jadi emas.
"Hm, teman-teman?
Tolong jangan katakan kalau aku terkena kanker mata stadium empat karena
melihat telinga berbicara." Katanya. Sharley ikut-ikutan menatap pohon itu
dan terkejut juga.
Aku
sedang tidak semangat betulan, jadi aku memutar bola mata dengan malas."Ya sudah, tidak
akan kukatakan." Balasku acuh. Kai menelengkan kepalaku sehingga melihat
sepasang telinga mengoceh tak jelas. Mulutku terbuka lima jari.
"Demi
Zeus," kataku. "Apakah sedetik lagi bakal kiamat?" Tanyaku. Tapi
tidak terjadi apa-apa setelah itu, mungkin dunia ini baru saja kiamat.
Kedua telinga itu terbang ke arah kami, dan aku bisa
mendengar mereka bilang,
"Eotteokajji~eotteokajji~eotteo
eotteo ka ka ka jji~"
Tanpa disadari, aku
mengikuti ucapan mereka hanya saja aku ngerap. Luar biasa. Kai berdecak kagum
dan mulai menunjukkan kehebatannya menari, aku baru tahu. Sharley menepuk
dahinya, mungkin dia tidak akan menyukaiku lagi karena melihatku bernyanyi
bersama sepasang telinga.
Telinga kanan berhenti
bernyanyi dan mulai berbicara, "Hai demigods, namaku Eotteo dan ini
pacarku Kkaji." Katanya.
Aku mengulum bibir berusaha
tidak meledakkan tawa. "Oh, nama yang bagus."
Kkaji
berputar seratus delapan puluh derajat, "Kupikir kalian tidak akan
coba-coba masuk ke dalam sana, kan?"
Sharley memindahkan
tumpuan kakinya, "Ehm, sebenarnya kami berencana untuk bertemu Dewi Hecate."
Tukasnya.
"Aigoooo."
Keluh Eotteo. "Terlalu berbahaya, kalian masih sangat muda, jangan
sia-siakan hidupmu yang normal, Nak."
Raut wajahku berubah
drastis menjadi sangat oke, "Kurasa kalian harus mendengarkan
mereka." Ujarku sambil meletakkan kedua telapak tangan di belakang kepala
dan nyengir sumringah.
Kai
mendengus, "Ini satu-satunya jalan, ayolah." Dia berjalan mendahului
kami, Sharley mengendikkan bahu dan mengikuti Kai.
Aku menjatuhkan
tanganku dan cemberut, lalu mendesah frustasi, "Terima kasih atas
peringatan kalian yang semakin membuat kunjungan ini menyenangkan."
Eotteo
dan Kkaji terkekeh lalu terbang ke pohon yang sama.
Melangkahkan kaki
rasanya seperti disedot masuk ke dalam bumi. Belum lagi kedua mata patung kekar
bertato hello kitty itu seakan mengikutiku. Petualangan ini tak akan pernah
terlupakan. Sangat mengasyikkan.
Hm,
omong-omong yang tadi itu sarkasme, jangan mengira aku berkata sungguh-sungguh.
Hingga sampailah kami
bertiga di depan pintu. Kai mencoba memutar kenop pintu, tapi terlalu licin.
Sharley membantu mendorong pintu supaya terbuka sedangkan aku hanya menatap
mereka tak percaya.
"Ya ampun, apakah
kalian tidak berpikir kalau pintu ini dialiri sihir?" Aku memutar bola
malas.
Sharley
mendesah. "Benar juga. Jadi apa yang harus kita lakukan?"
"Memencet
bel?" Tanya Kai. Tapi rumah itu tidak memiliki fasilitas bel listrik.
Aku meraba pintu
dengan khidmat, "Anoixe porta
diaboles—terbukalah pintu terkutuk!" Aku merapal mantra asal-asalan
dengan bahasa Yunani. Lalu sedetik kemudian aku menyesal, mungkin aku akan
dikutuk jadi katak sebentar lagi.
Asap
kehijauan keluar dari sela-sela pintu, dan pintu menjeblak terbuka.
Kai
dan Sharley berdengap menatapku, "Waw, Sehun, tumben kau pintar,"
kata mereka.
Aku
mendengus sebal, "Aku memang pintar, hanya suka malas berpikir. Ayo,
masuk!"
Kami disambut oleh bau
racun yang menusuk, siluet keunguan berpendar di penjuru ruangan, dan vial-vial
berisi ramuan tersusun rapi di rak. Tidak ada peralatan lazim seperti kursi,
meja atau lampu. Di setiap sudut ruangan, tanaman-tanaman pemakan serangga
menyemprotkan racun seperti parfum. Aku berniat berlari keluar sebelum
menemukan sesuatu yang lebih aneh tapi pintu tertutup sangat rapat.
Namun
di dalam keanehan itu semua, aroma kayu manis menggelitik indra penciumanku,
sangat menenangkan. Kai
dan Sharley sedang menelaah ruangan ini, lalu aku menyentuh kayu manis itu.
"Jangan sentuh itu!"
Jerit Sharley tiba-tiba. Terlambat, aku sudah merasakan mual yang teramat
sangat. Perutku serasa habis ditinju, aku berjalan sempoyongan seperti orang
mabuk arak.
Lalu tiba-tiba aku
merasa ada yang terlepas dari wajahku, "Astaga!" Jeritku. Hidungku terlepas
dari wajah, ya secara harfiah dia terbang mengitari kepalaku. Lalu aku berlari
mengejar hidungku karena tidak bisa bernapas, hanya bernapas lewat mulut.
Kai menganga dan
sedetik kemudian dia terpingkal-pingkal di lantai, kutukannya tidak berjalan disini,
mungkin karena sihir. Sharley terlihat panik, ia membantuku menangkap hidung.
Dia menarik busurnya bersiap untuk memanah, aku buru-buru menghalanginya.
"Apa-apaan?!"
Gerutunya.
"Kau
mau memanah hidungku? Kau mau mencicipi hujan ingus?" Tanyaku. Dia meringis
jijik dan menurunkan busurnya sambil menginjak tangan Kai yang masih
berguling-guling di lantai.
"Aduh, santai
dong, Nona yang Bercahaya!" Keluh Kai.
Sharley
melotot, "Jangan
sebut aku dengan panggilan menggelikan itu, Kai!"
Selagi mereka berdua
bertengkar, aku menatap pasrah hidungku yang sedang berputar-putar dan terbang
tanpa arah.
Asap
berwarna ungu mengepul di tengah-tengah ruangan, Kai dan Sharley menutup
hidungnya sedangkan aku mendesah sedih karena tidak punya hidung lagi.
Asap itu berpendar dan
menghilap, menapakkan sesosok wanita cantik namun memiliki aura menyeramkan.
Dia memakai baju serba hitam, bunga-bunga menghiasi kepalanya, dan ditangannya
ada sebuah lampu. Wanita itu mendelik ke arah kami bertiga.
"Kenapa disini
sangat ribut?" Tanyanya. Suaranya begitu merdu seakan dia sedang merapal
mantra pembuat ramuan.
"Hidungku
terbang!" Seruku. Wanita itu tertawa dan menunjuk hidungku yang bertengger
di daun tanaman beracun. Seketika hidung itu pun menempel lagi di wajahku, aku
memekik gembira.
"Terima kasih,
ehm... Dewi Hecate?"
Dia tersenyum,
"Aku hanya duplikatnya, kalian ingin bertemu dengannya? Mari
kuantar." Dia melayang rendah menuju ruangan yang ditutupi gorden berwarna
ungu. Aku masih mencerna maksudnya tentang duplikat, memangnya kunci?
"Apa hidungmu
terasa sama, Sehun?" Tanya Kai setengah meledek.
Aku cemberut,
"Geli." Kai menahan senyum dan melanjutkan jalan.
Wanita itu menyibakkan
gorden, menyebabkan serbuk berwarna emas berterbangan. Kami bertiga bersin, aku
memegangi hidungku, takut-takut dia terbang lagi. Ruangan itu terlihat
seperti ruangan peramal pada umumnya. Bola yang bersinar untuk melihat citra
masa depan, voodoo doll, dan benda-benda mengerikan lainnya. Lalu ada vial-vial
lagi berisi ramuan warna-warni yang bergejolak, katak beracun dengan warna yang
mencolok melompat kesana-kemari. Di tengah ruangan, dua orang wanita sibuk
berdebat, mereka diapit oleh dua anjing yang besar juga menyeramkan. Wanita
yang menggiring kami berdecak kesal.
"Halo? Bisakah
kita tidak memperlihatkan etika yang buruk?" Tukasnya. Kedua wanita yang
semula berdebat menjadi diam seribu bahasa, salah satunya berdiri tegak.
Wanita yang satunya
lagi tetap duduk sambil berdeham. "Oh, kita kedatangan tamu, ya?"
Katanya ceria. "Aku Hecate, dan yang dua wanita ini adalah wujud lain dari
aku, Kleidouchos," dia menunjuk wanita di sampingnya yang sedang memegang
kunci besar .
"Dan
Prosphoros." Dia menoleh ke arah wanita di sebelah kami.
Hecate menatapku lekat
lalu tersenyum, "Kau baik-baik saja, putra Zeus?"
Aku berjengit,
"I-iya, tentu saja. Hanya saja tadi hidungku mencoba belajar
terbang." Dewi itu tertawa, aku ikutan tertawa gugup sambil menggaruk
kepala yang sama sekali tidak gatal.
"Halo, Kim
Jongin. Sudah lima tahun semenjak aku bermain denganmu." Kata Hecate.
Kai mengerutkan
kening, "Apa sebelumnya kita pernah bertemu?"
Hecate mengerlingkan
mata, "Aku menjaga nyawa di Dunia Bawah."
"Anda
Melinoe?" Tanya Kai, dia hampir terjengkang ke belakang.
Sang dewi mengelus
kepala anjing peliharaannya itu, "Iya. Aku punya banyak wujud, aku eksis
dimana pun. Laut, langit dan bumi. Berterima kasih kepada Zeus."
Dia menunjuk ke arah
Sharley, "Dan kau putri Apollo, kekuatanmu sangat menakjubkan. Aku suka
penyanyi."
Sharley tersenyum
gugup, "Terima kasih, Dewi."
Hecate berdiri dari
kursinya yang empuk, lalu bertepuk tangan. "Kurasa kalian butuh makan.
Biar kedua wanita murah hati ini mengantar kalian ke dapur."
Dia berjalan
menghampiriku, dan menggamit tanganku. "Kecuali putra Zeus ini, ada banyak
hal yang akan kami lakukan." Hecate mengedipkan matanya padaku. Aku
nyengir garing.
Kleuidouchos dan
Prosphoros menggiring Sharley dan Kai keluar dari ruangan menyisakan aku
bersama dewi yang sempat kubilang menyeramkan, tapi lumayan keren juga. Hecate
menyuruhku duduk di hadapannya, aku susah payah menelan ludah melihat anjing
peliharaannya itu menggeram.
"Apakah dia tidak
akan menggigitku?" Tanyaku gugup.
Hecate tertawa,
"Tenang saja, sayangku. Mereka
anjing yang baik."
Aku memaksakan senyum,
"Oh, ya, betul, Dewi." Ujarku. Kedua anjing itu maju
selangkah, menggeram dan air liurnya menetes.
Dewi
Hecate menatapku lekat-lekat lagi, "Baiklah, Oh Sehun. Apa yang membuatmu
datang kemari? Biasanya demigod yang datang selalu meminta bantuan." Dia
mengerlingkan mata, jengkel.
Aku mengusap-usap
kedua pipi, "Sebenarnya juga saya tidak mau kemari," kataku. Dewi itu
melotot, aku buru-buru melanjutkan, "Bukan begitu maksud saya, hanya saja
patung bertato hello kitty itu sangat mengerikan."
Hecate terkekeh,
"Ya ampun, Nak. Kau terlalu jujur. Lanjutkan."
Aku berdeham,
"Tapi memang benar, kami datang kesini untuk meminta bantuan anda. Jika
tidak keberatan."
Dewi Hecate melipat
tangannya di dada, dan mendesah pelan, "Misi ya? Aku terlalu jengah karena
dimintai bantuan terus-menerus oleh para demigod tolol, tapi aku sangat
menyukai anak Zeus seperti Jason, Hercules, dan Perseus. Baiklah, apa yang kau
butuhkan?"
Aku mendadak optimis,
"Kami ditugaskan untuk membebaskan dewi Hestia. Tapi, kami tidak tahu
keberadaannya, saya hanya akan bertanya tentang keberadaannya."
Dia menaikkan alis,
"Itu saja?" Tanyanya. "Kau tidak tahu betapa berbahayanya
membebaskan dewi yang diculik, si penawan sangat kuat dan mengerikan."
"Anda
tahu siapa?" Tanyaku.
Dewi itu tersenyum,
"Tentu saja. Tapi aku tidak bisa memberitahumu secara detail, dewi tidak
boleh mencampuri urusan demigod."
Aku cemberut,
"Jadi kenapa kau bilang 'itu saja?' kalau tidak bisa membantu?"
"Ini juga
peraturan ayahmu, Bodoh. Aku tidak mau dimarahi terus. Jadi, mau bagaimana
lagi?" Dia mendengus. "Tapi, aku bisa membantumu jika kau juga
melaksanakan perintahku."
Aku berusaha mencerna
kalimatnya, "Oh, Jadi anda minta imbalan ya?"
Dewi Hecate menjitak
kepalaku, "Dasar, Burung Petir! Jangan samakan aku seperti manusia. Mau
bantuanku tidak? Aku bisa membuatmu tetap hidup."
Aku terdiam, masih
tidak mengerti kenapa dia memanggilku burung petir, mungkin karena aku punya
sayap dan berpetir?
"Baiklah, katakan
apa yang anda inginkan!" Balasku. Dia menusuk-nusuk voodoo doll. Boneka
itu memuncratkan darah. Aku bergidik ngeri.
Dewi Hecate
menyeringai, "Tanaman penemuanku telah dicuri, aku ingin kau membawanya
kembali padaku. Kalau bisa bunuh juga pencurinya."
Aku menganga, mudah
saja dia mengatakannya. "Tanaman apa?"
"Ganja."
Jawab Hecate murung. "Dulu sekali, aku meracik obat yang sangat ampuh
untuk meningkatkan stamina manusia. Karena aku bukan dewi obat-obatan, aku
memberikannya pada Apollo sang Dewa Obat-obatan. Apollo dengan tololnya tidak
menjaga tanaman itu, sehingga dicuri, menyebalkan."
"Siapa yang
mencurinya?" Tanyaku.
Dewi itu semakin
murung, "Cacus. Dia hobi sekali mencuri, padahal dia anak
Vulcan—Hephaestus, bukan Hermes."
"Cacus ya? Jadi
aku harus membunuh raksasa bernapas api." Kataku. "Menyenangkan sekali,
sungguh."
Dewi Hecate mendengus,
"Jangan bersarkasme, Nak." Tukasnya. "Hm, Cacus tinggal di
Italia, kau pasti tidak keberatan berkunjung sebentar, ya kan? Hanya sampai jam
2 siang."
"Oh, berkunjung
ke negeri favoritku! Mengasyikkan, betul! Apalagi sambil membunuh raksasa
bernapas api." Timpalku.
"Ya, tentu
sa—" dia terdiam sebentar, lalu mendesah. "Kau bersarkasme lagi
ya?"
Aku nyengir. " Hehehe maafkan aku. Tapi bagaimana
caranya aku pergi ke sana?"
Dewi Hecate beranjak
dari tempat duduknya, "Mudah, aku kan dewi. Tutup matamu, Oh Sehun."
Katanya, dia mengadahkan kedua tangannya lalu meniupkan udara. Seketika asap
berwarna ungu mengelilingi kepalaku, aku memejamkan mata.
Samar-samar suara Dewi
Hecate mengantarkanku ke dalam kegelapan lagi. "Sampaikan salamku pada Italia!"
******
Cahaya bulan keperakan
berpendar menerangi malam, ditaburi sejuta bintang yang berkelap-kelip. Lampu
berwarna-warni tergantung di sekitar jalanan, dan monumen Pisa berdiri megah di
hadapanku. Semerbak wangi keju meleleh membuat perutku keroncongan. Tidak ada
seorang pun yang menyadari seorang anak berwajah oriental yang muncul
tiba-tiba.
"Halo, Italia.
Kau dapat salam dari Hecate." Kataku lesu.
Lalu
menoleh ke arah restoran khas italia. "Apa aku harus mulai dari
sana?" Tanyaku pada diri sendiri sambil mengusap-usap perut.
Aku melihat Aegis yang
sekarang berbentuk jam tangan, jam 11 KST. Sedangkan di sini sudah larut malam.
Aku merogoh tas lalu
mendapati segepok uang lira—mata uang Italia. "Hecate benar-benar
keren." Lalu berjalan mendekati restoran khas Italia itu.
Belum sempat mendorong
pintu, aku mendengar suara geraman di gorong-gorong, dan seketika api menyembur
keluar dari lubang selokan di tengah jalan.
Aku menggerutu, lalu
bergumam mengikuti cara berbicara Hecate, "Oh Sehun, kau tidak diizinkan
makan dulu!"
Bertarung melawan
monster bernapas api di malam hari sudah sangat buruk, dan sekarang aku harus
masuk ke gorong-gorong untuk bertemu dengannya. Apa Cacus tidak bisa elit
sedikit?
Aku masuk ke dalam
lubang, dan menjejakkan kaki di aliran air yang mengalir pelan. Aku menghunus
pedang, cahaya emasnya berpendar menerangi jalan. Langkah kakiku bergema,
terdengar di sepanjang gorong-gorong.
Terdengar langkah kaki
yang tersaruk-saruk berjalan sekitar lima meter di depanku. Aku menelan ludah,
berusaha tenang. Dengan langkah kaki yang pelan, dan tidak menimbulkan bunyi,
aku beringsut mendekati sumber suara. Aku mengintip di balik tumpukan
rongsokan, sosok itu bergerak kesana-kemari sambil mengumpat. Aku maju
selangkah, kali ini aku bisa melihat sosok monster mengerikan berbadan setengah
naga setengah kuda. Dari kepala sampai pinggang, bersisik bagaikan naga, lalu
ada kepala ular yang menggeliut di pinggangnya, dari pinggang sampai kaki dia
berkaki empat dan berbulu coklat yang halus seperti kuda. Ekornya
berkibas-kibar menyebarkan api.
"Cacus." Aku
bergumam pelan, "Ya ampun, bentuk yang absurd, Pak."
Cacus berhenti
bergerak dan mengendus-endus, dia menelaah seisi ruangan dengan tatapan awas.
Aku membalikkan tubuh, bersembunyi di balik tong minyak.
"Bau biji
ek." Katanya. "Hah, aku kedatangan anak Zeus, hebat!" Dia
melangkah semakin dekat ke tempatku bersembunyi, aku berkomat-kamit pada Zeus.
"Disitu kau
rupanya! Tidak bisa bersembunyi dari Cacus! Rasakan!" Dia menyembur api
dari kepala dan pinggangnya. Aegis terbentuk menjadi perisai bulat sempurna,
menghalau semburan api, tapi tidak bisa bertahan lama. Aegis terbuat dari emas,
dan emas adalah penghantar panas yang baik. Sip.
Lalu aku bergerak
cepat, menghidari semburan apinya yang makin besar. Keringat membasahi tubuhku,
sebentar lagi aku hampir matang. Aku berlari menuju tangga kayu, Cacus berputar
dengan lambat, kelemahan raksasa. Selagi dia berusaha menghadap ke arahku, aku
memanjat tangga. Lalu memekik dengan gaya heroik seperti, "Demi
Zeus!!!" dan melompat ke punggung kuda Cacus. Cacus mengangkat bokongnya,
menggerakan tubuhnya dengan liar, aku hampir kehilangan keseimbangan. Lalu aku
menghunus pedang dan menebas leher Cacus, tapi pedangku hanya menembus lehernya
seperti aku menebas angin.
"Lho kok
bisa?" Tanyaku kebingungan. Cacus mengangkat bokongnya lagi, kali ini
lebih tinggi. Aku terbang, dengan cepat mengatur angin agar aku tidak jatuh,
mendarat pelan-pelan sambil terengah-engah.
"Hahaha, aku
tidak bisa dibuyarkan dengan emas imperial atau perunggu langit!" Serunya.
"Api untuk api."
Ular-ular di
pinggangnya mendesis ke arahku. "Aku tidak percaya bakal dikunjungi anak
Zeus. Wah, makanan yang paling lezat."
Aku meringis,
"Maaf, Pak Cacus. Kita pakai cara yang baik saja ya? Saya datang kemari
hanya mau mengambil ganja milik Hecate."
Dia melotot,
"Tidak boleh! Itu asetku yang paling berharga! Ya ampun, ganja laku dimana-mana.
Aku kaya, tidak perlu merakit barang lagi seperti yang dilakukan anak Vulcan
yang lain."
Aku memutar bola,
tampak tidak antusias. "Kau tinggal memberikan itu padaku, kita salaman
dan aku akan pergi. Seperti itu saja, disini panas banget, aku hampir
matang." Kataku.
Cacus tertawa kejam,
"aku tidak mungkin membiarkanmu pergi! Kau akan menjadi sarapan yang
paling nikmat, dan aku akan tetap kaya. Menyenangkan, ya kan?"
Dia berjalan mendekati
sebuah kandang besar, lalu mengeluarkan seekor babi yang gempal. Cacus
menyemburkan api sehingga babi yang tadi berubah warna menjadi coklat.
Aku menatapnya jijik,
"Ew, jangan katakan kalau kau akan—"
Cacus membuka mulut
naganya lebar-lebar, dan melahap babi itu tanpa dikuyah terlebih dahulu.
Dia bersendawa,
"Ya, aku memakannya."
Selagi dia sibuk
dengan makanannya, aku menelaah penjuru ruangan, menemukan tong minyak yang
terisi penuh.
Aku menarik napas
panjang, "Baiklah, aku tidak punya banyak waktu."
Aku menghunus pedang
emas dan berlari ke arah Cacus yang sedang minum Kool-Aid. Sebelum dia
berbalik, aku menendang badan kudanya, dia menjadi limbung dan hilang
keseimbangan dan salah satu kakinya menendang tanganku sehingga pedangku
terhempas. Lalu dia menabrak tong minyak
dan minyak keruh itu tumpah kemana-mana, aku menyeringai.
Cacus menggeram,
"Sialan kau!" Dia menyemburkan api lagi, tapi aku mengeluarkan sayap
dan mengepakkannya, menghindar dari api. Cacus menatapku bingung,
"Sayap?"
Aku melayang
kesana-kemari untuk menciptakan angin, Cacus tersadar kembali dan menyemburkan
api sambil merecokiku, "Dasar elang pematuk pohon!" "Dasar
kentut bau bangkai!" "Oh, aku menumpahkan Kool-Aid yang
terakhir!"
Aku terkekeh,
"Dasar monster yang bawel." Dia menyemburkan api ke atas, aku
membelokkan angin, sehingga api terbawa seolah-olah aku sedang mengendalikan
api. Aku mengarahkan api ke minyak tanah yang tergenang, api itu merambat
dengan cepat.
Cacus panik, "Apa-apaan?!"
Dia mengibaskan ekornya, barangkali dia mengira ekornya itu normal, tapi
ekornya justru menyemburkan api lebih banyak.
Aku mendarat di
tumpukan balok kayu, mengedipkan mata, "Api untuk api."
Lama kelamaan, api
semakin meninggi dan melahap Cacus ke dalamnya. Dia pun terbuyarkan menjadi
debu, lalu api mereda. Aku buru-buru terbang mencari ganja, dan dengan cepat
mengambilnya. Aku memasukkan ganja itu ke dalam tas dan terbang menjauhi
gorong-gorong.
"Masih jam satu
siang nih." Gumamku ceria. Lalu menyeringai ke arah restoran yang masih
buka, dan masuk dengan gembira.
"Pasta fettucini
alfredo, okay?" Pesanku. Sang pelayan mengangguk ramah.
Setelah menyantap
makanan khas Italia itu tiba-tiba lampu warna-warni di Italia menjadi hitam dan
aku merasa limbung.
******
Dewi Hecate tersenyum
lebar ke arahku, aku mengucek-ngucek mata dan duduk tegak.
Sang dewi nyengir,
"Mana?"
Aku mengaduk-aduk isi
tas, dan memberikan tanaman yang terbungkus kotak kaca padanya. Aku terlihat
berantakan dan bau gosong, jaket denimku hilang. Dewi Hecate berbinar-binar.
"Mana
bantuanku?" Tanyaku. Dia mengedipkan mata lalu beranjak ke rak.
"Berjalanlah ke
utara, dan temui dia di sebuah air terjun." Katanya
Hecate memajukan
tubuhnya ke arahku, aku mundur. "Ambilah vial ini." Dia meletakkan
sebuah vial berisi cairan berwarna merah di kedua tanganku.
Aku menatapnya
bingung, "Untuk apa?"
Hecate
menyeringai, "Untuk membunuh
saudaramu, tentu saja."
waaaa kak alzeyaaaaaaa
BalasHapusahh rlly nice fanfiction keep goingg~
kalo boleh tauu kira-kira chapternya sampe berapaan ya??
waiting for the next chap~ hwaiting!
Hi faraaah~
HapusAw thank you very much sweetie! ♡ aku juga belum tahu sih, masih dalam proses penulisan juga. So, yah kalau kira-kira sih sampai 9-10 kali ya. Hehe
Thank you! Hwaiting!