Holla! this is my first fanfiction with anti-mainstream genre (Greek mythology, action, and a bit thriller?) i was inspired by Percy Jackson and The Olympian and Heroes of Olympus by Rick Riordan. i'm apologizing to y'all if this fics doesn't have a feel, but this is my first time so i hope you do support me!
Happy reading!!! please follow my twitter too hehehe
“Ditanganmu, dunia memohon untuk diselamatkan.”
Terkadang
sesuatu yang menurut orang lain adalah mitos atau takhayul ternyata suatu
kebenaran. Apakah menurutmu perubahan yang terjadi pada dunia adalah gerakan
alami?
Menurut
teori ipa matahari adalah bola api gas panas yang menjadi pusat tata surya,
tapi ternyata seorang dewa mengendarainya sebagai tumpangan. Kau tahu?
Terkadang
kau harus percaya pada sesuatu yang mustahil untuk ada dan dunia ini tidak
senormal dengan apa yang kau lihat.
Panggil
aku Sehun, umurku 15 tahun. Percayalah padaku mulai detik ini.
Hari ini seharusnya tidak terjadi apa-apa, mungkin kalau aku
berdiam diri di rumah, hidupku takkan jadi berantakan. Tapi ini berawal karena
temanku atau lebih tepatnya temanku satu-satunya, Lu Han, mengajak untuk pergi
ke pesta ulang tahun Jong Hyun, seseorang yang kutahu sangat sombong dan
semena-mena. Awalnya aku bahkan tidak tertarik untuk menginjakkan kaki disana,
sebagai murid yang aneh dan tertutup sepertinya tempat itu tidak cocok untuk
menghabiskan akhir pekan.
Kemarin adalah hari terakhir ujian akhir tahun dilaksanakan,
rapot sudah dibagikan dan aku bahkan tidak repot-repot untuk melihatnya apalagi
menghitung apa ada yang salah. Yang kukhawatirkan bisakah aku melanjutkan tahun
ajaran berikutnya di yayasan yang sama jika keanehan terus saja terjadi. Itu
secara harfiah bukan aku yang buat, tapi memang tidak ada bukti yang jelas.
Aku mulai khawatir pada hidupku sendiri, mengenai rasa
bahagia juga tidak pernah rasanya ia sudi untuk hinggap sebentar sebagai cahaya
keperakan dalam malam yang dingin. Mendesah di depan cermin, aku mulai menyisir
rambut secara acak. Pergi dengan setengah hati takkan membuat ini menyenangkan.
Menjadi bocah anti sosial sejak berumur 10 tahun karena aku mulai merasakan ada
yang tidak beres. Orang-orang mulai memandangku dengan tatapan
jangan-dekat-dekat-dengannya-atau-kau-dimakan. Bahkan ibuku bilang aku hanya
sampah.
Lalu aku benar-benar tidak tahu siapa ayahku, hanya pernah
merasakan sentuhan hangatnya menjalar diseluruh pembuluh darah bak disengat
petir. Setelah itu aku tidak pernah ingat punya ayah.
Ponselku
berdering nyaring di samping tempat tidur, tertera nama Lu Han. “what’s up” kataku sambil mengikat tali
sepatu dan melipat kerah.
“Yo man, aku sudah
ada di depan rumahmu. Turun dalam satu menit atau kau bakalan buat tampilan
gantengku luntur.” Tukasnya. Aku benar-benar bisa mendengar dia mendesah puas.
Yang benar saja, dia yang memaksaku untuk ikut, seharusnya
dia bersikap baik atau aku akan pura-pura mati suri tapi lebih baik tidak
mendebat lagi. “Baiklah, Bocah Narsis.”
Aku berderap turun dari tangga dengan langkah lebar, ibu
tiriku, Hana, sedang menjahit baju seragamnya yang rusak karena adikku tapi toh
dia tetap menyalahkanku, seperti biasa.
Dia melirikku sekilas lalu kembali menjahit,“Mau kemana?” Tanyanya.
“Bukan urusanmu.” baiklah, perkataanku jadi terdengar lebih
dingin dari yang kuinginkan tapi tidak jadi masalah.
Aku berlari untuk menemui Luhan dan berharap hari ini akan
berakhir dengan cepat, karena aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Mungkin
seperti tersandung angin atau dikejar petir—kejadian yang sering aku alami.
Rumah pemilik pesta itu berjarak sepuluh rumah dari sini.
Luhan bilang bahwa kami akan datang lebih awal, permintaan khusus dari
Jonghyun. Aku mulai merasa mual membayangkan mungkin saja Jonghyun menyimpan
rasa suka pada Luhan, dunia ini kiamat.
Kami sampai di depan rumah mewahnya, dihias dengan lampu
warna-warni yang bergelantungan di pohon-pohon maple berusia muda. Banner
berwarna emas norak bertuliskan selamat ulang tahun Pangeran Jonghyun dan
bergambar tokoh kartun Woody Woodpecker. Kalau aku masih punya orang tua, aku
lebih memilih menghabiskan uangnya untuk diri sendiri, jelas.
Luhan menyeretku dan berjalan dengan langkah yang cepat
seperti seekor rusa, ya sesuai dengan panggilannya.“Cepat! Kita pasti akan
bersenang-senang!” semoga saja.
Sekarang kami berhadapan dengan ruangan yang mungkin dapat
menampung seluruh rumahku dan Luhan bilang ini cuman ruang tamu. Oh demi tuhan,
yang benar saja!
Ekspresi
terkejut dapat dilihat oleh Jonghyun, dia hanya tersenyum angkuh seakan dunia
ini secara harfiah ada dalam genggamannya.
“Bukan apa-apa kok dibanding rumahku yang ada di Apgujeong.”
Katanya.
Jadi
rumah seluas lima
hektar dengan fasilitas lengkap bak villa, dan bisa menampung tujuh rumah
seukuran rumahku ini masih ada yang lebih. Bukan
apa-apa kok.
Orang-orang mulai berdatangan dan menikmati pesta. Aku
benar-benar tidak merasakan kehidupan disini, jadi aku cuman duduk di tempat
cocktail diletakkan. Luhan sedang bersenang-senang tapi dia berjanji tidak akan
jauh-jauh.
Sialan dia, meminta untuk ditemani karena dia yakin kalau
dia takkan dapat kawan tapi sekarang aku ditinggal bersama semangkuk cocktail
yang memantulkan wajah jelekku.
Ntah kenapa aku merasa diawasi oleh seseorang, aku menoleh
ke sekeliling ruangan. Tapi tidak ada yang mencurigakan, aku terlalu sering
merasa seperti ini, dan setiap berfirasat buruk, sesuatu yang ganjal akan
terjadi. Kumohon untuk kali ini jangan biarkan aku mengacau.
“Sehun?” Suara berat dan serak tertangkap indra pendengaranku.
Aku merasa sengatan listrik berarus seribu ampere menjalari pundakku yang
disentuh. Aku menoleh dan mendapati wajah tua yang keriput dengan senyum yang
lebar. Dia adalah penjaga sekolahku, pak Kim. Tunggu, apakah tidak aneh kalau
jonghyun mengundang penjaga sekolah ke pesta ulang tahun?
“Akhirnya bertemu juga, aku sudah
menantimu.” Dia berusaha tersenyum ramah, tapi di dalamnya ada kelicikan yang
menusuk-nusuk tulang rusukku.
Aku terlalu lambat untuk merespons mungkin karena kebosanan
yang telah menjalar diseluruh syaraf atau karena
kenapa-jonghyun-repot-repot-mengundang-penjaga-sekolah
“eh
apa maksud bapak?”
Dia meregangkan tulang lehernya dan mengeluarkan seringai
tajam. “Kurasa tidak perlu lagi basa-basi, malam ini akan jadi malam yang
terakhir bagimu…”
Saat dia menyelesaikan kalimatnya, dia berubah menjadi
makhluk aneh yang memiliki mata satu dan rambut gimbal (mungkin tidak keramas
selama hidupnya), tubuhnya berukuran sembilan meter. Semua orang menjerit karena
pak Kim melempar mangkuk cocktail ke lantai disco.
Oh,
tidak.
Aku sudah beribu kali menghadapi kejadian yang aneh, tapi
baru kali ini aku melihatnya dengan begitu jelas. Tanganku gemetaran dan kedua
kakiku seperti lepas dan melarikan diri tanpa membawa tubuhnya. Lalu apa?
Pak Kim menerjang dan aku berguling ke samping. Dia terus
menyerbuku dengan pukulan mematikan, tombaknya hampir menjadikanku babi guling
untuk makan malam. Cakarnya juga tidak bisa diremehkan ketika itu bisa membelah
kursi dari kayu mahoni bagaikan mengoyak permen kapas, sempurna.
“Aku
tidak akan membiarkanmu hidup!!!” Ia menggeram marah.
“Apa
salahku?!” aku memberanikan diri untuk bertanya, suaraku lebih mirip tikus yang
mencicit. Ia tertawa, “Kau adalah ancaman untuk kaumku, enyahlah”
Ketika pak Kim hendak membuatku jadi daging penyet, Luhan
berlari dan aku bisa melihatnya melompat dan menusuk pak Kim, “dasar Cyclops
bau bangkai! Keramas di Tartarus sana !”
pak Kim melolong dan ia pun terbuyarkan menjadi debu.
Jonghyun
menerobos kerumunan yang masih dilanda kepanikan akut di sekitarku.
“Apa
yang- oh celaka kau, Oh Sehun!!!"
Luhan menegang dan tergagap berseru padaku, “Lari, sehun!!!”
Kami
berdua melarikan diri dari jendela dan berlari tanpa melihat ke belakang, aku
mengerang. Sepertinya tulangku ada yang retak, aliran panas menjalar di seluruh
tubuhku. Sebentar lagi aku akan ambruk seketika, tapi Luhan merangkulku dan
berbisik, “Bersiaplah untuk perjalanan
bayangan.”
Aku
bisa merasakan hawa dingin mengigit kulit, yang kulihat adalah lorong hitam tak
berujung dan segelap mimpi buruk.
******
Suara darah yang berdesir di
seluruh pembuluh adalah hal pertama yang mampu kudengar. Hangatnya cahaya
matahari membelai sekujur tubuh, silau hasil biasan cahaya matahari menacapkan
titik sudutnya di kedua mataku yang belum bisa terbuka sempurna. Aku mencoba
mengerjapkan mataku, terasa seperti dirujam beribu jarum. Mencoba lagi
menggerakkan tanganku tapi terasa tak ada tulang. Oh ya ampun.
"Hallo bocah ileran, bagaimana
hibernasimu? Sedap?" Suara berat namun jenaka menggeletik indra
pendengaranku. Sosok yang berambut coklat, bermata bulat dengan senyuman
selebar mungkin mengedipkan mata padaku. Sabuk perkakas yang aku yakin dapat
memuat semua alat-alat bengkel, tingginya sekitar seratus delapan puluh
centimeter berdiri di samping tempatku
berbaring.
"Chan, jangan terlalu keras.
Dia baru saja melewati masa kritisnya." Kini kudengar suara yang sangat
familier mencoba menahan seruan yang mungkin bisa membuat aku koma tiga bulan.
Sialan, apa yang baru saja terjadi?
Lelaki yang dipanggil Chan itu
mengendikkan bahu tanda, "Ah masa sih? Ya udah deh," lalu ia mengeluarkan
cengiran dan melambaikan tangan di depan wajah kuyu ku. "Selamat datang di
Camp Half Blood , saudara."
APA?!
"Oh, ya ampun, kenapa dia
ganteng banget?" Dia cekikikan tak jelas lalu keluar dari ruangan sambil
memutar obeng. Aku berusaha duduk tapi Luhan memaksa ku untuk tetap berbaring,
"Maaf, Sobat, gara-gara aku,
kau jadi kritis begini, dan pingsan selama seminggu. Hm, darurat sih."
Katanya. Luhan menggaruk bagian belakang telinganya, hal yang ia lakukan kalau
dia gugup.
"A...apa?" Argh,
apa-apaan ini?! Aku mengerang tanda protes karena suaraku seperti meja tua yang
sudah lama mendekap di gudang dan tiba-tiba saja didorong. Ya seperti itulah,
bayangkan saja.
"Jangan terlalu memaksakan.
Aku membawamu pergi dari pesta jonghyun dengan perjalanan bayangan, seharusnya
itu dilakukan ketika kau mendapat pelatihan selama 3 bulan. Ta-tapi karena
darurat aku nekat. Kau hampir mati, sehun. Astaga, maafkan aku." Ia
menangkupkan kedua tangannya untuk menutupi wajah, penyesalan menyelimuti
batinnya, jelas saja.
"Tidak apa-apa." Suaraku kembali normal, dan aku
mampu menggerakkan tangan dan kepala walau masih ada rasa ngilu.
“Tapi, pak kim?" Aku mengingat
kejadian malam itu ketika ia berubah menjadi monster yang tak pernah
kubayangkan sebelumnya. Buruk rupa, benar. Tapi berubah menjadi manusia untuk
waktu yang cukup lama hanya untuk membuntutiku? Yang benar saja?
"Dia bukan penjaga sekolah,
Sehun. Dia Cyclops. Oh astaga, baru kali itu aku bisa membunuh Cyclops, ayo
tos!" Pekik Luhan. Dia selalu mengajak tos saat senang, tapi tanpa
memedulikan keadaan. "Maaf." Katanya.
Aku menelaah seisi ruangan yang cat
nya hampir terkelupas, banyak tempat tidur yang disusun rapi dan beberapa kotak
obat di masing-masingnya. Ada
juga meja untuk menaruh lampu tidur. Dan aku bisa melihat patung-patung yang
biasa kulihat di pancuran dekat sekolah di setiap sudut ruangan. Dewa-dewi?
"Luhan?" Panggilku.
"Apa?" Tanyanya.
"Aku ini siapa sebenarnya?" Aku
duduk di tempat tidur, mencoba menuntut luhan untuk menjelaskan semuanya.
Keanehan yang aku alami selama ini, luar biasa, Luhan selalu ada dimana pun aku
berada.
Dia terlihat bimbang lalu tersenyum
lirih dan duduk bersila di tempat tidur, di sebelah punyaku.
"Oh sehun, kau pernah belajar
mengenai mitologi yunani, ya kan ?
Semuanya percaya kalau itu hanya mitos, sayangnya, itu tidak benar." Dia
melihat patung-patung itu,
"Kau adalah keluarga mereka, Sehun.
Kau adalah anak dari salah satunya. Bisa saja yang laki-laki atau yang
perempuan."
"Bagaimana bisa....? Ayahku
sudah mati." Tanyaku masih tidak mengerti maksudnya.
"Tidak-tidak, oh ya ampun!
Ayahmu adalah salah satu dari bangsa Olympia
atau seorang Dewa. Ia kekal, hidup abadi, atau tak bisa mati. Mungkin ibumu
hanya mengarang cerita."
"Mengarang cerita." Aku
mengulang dengan lirih.
"Dewa-dewi bisa jatuh cinta
pada manusia, dan melahirkan anak-anak yang tidak normal, punya kekuatan, yah,
seperti kita. Separuh manusia separuh dewa—"
Luhan terlonjak dan kepalanya sukses membentur tembok.
Secercah bayangan hitam berkelebat
di sekitar Luhan dan berdiri tepat disampingku. Jika saja aku tidak selesu ini
mungkin lampu tidur melayang gratis untuk makhluk aneh itu.
"Halfblood
atau istilah kerennya demigod. Kau. Oh sehun. Adalah salah satunya. Hallo,
saudara."
Lagi-lagi kata itu. Saudara katanya? Enak saja, aku kan secara harfiah
adalah anak tunggal.
"Kai, sialan kau!" Luhan
mengumpat kasar dan bantal yang ada di sebelahku melayang begitu saja dan menimpuk
bayangan hitam—yang telah menjadi seorang lelaki berkulit sawo matang dan
memiliki mata hitam yang gelap. "Hilangkan kebiasaanmu, dasar cowok
zombi."
Kai mendelik sebal, dan menatap jail
ke arahku dengan seringai. "Halo, Kai, putra Hades." Katanya.
"Hades? Dewa Dunia Bawah?"
Tanyaku penuh rasa kagum. Ia mengangguk bangga. Dan mengeluarkan seringai tajam
yang lebih menakutkan, seketika suhu dalam ruangan menurun drastis, menimbulkan
hawa dingin yang menusuk. Lampu meredup layaknya kehilangan daya listrik.
Beberapa benda yang terbuat dari logam bergetar seperti akan jatuh dari
tempatnya.
"Pergilah, kai. Aura mu
terlalu berbahaya." Kata luhan, mendesah pelan. Ia mengusap kepalanya yang
benjol dan kembali duduk bersila.
Kai melambaikan tangannya acuh, aku
berjengit. Selembar perunggu, kayaknya sih, melayang dan membentur dinding di
sebelahnya. Dan dia menghilang, meninggalkan bau tanah kuburan. Mengerikan.
"Oh, maafkan yang satu itu,
sobat." Dia menggelengkan kepala, lalu merapikan tempat tidur yang
didudukinya dan memungut bantal yang ia lempar tadi. "Kekuatan anak Hades,
Teleportasi. Lalu, logam itu? Kurasa Kai habis menelan magnet, yang jelas dia
adalah dektetor logam yang handal. Ah, siapa peduli?"
"Dektetor logam?"
Tanyaku. Luhan menggangguk. "Dia bisa menemukan berbagai macam logam yang
tertimbun di tanah. Jadi jangan kaget kalau dia tidak tertarik pada emas."
Katanya, sambil meminum cairan berwarna perak yang bercahaya. Benjol
dikepalanya hilang dengan perlahan.
"Ini nektar. Minuman dewa,
sih. Jika manusia biasa meminumnya, tulangnya akan berubah menjadi pasir dalam
sesaat. Karena kita separuh dewa, jadi nggak masalah, tapi ada takaran khusus."
Dia menyenggol bahuku, dan mengedipkan
mata. "Mengenai Kai, dia itu putra salah satu dari tiga besar—Zeus, Hades, Poseidon. Kekuatannya sangat mematikan, dari aura nya
pun sudah terasa. Kau harus hati-hati, rawr." Godanya. Aku menjulurkan
lidah melihat tingkahnya yang konyol.
"Mau keluar?" Tanya Luhan,
mengangkat kedua alis tipisnya. Aku menggangguk, dan susah payah berdiri tegak.
Pintu berderap terbuka, cahaya
menyilaukan membuat mata sulit untuk melihat. Ketika sudah terbiasa, aku bisa
melihat pondok-pondok membentuk persegi sempurna mengelilingi api unggun besar
di tengah-tengahnya. Ada arena panahan, lempar
lembing, panjat tebing dan danau kano .
Pohon-pohon menjulang tinggi, membuat udara menjadi sejuk. Ada
auditorium untuk makan malam, sepertinya.
Terdengar suara sapi bersahutan
dari arah barat. Dan benar saja, sekitar puluhan sapi sedang merumput dan
berkeliaran tenang. Anak-anak seumuran denganku membawa pedang, tombak juga ada
tameng dan beberapa senjata lainnya. Kami mulai berjalan mengelilingi
perkemahan ini, satu-satu pekemah (begitu menurutku) menyapa luhan dan melewati
aku begitu saja.
"Perkemahan ini terletak di
pulau Nami, kau tahu? Disini semuanya masih sangat alami. Kau pasti betah,
dan.... aman."
Luhan mengarahkan tangannya ke
suatu arah, dan sebilah pedang melayang lalu jatuh kegenggamannya. "Kau
harus terbiasa dengan ini." Dia menghunus pedangnya, memotong ranting di
hadapan kami, lalu berjalan lebih dalam ke hutan.
"Bagaimana kau melakukan
itu?" Tanyaku. Mengabaikan sarannya untuk terbiasa dengan yang
tajam-tajam. "Oh ya," katanya. "Telepati, suatu kemampuan untuk
mengendalikan benda mati hanya dengan memusatkan pikiran pada benda itu.
Kemampuan dari ibuku."
"Ibumu seorang dewi?"
"Iya, Athena, Dewi Kebijaksanaan."
Ia tersenyum. Dan kami melanjutkan langkah. Suara deburan ombak menggelitik
telingaku, di ujung sana
ada pantai berpasir putih, seseorang tampak sedang mengangkat ombak dan
menghempaskannya lagi.
"Dia suho, putera Poseidon, Dewa
Laut. Salah satu senior disini. Dia tolol banget untuk putra tiga besar—Zeus, Hades, Poseidon. Tapi kekuatannya tidak kalah mematikan
dengan punya Kai,"
"Lalu, siapa ayahku?" Tanyaku. Ia terdiam, terlihat
kebingungan seolah aku adalah pengecualian. "Belum ditentukan. Maaf, nanti
juga akan ketahuan dari kemampuanmu."
Aku mendesah, dan Luhan menepuk punggungku untuk memberi semangat.
"Kau bisa tinggal di pondok 11 atau milik Hermes dulu, mereka selalu
menerima yang belum ditentukan." Aku nyengir garing, dan tampak seolah aku
tidak mau.
Kami berjalan kembali menuju
pondok-pondok, "Setiap dewa-dewi punya satu pondok. Aku ada di enam."
Dia menunjuk ke arah pondok yang di cat putih gading, ada kepala burung hantu
yang tergantung di pintu.
"Pondok pertama milik Zeus,
tidak ada penghuni karena Zeus tidak punya anak manusia lagi selama abad ini.
Kedua milik hera, dia Dewi Pernikahan, tentu saja tidak akan menikah dengan
manusia." Aku tertarik melihat kedua pondok terbesar di perkemahan ini.
Keduanya tampak megah namun keheningan yang suram sangat terasa.
"Kenapa Zeus tidak punya anak?
Mitos bilang dia punya banyak anak." Kataku. Luhan berhenti tersenyum,
"Anak manusia dari Zeus, sangat berbahaya. Ia mungkin bisa menjadi
pemimpin yang baik, namun bisa menggulingkan kita semua. Ia pasti sangat
mengerikan. Dan kekuatannya lah yang paling dashyat daripada yang lain, Suho
dan Kai sekalipun,"
Aku mendengar petir menyambar beriringan dan berhenti
seketika, meninggalkan bunyi guruh samar. Luhan menganga layaknya tak pernah
melihat itu sebelumnya. Tapi dia menggelengkan kepala dan berusaha
menyingkirkan apa yang ada di benaknya.
"Yang ketiga milik Poseidon,
dan selanjutnya Hades, lalu yang kelima adalah milik Demeter." Jelasnya
lagi, seraya melambaikan tangan pada salah satu pekemah yang sedang bermain
volley.
"Ah, kau bisa tahu lebih lanjut nanti. Aku ada kelas berkuda.
Bertemu saat makan malam!" Ia berlari menjauh, meninggalkan aku sendiri
layaknya orang tolol yang luntang luntung karena belum ditentukan.
Seorang pemuda berjalan mendekati
dengan seringai lagi, mengenakan kaos tanpa lengan berwarna merah bertuliskan
camp half blood dengan simbol dua pedang yang menyilang. Ia mengenggam sebilah pedang yang ganggangnya
berwarna merah darah. "Wah, anak baru!" Serunya. "Asyik,
nih."
Aku bergidik, bulu kudukku
meremang. Dan tanpa sadar aku melangkah mundur seraya dia mendekat. "Jangan
takut begitu, cungkring. Aku Kevin Wu, anak Ares." Ia memukul dadanya dua
kali dan tersenyum angkuh. Oh, aku jadi kangen senyum Jonghyun.
"Kau anak China ya?"
Tanyaku. Ia menggeram marah, dan menancapkan pedangnya di tanah. Aku memasang
tampang siaga satu.
"Anak china katamu? Aku ini
orang kanada! Pekemah ingusan disini biasanya memanggil aku Kris. Kau paham,
Sanghoon?"
"Sehun." Kataku.
"Ah iya, terserah. Kau belum
ditentukan? Kasian sekali harus berdesak-desakkan di pondok hermes. Seharusnya
kau sudah ditentukan kalau saja direktur perkemahan tidak sedang
berlibur."
"Direktur perkemahan?"
Tanyaku. Jadi ini mungkin semacam organisasi atau klub yang terdiri dari
anak-anak yang aneh.
"Iya, dia lah yang memberi
tugas konyol dan menjatuhkan hukuman pada yang lemah. Haha, bukan aku
tentunya!" Ia tersenyum penuh kemenangan, mungkin hanya pandanganku saja
tapi setiap pekemah mencibir di belakang punggungnya. "Aku ini tampan,
pandai bertarung, selalu membantai monster. Kau pasti akan menganggumiku."
"Mau muntah," kataku
spontan. Ia mendelik penuh amarah, beberapa pekemah cekikikan mendengarku yang
kelewat berani.
"Baiklah, Seohyun-"
"Sehun." Potongku. Aku
menepuk dahi tanda tidak tahan dengan ketolol-an pria yang satu ini.
"-Kau anak baru harus diberi
pelajaran pertama untuk pemula yang pembangkang." Dia melempar sebilah
pedang, dan aku menangkap ganggangnya dengan gugup. "Lawan aku."
Katanya.
"Kris, berhentilah mengganggui
anak baru." Seorang gadis memakai kaos yang sama dengan kris, berambut
panjang di ikat kuda dan berparas cantik mendekat sambil melipat tangan di
dada. Ya ampun, aku belum pernah bertemu gadis secantik itu.
"Pergi sana !" serunya.Gadis itu membawa sarung
panah yang berisi banyak anak panah, juga busurnya.
"Bisakah kau nggak mengganggu
kesenanganku sekali saja?" kata Kris, ia tidak menghiraukan perintah gadis
itu, dan terus menyeretku ke tengah-tengah lapangan. "Menyebalkan," umpatnya. Gadis
itu menatap pasrah ke arahku, dan berusaha bilang tidak apa-apa tanpa suara. Oke
baiklah, kenapa tidak?
Tanpa aba-aba, Kris menyerangku,
secara spontan aku menangkisnya dan berusaha agar dia tidak menjadikan aku
makan malam di hari pertama aku datang—maksudku di hari pertama aku sadar.
Aku mencoba menyerangnya, tapi dia terlalu lihai dengan mudah menangkisnya tanpa
harus buang-buang tenaga. Lama-lama aku mulai kehabisan energi, Kris masih
segar dan belum berkeringat. Aku terdesak, perlahan-lahan melangkah mundur,
hampir terjungkal. Aku bisa melihat gadis itu menutup wajahnya dengan kedua
tangan. Para pekemah berdesakan untuk melihat
kami.
"Ayo, lawan aku! Menyerah?" Sindirnya. Dengan susah
payah aku menghunus pedang. Trang. Pedangku terjatuh dan mendarat di kaki salah
satu pekemah. Tamat riwayatku. Kris tertawa, dan sebelum menghunus pedangnya,
aku merasakan jantungku berdetak tak karuan, nadi di sekujur tubuhku berdenyut
tak sesuai irama.
Duar
Petir menyambar lengan Kris yang hendak menghunus pedang,
pedangnya terlempar ke arahku. Lalu, aku berguling kesamping dan menatap tak
percaya pada apa yang kulihat. Petir terus-terusan menyambar ke tanah, Kris tergeletak
tak berdaya. Aku bisa melihat para pekemah lari berhamburan mencari
perlindungan agar tidak jadi korban berikutnya. Meskipun aku berdiam diri,
tampaknya petir itu tidak mengenaiku.
Kai muncul secara tiba-tiba di sampingku, dia terlihat tak bisa
bicara apa-apa, tapi berusaha untuk tetap tenang. "Di immortales,"
katanya. "Oh sehun, hentikan petir itu SEKARANG!!!" Ia menjerit.
Tanah di bawahku rasanya akan terbuka karena amarahnya.
"AKU TIDAK MELAKUKANNYA!!!" Aku balas menjerit,
menyebabkan petir semakin menggila. Menyambar salah satu pekemah yang
berlindung di tempat tombak ditaruh. Gadis itu datang, tergopoh-gopoh bersama
pemuda yang kutahu bernama Suho. Aku bisa melihat Luhan membawa seekor pegasus
terbang menjauh karena petir seakan mengejarnya.
"Apa yang-" Suho melotot ke arahku. "Oh sehun,
hentikan!" Perintahnya.
"Apa yang harus kulakukan?!"
Gadis itu memegang kedua bahuku, "Tenangkan pikiranmu, jangan
marah." Suaranya begitu lembut sampai-sampai aku tidak sadar petir telah
berhenti menyambar.
"Di immortales, Oh sehun kau adalah-" dia menatap ke langit,
bukan, tepatnya yang ada di atas kepalaku. Semuanya juga tampak terkesima melihatnya.
Satu persatu para pekemah mulai berlutut kepadaku, bahkan Suho juga Kai.
Aku mengangkat kepala, dan bisa melihat ada semacam hologram
berwarna emas dan ada tanda petir yang menyambar. Lalu perlahan memudar,
tiba-tiba pakaianku tidak lagi sama. Baju zirah yunani berwarna emas yang
menyala, sebuah pedang yang juga berwarna emas ada dalam genggamanku, perisai
bercorak kepala medusa dengan ular-ular melingkar, di lengan kiriku.
Yang paling mengejutkan, ada sepasang sayap, masing-masing
sepanjang satu meter di punggungku, kukepakkan keduanya menimbulkan angin yang
kencang. "Maaf, tapi-" aku berkata dengan gugup. "Ayahku?"
Suho lah yang pertama berdiri, dia tampak kalut. Namun masih
berwibawa sejak dialah pemimpin sementara di perkemahan.
"Zeus,"
katanya. "The King of gods, The Lord of Heaven, The Ruler of Mankind.
Salam Oh Sehun, Putra Sang Dewa Langit."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar