Me!

YO WASSUP !

Holla! I'm Nabila Alya Ramadhina but you can call me by nickname, it's Alzeya! i just joined blog this year so actually i don't even know what people usually do in their own blog~ but i'm writing here and i hope you willing to read those hehe i'm 14yo and i'm an exofan. asking me over here www.ask.fm/growlseductively and follow me www.twitter.com/xeyeol thank you xoxo

Sabtu, 11 Januari 2014

Oh Sehun and the Goddess of Hearth (chapter 1)


Holla! this is my first fanfiction with anti-mainstream genre (Greek mythology, action, and a bit thriller?) i was inspired by Percy Jackson and The Olympian and Heroes of Olympus by Rick Riordan. i'm apologizing to y'all if  this fics doesn't have a feel, but this is my first time so i hope you do support me!
Happy reading!!! please follow my twitter too hehehe
Ditanganmu, dunia memohon untuk diselamatkan.”


Terkadang sesuatu yang menurut orang lain adalah mitos atau takhayul ternyata suatu kebenaran. Apakah menurutmu perubahan yang terjadi pada dunia adalah gerakan alami?
Menurut teori ipa matahari adalah bola api gas panas yang menjadi pusat tata surya, tapi ternyata seorang dewa mengendarainya sebagai tumpangan. Kau tahu?
Terkadang kau harus percaya pada sesuatu yang mustahil untuk ada dan dunia ini tidak senormal dengan apa yang kau lihat.

Panggil aku Sehun, umurku 15 tahun. Percayalah padaku mulai detik ini.


Hari ini seharusnya tidak terjadi apa-apa, mungkin kalau aku berdiam diri di rumah, hidupku takkan jadi berantakan. Tapi ini berawal karena temanku atau lebih tepatnya temanku satu-satunya, Lu Han, mengajak untuk pergi ke pesta ulang tahun Jong Hyun, seseorang yang kutahu sangat sombong dan semena-mena. Awalnya aku bahkan tidak tertarik untuk menginjakkan kaki disana, sebagai murid yang aneh dan tertutup sepertinya tempat itu tidak cocok untuk menghabiskan akhir pekan.
Kemarin adalah hari terakhir ujian akhir tahun dilaksanakan, rapot sudah dibagikan dan aku bahkan tidak repot-repot untuk melihatnya apalagi menghitung apa ada yang salah. Yang kukhawatirkan bisakah aku melanjutkan tahun ajaran berikutnya di yayasan yang sama jika keanehan terus saja terjadi. Itu secara harfiah bukan aku yang buat, tapi memang tidak ada bukti yang jelas.
Aku mulai khawatir pada hidupku sendiri, mengenai rasa bahagia juga tidak pernah rasanya ia sudi untuk hinggap sebentar sebagai cahaya keperakan dalam malam yang dingin. Mendesah di depan cermin, aku mulai menyisir rambut secara acak. Pergi dengan setengah hati takkan membuat ini menyenangkan. Menjadi bocah anti sosial sejak berumur 10 tahun karena aku mulai merasakan ada yang tidak beres. Orang-orang mulai memandangku dengan tatapan jangan-dekat-dekat-dengannya-atau-kau-dimakan. Bahkan ibuku bilang aku hanya sampah.
Lalu aku benar-benar tidak tahu siapa ayahku, hanya pernah merasakan sentuhan hangatnya menjalar diseluruh pembuluh darah bak disengat petir. Setelah itu aku tidak pernah ingat punya ayah.

Ponselku berdering nyaring di samping tempat tidur, tertera nama Lu Han. “what’s up” kataku sambil mengikat tali sepatu dan melipat kerah.

Yo man, aku sudah ada di depan rumahmu. Turun dalam satu menit atau kau bakalan buat tampilan gantengku luntur.” Tukasnya. Aku benar-benar bisa mendengar dia mendesah puas.
Yang benar saja, dia yang memaksaku untuk ikut, seharusnya dia bersikap baik atau aku akan pura-pura mati suri tapi lebih baik tidak mendebat lagi. “Baiklah, Bocah Narsis.”
Aku berderap turun dari tangga dengan langkah lebar, ibu tiriku, Hana, sedang menjahit baju seragamnya yang rusak karena adikku tapi toh dia tetap menyalahkanku, seperti biasa.

Dia melirikku sekilas lalu kembali menjahit,“Mau kemana?” Tanyanya.

“Bukan urusanmu.” baiklah, perkataanku jadi terdengar lebih dingin dari yang kuinginkan tapi tidak jadi masalah.

Aku berlari untuk menemui Luhan dan berharap hari ini akan berakhir dengan cepat, karena aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Mungkin seperti tersandung angin atau dikejar petirkejadian yang sering aku alami.

Rumah pemilik pesta itu berjarak sepuluh rumah dari sini. Luhan bilang bahwa kami akan datang lebih awal, permintaan khusus dari Jonghyun. Aku mulai merasa mual membayangkan mungkin saja Jonghyun menyimpan rasa suka pada Luhan, dunia ini kiamat.

Kami sampai di depan rumah mewahnya, dihias dengan lampu warna-warni yang bergelantungan di pohon-pohon maple berusia muda. Banner berwarna emas norak bertuliskan selamat ulang tahun Pangeran Jonghyun dan bergambar tokoh kartun Woody Woodpecker. Kalau aku masih punya orang tua, aku lebih memilih menghabiskan uangnya untuk diri sendiri, jelas.

Luhan menyeretku dan berjalan dengan langkah yang cepat seperti seekor rusa, ya sesuai dengan panggilannya.“Cepat! Kita pasti akan bersenang-senang!” semoga saja.

Sekarang kami berhadapan dengan ruangan yang mungkin dapat menampung seluruh rumahku dan Luhan bilang ini cuman ruang tamu. Oh demi tuhan, yang benar saja!
Ekspresi terkejut dapat dilihat oleh Jonghyun, dia hanya tersenyum angkuh seakan dunia ini secara harfiah ada dalam genggamannya.

“Bukan apa-apa kok dibanding rumahku yang ada di Apgujeong.” Katanya.
Jadi rumah seluas lima hektar dengan fasilitas lengkap bak villa, dan bisa menampung tujuh rumah seukuran rumahku ini masih ada yang lebih. Bukan apa-apa kok.

Orang-orang mulai berdatangan dan menikmati pesta. Aku benar-benar tidak merasakan kehidupan disini, jadi aku cuman duduk di tempat cocktail diletakkan. Luhan sedang bersenang-senang tapi dia berjanji tidak akan jauh-jauh.

Sialan dia, meminta untuk ditemani karena dia yakin kalau dia takkan dapat kawan tapi sekarang aku ditinggal bersama semangkuk cocktail yang memantulkan wajah jelekku.

Ntah kenapa aku merasa diawasi oleh seseorang, aku menoleh ke sekeliling ruangan. Tapi tidak ada yang mencurigakan, aku terlalu sering merasa seperti ini, dan setiap berfirasat buruk, sesuatu yang ganjal akan terjadi. Kumohon untuk kali ini jangan biarkan aku mengacau.

“Sehun?” Suara berat dan serak tertangkap indra pendengaranku. Aku merasa sengatan listrik berarus seribu ampere menjalari pundakku yang disentuh. Aku menoleh dan mendapati wajah tua yang keriput dengan senyum yang lebar. Dia adalah penjaga sekolahku, pak Kim. Tunggu, apakah tidak aneh kalau jonghyun mengundang penjaga sekolah ke pesta ulang tahun?

            “Akhirnya bertemu juga, aku sudah menantimu.” Dia berusaha tersenyum ramah, tapi di dalamnya ada kelicikan yang menusuk-nusuk tulang rusukku.
Aku terlalu lambat untuk merespons mungkin karena kebosanan yang telah menjalar diseluruh syaraf atau karena kenapa-jonghyun-repot-repot-mengundang-penjaga-sekolah
“eh apa maksud bapak?”

Dia meregangkan tulang lehernya dan mengeluarkan seringai tajam. “Kurasa tidak perlu lagi basa-basi, malam ini akan jadi malam yang terakhir bagimu…”

Saat dia menyelesaikan kalimatnya, dia berubah menjadi makhluk aneh yang memiliki mata satu dan rambut gimbal (mungkin tidak keramas selama hidupnya), tubuhnya berukuran sembilan meter. Semua orang menjerit karena pak Kim melempar mangkuk cocktail ke lantai disco.

Oh, tidak.

Aku sudah beribu kali menghadapi kejadian yang aneh, tapi baru kali ini aku melihatnya dengan begitu jelas. Tanganku gemetaran dan kedua kakiku seperti lepas dan melarikan diri tanpa membawa tubuhnya. Lalu apa?

Pak Kim menerjang dan aku berguling ke samping. Dia terus menyerbuku dengan pukulan mematikan, tombaknya hampir menjadikanku babi guling untuk makan malam. Cakarnya juga tidak bisa diremehkan ketika itu bisa membelah kursi dari kayu mahoni bagaikan mengoyak permen kapas, sempurna.
“Aku tidak akan membiarkanmu hidup!!!” Ia menggeram marah.

“Apa salahku?!” aku memberanikan diri untuk bertanya, suaraku lebih mirip tikus yang mencicit. Ia tertawa, “Kau adalah ancaman untuk kaumku, enyahlah”

Ketika pak Kim hendak membuatku jadi daging penyet, Luhan berlari dan aku bisa melihatnya melompat dan menusuk pak Kim, “dasar Cyclops bau bangkai! Keramas di Tartarus sana!” pak Kim melolong dan ia pun terbuyarkan menjadi debu.

Jonghyun menerobos kerumunan yang masih dilanda kepanikan akut di sekitarku.
“Apa yang- oh celaka kau, Oh Sehun!!!"

Luhan menegang dan tergagap berseru padaku, “Lari, sehun!!!”
Kami berdua melarikan diri dari jendela dan berlari tanpa melihat ke belakang, aku mengerang. Sepertinya tulangku ada yang retak, aliran panas menjalar di seluruh tubuhku. Sebentar lagi aku akan ambruk seketika, tapi Luhan merangkulku dan berbisik, “Bersiaplah untuk perjalanan bayangan.”
Aku bisa merasakan hawa dingin mengigit kulit, yang kulihat adalah lorong hitam tak berujung dan segelap mimpi buruk. 

******

Suara darah yang berdesir di seluruh pembuluh adalah hal pertama yang mampu kudengar. Hangatnya cahaya matahari membelai sekujur tubuh, silau hasil biasan cahaya matahari menacapkan titik sudutnya di kedua mataku yang belum bisa terbuka sempurna. Aku mencoba mengerjapkan mataku, terasa seperti dirujam beribu jarum. Mencoba lagi menggerakkan tanganku tapi terasa tak ada tulang. Oh ya ampun.

"Hallo bocah ileran, bagaimana hibernasimu? Sedap?" Suara berat namun jenaka menggeletik indra pendengaranku. Sosok yang berambut coklat, bermata bulat dengan senyuman selebar mungkin mengedipkan mata padaku. Sabuk perkakas yang aku yakin dapat memuat semua alat-alat bengkel, tingginya sekitar seratus delapan puluh centimeter  berdiri di samping tempatku berbaring.  

"Chan, jangan terlalu keras. Dia baru saja melewati masa kritisnya." Kini kudengar suara yang sangat familier mencoba menahan seruan yang mungkin bisa membuat aku koma tiga bulan. Sialan, apa yang baru saja terjadi?

Lelaki yang dipanggil Chan itu mengendikkan bahu tanda, "Ah masa sih? Ya udah deh," lalu ia mengeluarkan cengiran dan melambaikan tangan di depan wajah kuyu ku. "Selamat datang di Camp Half Blood, saudara."

APA?!

"Oh, ya ampun, kenapa dia ganteng banget?" Dia cekikikan tak jelas lalu keluar dari ruangan sambil memutar obeng. Aku berusaha duduk tapi Luhan memaksa ku untuk tetap berbaring,
"Maaf, Sobat, gara-gara aku, kau jadi kritis begini, dan pingsan selama seminggu. Hm, darurat sih." Katanya. Luhan menggaruk bagian belakang telinganya, hal yang ia lakukan kalau dia gugup.

"A...apa?" Argh, apa-apaan ini?! Aku mengerang tanda protes karena suaraku seperti meja tua yang sudah lama mendekap di gudang dan tiba-tiba saja didorong. Ya seperti itulah, bayangkan saja.

"Jangan terlalu memaksakan. Aku membawamu pergi dari pesta jonghyun dengan perjalanan bayangan, seharusnya itu dilakukan ketika kau mendapat pelatihan selama 3 bulan. Ta-tapi karena darurat aku nekat. Kau hampir mati, sehun. Astaga, maafkan aku." Ia menangkupkan kedua tangannya untuk menutupi wajah, penyesalan menyelimuti batinnya, jelas saja.

"Tidak apa-apa." Suaraku kembali normal, dan aku mampu menggerakkan tangan dan kepala walau masih ada rasa ngilu.
“Tapi, pak kim?" Aku mengingat kejadian malam itu ketika ia berubah menjadi monster yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Buruk rupa, benar. Tapi berubah menjadi manusia untuk waktu yang cukup lama hanya untuk membuntutiku? Yang benar saja?

"Dia bukan penjaga sekolah, Sehun. Dia Cyclops. Oh astaga, baru kali itu aku bisa membunuh Cyclops, ayo tos!" Pekik Luhan. Dia selalu mengajak tos saat senang, tapi tanpa memedulikan keadaan. "Maaf." Katanya.

Aku menelaah seisi ruangan yang cat nya hampir terkelupas, banyak tempat tidur yang disusun rapi dan beberapa kotak obat di masing-masingnya. Ada juga meja untuk menaruh lampu tidur. Dan aku bisa melihat patung-patung yang biasa kulihat di pancuran dekat sekolah di setiap sudut ruangan. Dewa-dewi?

"Luhan?" Panggilku.

"Apa?" Tanyanya.

 "Aku ini siapa sebenarnya?" Aku duduk di tempat tidur, mencoba menuntut luhan untuk menjelaskan semuanya. Keanehan yang aku alami selama ini, luar biasa, Luhan selalu ada dimana pun aku berada.

Dia terlihat bimbang lalu tersenyum lirih dan duduk bersila di tempat tidur, di sebelah punyaku.
"Oh sehun, kau pernah belajar mengenai mitologi yunani, ya kan? Semuanya percaya kalau itu hanya mitos, sayangnya, itu tidak benar." Dia melihat patung-patung itu,
"Kau adalah keluarga mereka, Sehun. Kau adalah anak dari salah satunya. Bisa saja yang laki-laki atau yang perempuan."

"Bagaimana bisa....? Ayahku sudah mati." Tanyaku masih tidak mengerti maksudnya.

"Tidak-tidak, oh ya ampun! Ayahmu adalah salah satu dari bangsa Olympia atau seorang Dewa. Ia kekal, hidup abadi, atau tak bisa mati. Mungkin ibumu hanya mengarang cerita."

"Mengarang cerita." Aku mengulang dengan lirih.

"Dewa-dewi bisa jatuh cinta pada manusia, dan melahirkan anak-anak yang tidak normal, punya kekuatan, yah, seperti kita. Separuh manusia separuh dewa" Luhan terlonjak dan kepalanya sukses membentur tembok.

Secercah bayangan hitam berkelebat di sekitar Luhan dan berdiri tepat disampingku. Jika saja aku tidak selesu ini mungkin lampu tidur melayang gratis untuk makhluk aneh itu.
"Halfblood atau istilah kerennya demigod. Kau. Oh sehun. Adalah salah satunya. Hallo, saudara."
Lagi-lagi kata itu. Saudara katanya? Enak saja, aku kan secara harfiah adalah anak tunggal.

"Kai, sialan kau!" Luhan mengumpat kasar dan bantal yang ada di sebelahku melayang begitu saja dan menimpuk bayangan hitamyang telah menjadi seorang lelaki berkulit sawo matang dan memiliki mata hitam yang gelap. "Hilangkan kebiasaanmu, dasar cowok zombi."

Kai mendelik sebal, dan menatap jail ke arahku dengan seringai. "Halo, Kai, putra Hades." Katanya.

"Hades? Dewa Dunia Bawah?" Tanyaku penuh rasa kagum. Ia mengangguk bangga. Dan mengeluarkan seringai tajam yang lebih menakutkan, seketika suhu dalam ruangan menurun drastis, menimbulkan hawa dingin yang menusuk. Lampu meredup layaknya kehilangan daya listrik. Beberapa benda yang terbuat dari logam bergetar seperti akan jatuh dari tempatnya.

"Pergilah, kai. Aura mu terlalu berbahaya." Kata luhan, mendesah pelan. Ia mengusap kepalanya yang benjol dan kembali duduk bersila.

Kai melambaikan tangannya acuh, aku berjengit. Selembar perunggu, kayaknya sih, melayang dan membentur dinding di sebelahnya. Dan dia menghilang, meninggalkan bau tanah kuburan. Mengerikan.

"Oh, maafkan yang satu itu, sobat." Dia menggelengkan kepala, lalu merapikan tempat tidur yang didudukinya dan memungut bantal yang ia lempar tadi. "Kekuatan anak Hades, Teleportasi. Lalu, logam itu? Kurasa Kai habis menelan magnet, yang jelas dia adalah dektetor logam yang handal. Ah, siapa peduli?"

"Dektetor logam?" Tanyaku. Luhan menggangguk. "Dia bisa menemukan berbagai macam logam yang tertimbun di tanah. Jadi jangan kaget kalau dia tidak tertarik pada emas." Katanya, sambil meminum cairan berwarna perak yang bercahaya. Benjol dikepalanya hilang dengan perlahan.
"Ini nektar. Minuman dewa, sih. Jika manusia biasa meminumnya, tulangnya akan berubah menjadi pasir dalam sesaat. Karena kita separuh dewa, jadi nggak masalah, tapi ada takaran khusus."

Dia menyenggol bahuku, dan mengedipkan mata. "Mengenai Kai, dia itu putra salah satu dari tiga besarZeus, Hades, Poseidon. Kekuatannya sangat mematikan, dari aura nya pun sudah terasa. Kau harus hati-hati, rawr." Godanya. Aku menjulurkan lidah melihat tingkahnya yang konyol.

            "Mau keluar?" Tanya Luhan, mengangkat kedua alis tipisnya. Aku menggangguk, dan susah payah berdiri tegak.   

Pintu berderap terbuka, cahaya menyilaukan membuat mata sulit untuk melihat. Ketika sudah terbiasa, aku bisa melihat pondok-pondok membentuk persegi sempurna mengelilingi api unggun besar di tengah-tengahnya. Ada arena panahan, lempar lembing, panjat tebing dan danau kano. Pohon-pohon menjulang tinggi, membuat udara menjadi sejuk.  Ada auditorium untuk makan malam, sepertinya.

Terdengar suara sapi bersahutan dari arah barat. Dan benar saja, sekitar puluhan sapi sedang merumput dan berkeliaran tenang. Anak-anak seumuran denganku membawa pedang, tombak juga ada tameng dan beberapa senjata lainnya. Kami mulai berjalan mengelilingi perkemahan ini, satu-satu pekemah (begitu menurutku) menyapa luhan dan melewati aku begitu saja.

"Perkemahan ini terletak di pulau Nami, kau tahu? Disini semuanya masih sangat alami. Kau pasti betah, dan.... aman."

Luhan mengarahkan tangannya ke suatu arah, dan sebilah pedang melayang lalu jatuh kegenggamannya. "Kau harus terbiasa dengan ini." Dia menghunus pedangnya, memotong ranting di hadapan kami, lalu berjalan lebih dalam ke hutan.

"Bagaimana kau melakukan itu?" Tanyaku. Mengabaikan sarannya untuk terbiasa dengan yang tajam-tajam. "Oh ya," katanya. "Telepati, suatu kemampuan untuk mengendalikan benda mati hanya dengan memusatkan pikiran pada benda itu. Kemampuan dari ibuku."

"Ibumu seorang dewi?"

"Iya, Athena, Dewi Kebijaksanaan." Ia tersenyum. Dan kami melanjutkan langkah. Suara deburan ombak menggelitik telingaku, di ujung sana ada pantai berpasir putih, seseorang tampak sedang mengangkat ombak dan menghempaskannya lagi.
"Dia suho, putera Poseidon, Dewa Laut. Salah satu senior disini. Dia tolol banget untuk putra tiga besarZeus, Hades, Poseidon. Tapi kekuatannya tidak kalah mematikan dengan punya Kai,"

"Lalu, siapa ayahku?" Tanyaku. Ia terdiam, terlihat kebingungan seolah aku adalah pengecualian. "Belum ditentukan. Maaf, nanti juga akan ketahuan dari kemampuanmu."

Aku mendesah, dan Luhan menepuk punggungku untuk memberi semangat. "Kau bisa tinggal di pondok 11 atau milik Hermes dulu, mereka selalu menerima yang belum ditentukan." Aku nyengir garing, dan tampak seolah aku tidak mau.

Kami berjalan kembali menuju pondok-pondok, "Setiap dewa-dewi punya satu pondok. Aku ada di enam." Dia menunjuk ke arah pondok yang di cat putih gading, ada kepala burung hantu yang tergantung di pintu.

"Pondok pertama milik Zeus, tidak ada penghuni karena Zeus tidak punya anak manusia lagi selama abad ini. Kedua milik hera, dia Dewi Pernikahan, tentu saja tidak akan menikah dengan manusia." Aku tertarik melihat kedua pondok terbesar di perkemahan ini. Keduanya tampak megah namun keheningan yang suram sangat terasa.

"Kenapa Zeus tidak punya anak? Mitos bilang dia punya banyak anak." Kataku. Luhan berhenti tersenyum, "Anak manusia dari Zeus, sangat berbahaya. Ia mungkin bisa menjadi pemimpin yang baik, namun bisa menggulingkan kita semua. Ia pasti sangat mengerikan. Dan kekuatannya lah yang paling dashyat daripada yang lain, Suho dan Kai sekalipun,"

Aku mendengar petir menyambar beriringan dan berhenti seketika, meninggalkan bunyi guruh samar. Luhan menganga layaknya tak pernah melihat itu sebelumnya. Tapi dia menggelengkan kepala dan berusaha menyingkirkan apa yang ada di benaknya.

"Yang ketiga milik Poseidon, dan selanjutnya Hades, lalu yang kelima adalah milik Demeter." Jelasnya lagi, seraya melambaikan tangan pada salah satu pekemah yang sedang bermain volley.
"Ah, kau bisa tahu lebih lanjut nanti. Aku ada kelas berkuda. Bertemu saat makan malam!" Ia berlari menjauh, meninggalkan aku sendiri layaknya orang tolol yang luntang luntung karena belum ditentukan.

Seorang pemuda berjalan mendekati dengan seringai lagi, mengenakan kaos tanpa lengan berwarna merah bertuliskan camp half blood dengan simbol dua pedang yang menyilang.  Ia mengenggam sebilah pedang yang ganggangnya berwarna merah darah. "Wah, anak baru!" Serunya. "Asyik, nih."

Aku bergidik, bulu kudukku meremang. Dan tanpa sadar aku melangkah mundur seraya dia mendekat. "Jangan takut begitu, cungkring. Aku Kevin Wu, anak Ares." Ia memukul dadanya dua kali dan tersenyum angkuh. Oh, aku jadi kangen senyum Jonghyun.

"Kau anak China ya?" Tanyaku. Ia menggeram marah, dan menancapkan pedangnya di tanah. Aku memasang tampang siaga satu.

"Anak china katamu? Aku ini orang kanada! Pekemah ingusan disini biasanya memanggil aku Kris. Kau paham, Sanghoon?"

"Sehun." Kataku.

"Ah iya, terserah. Kau belum ditentukan? Kasian sekali harus berdesak-desakkan di pondok hermes. Seharusnya kau sudah ditentukan kalau saja direktur perkemahan tidak sedang berlibur."

"Direktur perkemahan?" Tanyaku. Jadi ini mungkin semacam organisasi atau klub yang terdiri dari anak-anak yang aneh.  

"Iya, dia lah yang memberi tugas konyol dan menjatuhkan hukuman pada yang lemah. Haha, bukan aku tentunya!" Ia tersenyum penuh kemenangan, mungkin hanya pandanganku saja tapi setiap pekemah mencibir di belakang punggungnya. "Aku ini tampan, pandai bertarung, selalu membantai monster. Kau pasti akan menganggumiku."

"Mau muntah," kataku spontan. Ia mendelik penuh amarah, beberapa pekemah cekikikan mendengarku yang kelewat berani.

"Baiklah, Seohyun-"

"Sehun." Potongku. Aku menepuk dahi tanda tidak tahan dengan ketolol-an pria yang satu ini.

"-Kau anak baru harus diberi pelajaran pertama untuk pemula yang pembangkang." Dia melempar sebilah pedang, dan aku menangkap ganggangnya dengan gugup. "Lawan aku." Katanya.

"Kris, berhentilah mengganggui anak baru." Seorang gadis memakai kaos yang sama dengan kris, berambut panjang di ikat kuda dan berparas cantik mendekat sambil melipat tangan di dada. Ya ampun, aku belum pernah bertemu gadis secantik itu.
 "Pergi sana!" serunya.Gadis itu membawa sarung panah yang berisi banyak anak panah, juga busurnya.

"Bisakah kau nggak mengganggu kesenanganku sekali saja?" kata Kris, ia tidak menghiraukan perintah gadis itu, dan terus menyeretku ke tengah-tengah lapangan. "Menyebalkan," umpatnya. Gadis itu menatap pasrah ke arahku, dan berusaha bilang tidak apa-apa tanpa suara. Oke baiklah, kenapa tidak?

Tanpa aba-aba, Kris menyerangku, secara spontan aku menangkisnya dan berusaha agar dia tidak menjadikan aku makan malam di hari pertama aku datangmaksudku di hari pertama aku sadar. Aku mencoba menyerangnya, tapi dia terlalu lihai dengan mudah menangkisnya tanpa harus buang-buang tenaga. Lama-lama aku mulai kehabisan energi, Kris masih segar dan belum berkeringat. Aku terdesak, perlahan-lahan melangkah mundur, hampir terjungkal. Aku bisa melihat gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Para pekemah berdesakan untuk melihat kami.

"Ayo, lawan aku! Menyerah?" Sindirnya. Dengan susah payah aku menghunus pedang. Trang. Pedangku terjatuh dan mendarat di kaki salah satu pekemah. Tamat riwayatku. Kris tertawa, dan sebelum menghunus pedangnya, aku merasakan jantungku berdetak tak karuan, nadi di sekujur tubuhku berdenyut tak sesuai irama.

Duar

Petir menyambar lengan Kris yang hendak menghunus pedang, pedangnya terlempar ke arahku. Lalu, aku berguling kesamping dan menatap tak percaya pada apa yang kulihat. Petir terus-terusan menyambar ke tanah, Kris tergeletak tak berdaya. Aku bisa melihat para pekemah lari berhamburan mencari perlindungan agar tidak jadi korban berikutnya. Meskipun aku berdiam diri, tampaknya petir itu tidak mengenaiku.

Kai muncul secara tiba-tiba di sampingku, dia terlihat tak bisa bicara apa-apa, tapi berusaha untuk tetap tenang. "Di immortales," katanya. "Oh sehun, hentikan petir itu SEKARANG!!!" Ia menjerit. Tanah di bawahku rasanya akan terbuka karena amarahnya.

"AKU TIDAK MELAKUKANNYA!!!" Aku balas menjerit, menyebabkan petir semakin menggila. Menyambar salah satu pekemah yang berlindung di tempat tombak ditaruh. Gadis itu datang, tergopoh-gopoh bersama pemuda yang kutahu bernama Suho. Aku bisa melihat Luhan membawa seekor pegasus terbang menjauh karena petir seakan mengejarnya.

"Apa yang-" Suho melotot ke arahku. "Oh sehun, hentikan!" Perintahnya.

"Apa yang harus kulakukan?!"

Gadis itu memegang kedua bahuku, "Tenangkan pikiranmu, jangan marah." Suaranya begitu lembut sampai-sampai aku tidak sadar petir telah berhenti menyambar.
"Di immortales, Oh sehun kau adalah-" dia menatap ke langit, bukan, tepatnya yang ada di atas kepalaku. Semuanya juga tampak terkesima melihatnya. Satu persatu para pekemah mulai berlutut kepadaku, bahkan Suho juga Kai.

Aku mengangkat kepala, dan bisa melihat ada semacam hologram berwarna emas dan ada tanda petir yang menyambar. Lalu perlahan memudar, tiba-tiba pakaianku tidak lagi sama. Baju zirah yunani berwarna emas yang menyala, sebuah pedang yang juga berwarna emas ada dalam genggamanku, perisai bercorak kepala medusa dengan ular-ular melingkar, di lengan kiriku.

Yang paling mengejutkan, ada sepasang sayap, masing-masing sepanjang satu meter di punggungku, kukepakkan keduanya menimbulkan angin yang kencang. "Maaf, tapi-" aku berkata dengan gugup. "Ayahku?"

Suho lah yang pertama berdiri, dia tampak kalut. Namun masih berwibawa sejak dialah pemimpin sementara di perkemahan.

"Zeus," katanya. "The King of gods, The Lord of Heaven, The Ruler of Mankind. Salam Oh Sehun, Putra Sang Dewa Langit." 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar