Me!

YO WASSUP !

Holla! I'm Nabila Alya Ramadhina but you can call me by nickname, it's Alzeya! i just joined blog this year so actually i don't even know what people usually do in their own blog~ but i'm writing here and i hope you willing to read those hehe i'm 14yo and i'm an exofan. asking me over here www.ask.fm/growlseductively and follow me www.twitter.com/xeyeol thank you xoxo

Sabtu, 11 Januari 2014

Oh Sehun and the Goddess of Hearth (chapter 2)

HIIIII I FORGOT TO ADD AN INFO ABOUT MY FF HAHA SORRY! upload 2 part sekaligus deh! don't be a plagiator jebal.

Title : Oh Sehun and the Goddess of Hearth (Oh Sehun dan sang Dewi Perapian)

Main Casts : Sehun, Kai and Sharley (all of exo's members are including too)

Genre : Greek Mythology, Action, Thriller

Author : prophexocy

Setelah kejadian tak terduga sore itu, aku tinggal di pondok satu yang termegah dan tampak sangat elegan milik ayahku, Zeus. Pondok ini berwarna serba keemasan yang tidak norak, justru warnanya sangat cantik. Ada tempat tidur susun di sisi kiri dan kanan. Karpet dari bulu singa yang lembut terbentang di lantai, hiasan burung elang di meja kecil di samping tempat tidur, dan lukisan pohon ek.

Sampai saat ini aku masih tidak bisa percaya kalau Zeus, dewa yang paling kuat dan berkuasayang selama ini kukagumi karena dia adalah ayah dari Heracles atau lebih dikenal Herculesadalah ayahku. Menyenangkan, bukan?

Tidak juga, sekarang semua orang termasuk Luhan terlalu kaku atau mungkin takut untuk sekedar menatap mataku. Mereka percaya bahwa keturunan Zeus di abad ini, lebih kuat dari siapapun. Termasuk ayahnya sendiri, padahal aku tidak merasa sekuat itu. Namun ada beberapa yang biasa saja bahkan tidak gentar berada di dekatku misalnya gadis itu yang sekarang kutahu bernama Sharley, Suho, Kris dan Kai. Kai bilang kalau pun aku bakal menghancurkannya dia bakal menghilang dalam lima detik. Suho percaya padaku bahwa aku memiliki kebijaksanaan dan tidak akan main-main dengan kekuatan yang kupunya. Kris masih dendam padaku karena telah mempermalukannya dan mungkin akan meminta bantuan pada salah satu anak NemesisDewi Pembalasan Dendam.

Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku, lalu menekan tombolyang biasanya digunakan untuk mengatur jarum jamdan jam itu melakukan transformasi menyebabkan bunyi seperti pedang yang diasah. Lalu dengan cepat membentuk bulatan sempurna, sebuah perisai. Luhan bilang ini namanya Aegis, hadiah dari ibunya, Athena, untuk Zeus. Dan sekarang ada ditanganku, ya ampun. Aku dapat melihat kepala medusa yang kurasa masih hidup, karena matanya melotot padaku seakan masih punya kemampuan untuk mengubahku jadi batu. Aku melepas pin yang tersemat di bajuku lalu melemparkannya ke udara, pin itu pun berubah menjadi pedang emas. Semua senjataku bisa berkamuflase menjadi sesuatu yang mudah dibawa kemana-mana dan ketika aku tidak sengaja menghilangkannya, pasti akan kembali lagi ke sakuku. Aku tergoda untuk melepaskan sayapku lagi, tapi itu akan menguras energi. Sia-sia saja kalau dipakai saat tidak dalam keadaan genting.

Hari ini aku memakai baju kuning bertuliskan Camp Half Blood dengan simbol burung elangburung keramat untuk Zeustanpa lengan dan jeans berwarna hitam yang agak longgar. Suho bilang aku bisa mengambil jadwal kelasku kalau mau, dan siang ini aku ada kelas memanah.   

Pintu diketuk dua kali, aku bergegas membukanya. Sharley memakai baju biru tua dengan rompi dari kulit berwarna hitam berkacak pinggang di hadapanku. Aku bisa melihat simbol burung gagak di bajunya. Sarung panah dan busur melekat di punggungnya. Dia mengangkat alis dan memperhatikanku dari kepala sampai ujung kaki. "Tampaknya kau sudah siap, ayo!" Dia berjalan tanpa menunggu.

Aku mengerutkan kening, lalu menutup pintu pondok dan mengikutinya. "Mau kemana?"

"Ayahku memanggil para konselor senior yang menjadi penguruskau termasuk salah satunya sekaranguntuk berkumpul di Markas Besar. Masalah penting, biasanya." Katanya, mengelus-elus busur emasnya.

"Siapa ayahmu?" Tanyaku. Dia melihatku dengan tatapan bahwa aku adalah orang yang tidak tahu apa-apa.

"Demi dewa-dewi," kata Sharley. "Kukira kau sudah tahu dari busur dan burung gagak ini. Ayahku, Apollo, tentu saja. Dewa Matahari dan Musik."

Aku bergumam kagum, dan dia hanya mengerlingkan mata seolah itu bukan apa-apa. "Aku tinggal di pondok tujuh." Dia menunjuk ke arah kanan tepat pada pondok ber cat oranye, patung-patung burung gagak bertengger di atap. Simbol matahari tergantung di pintu, menandakan itu milik Apollo. "Bersama dua saudara yang menyebalkan minta di kasih ampun, Byun Baekhyun dan Zhang Yixing."

"Kalian pasti tidak berasal dari negara yang sama?" Tebakku, Sharley menggangguk.

"Aku seharusnya pindah dari camp ini ke camp yang lebih dekat dari rumahku di Mexico sejak setahun yang lalu, tapi aku terlanjur betah. Salahkan satir itu yang membawaku kesini." Dia merengut.

Aku berusaha mencerna kalimatnya. "Satir? Apa tuh Satir?" Sharley tertawa. "Ya ampun, setengah manusia-setengah kambing. Dia penjaga anak-anak seperti kita supaya nggak dimakan monster."

"Jadi, karena Luhan menyelamatkanku waktu itu. Berarti dia satir?"

Sharley ketawa lagi, kali ini lebih kencang dan lebih lama. "Aduh, sehun, lain kali kau harus lebih pintar dari hari ini." Katanya, "Apa Luhan punya kaki kambing? Nggak, kan? Ya ampun, dia itu demigod juga, astaga. Tunggu sampai Athena mendengar ini, kau akan jadi daging asap." Ketawa lagi. "Satir sedang sibuk mengurus masalahnya sendiri, jadi mungkin saja Luhan mencoba membantu dan mengawasimu." Aku cemberut, merasa kalau aku adalah anak ingusan yang bodoh.
"kenapa kau bisa bahasa korea?" Dia berhenti tertawa dan mengerutkan kening tanda tidak mengerti. Lalu dia tersenyum dan menggangguk.

"Wah, kau mendengarku berbicara korea? Aku mendengarmu berbicara bahasa Inggris malah. Ini adalah sebuah mantra dari anak HecateDewi Sihirjadi sesama demigod bisa mengerti satu sama lain walaupun bicara dalam bahasa berbeda. Hanya saja mantra ini tidak terlalu ampuh jika berada di luar camp half blood. Yah, tapi aku bisa kok bahasa korea." Sharley tersenyum bangga. Aku terkesima mendengar penuturannya, lalu tertarik untuk mengikuti kelas sihir kapan-kapan. Merapal mantra untuk mengatasi respon otak yang lambat.

"Nah, ayo masuk. Ingatlah, jangan macam-macam. Ayahku suka mengutuk orang." Dia mengedipkan mata dan meletakkan telunjuknya dibibir. Bahaya nih.

Kami melangkah masuk, walaupun namanya Markas Besar kenyataannya ruangan ini sangat minimalis. Rak-rak buku memenuhi seisi ruangan berisi seribu buku tebal yang kertasnya sudah usang. Gulungan peta terbentang menunjukkan peta laut mediterania. Ubin-ubin terbuat dari kayu, sehingga jika melangkah ada bunyi yang berkeriut. Kami menaiki lantai dua, di sepanjang tangga lilin-lilin di dalam tengkorak kepala manusia menyala tiba-tiba, seakan menyambut kami atau memberi tanda ada yang datang.

Terdengar musik disco berdentum-dentum dengan volume penuh. Sharley mengumpat dan menutup telinganya, melangkah dengan langkah lebar.
Ruangan yang berada di loteng ini lebih luas, mungkin karena tidak ada rak buku disini. Terlihat para konselor senior tengah bercakap-cakap di sebuah meja rapat yang terbuat dari kayu mahoni. Sharley mengabsen, memastikan semua sudah hadir. "Jumlahnya 11 orang, Aku, Kau, Kai, Suho, Kris, Luhan, Chanyeol dari pondok HephaetusDewa Api, Xiumin dari pondok DemeterDewi Pertanian, Chen dari pondok DionysusDewa Anggur, Cassandra dari pondok AphroditeDewi Cinta, oh kenapa konselor senior Hermes nggak lagi sama?" Kami mengambil tempat duduk. Luhan mengajak tos, "Bung, lama nggak berjumpa." Ya, memang. Habisnya dia sih yang menjauh.

Seorang pria menjabarkan peta lalu berdecak dan menggulungnya lagi. Dia terlihat seperti pria 18 tahunan, dan sangat tampan. Memakai baju merah tanpa lengan, memamerkan otot lengannya yang terbentuk. Celana jeans hitam belel yang robek-robek di bagian lutut hingga tulang kering, kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya. Dan dia pasti bukan orang korea.

"Oh, kalian sudah datang? Halo, namamu Sehun, kan? Putra Zeus, kan? Wah, berarti kalau dihubung-hubungkan, kau adalah saudara tiriku." Dia berceloteh dengan riang. Bolak-balik mencari sesuatu sambil bergoyang.

"Kok bisa?" Tanyaku. Sharley mengerlingkan mata mengatakan bahwa dia bilang, mulai deh bodohnya.

"Ya ampun." Kata pria itu, "karena ayahku, Zeus, kukira kau adalah anak yang pintar karena kau adalah pemimpin."

"Anda Apollo? Dewa?" Kebodohan lagi. Kai tertawa, menyebabkan koleksi koin-koin dari abad 16 berterbangan.

"Iya! Tentu saja. Kenapa? Kau pikir seorang dewa itu tidak bisa fashionable dan macho seperti model jaman sekarang? Pemikiran dangkal." Kata Apollo. Dia kembali ke kursinya sambil membawa gulungan peta, menjabarkannya dan menggangguk-angguk. Dia melepaskan kacamata hitamnya. "Nah, Oh Sehun, jangan bicara lagi atau bertanya. Ini serius, atau kau dikutuk." Memutar-mutar kacamata hitamnya seakan kacamata itu adalah tongkat sihirnya.

"Sudah kubilang," kata Sharley. "Ayah, kalau kau mau memulai rapat, tolong hentikan dulu musik disco-mu." Sharley memohon dengan malas.

"Oops, maaf, kebiasaan lama." Ujarnya. "Aku selalu mendengarkan musik kapanpun dan dimanapun, bahkan ketika rapat di Olympus. Zeus hampir menjatuhkan hukuman seabad tanpa musik. Keterlaluan, Ayah benar-benar gila!" Guntur menggelegar. Apollo menengok ke atas seolah-olah atap menembus, menampakkan langit biru. "Maaf, Ayah tersayang." Tapi dia tampak tidak menyesal sama sekali.

Dia berdiri, meletakkan tangan yang dikepal di bawah hidungnya dan memandangi kami satu-persatu. "Jadi, begini anak-anak, aku datang kesini khusus untuk memberi sebuah misi." Kris mendadak bersemangat pada topik yang dibahas. "Seperti yang kalian dengar dari gosip para naiadperi airbahwa direktur perkemahan tengah berlibur, itu cuman sekedar gosip."
Apollo menatap jail, teramat senang dengan ekspresi kami yang bego.
"Dia diculik." Kata Apollo. Aku melotot, para konselor terperanjat, hampir memekik. Kami menunggu sampai Apollo bilang, aku cuma bercanda dasar anak-anak ingusan.
"Bagaimana bisa?" Tanya Suho, tampak cemas. Disebelahnya, Cassandra, terlihat ketakutan dan khawatir juga, entah karena direktur atau bedaknya yang luntur.

"Aku tidak tahu pasti. Dia memang bukan ahli perang tapi setidaknya semua orang membuat sumber kekuatannya. Penculik ini sangat cerdik, wajar sih. Dia salah satu keturunan kakekmu yang menyebalkan itu, Tuan Oh." Dia menatap lirih ke arahku, aku menahan hasrat untuk bertanya karena masih ingin hidup dengan normal. Tapi, kakek? Kakek yang jauh berbeda dengan kakek-kakek lainnya. Kakek abadi.

"Kalian harus bisa menemukan dia di pulau Jeju, aku rasa disitulah letaknya. Yang jelas, kalian akan bisa merasakan sendiri ketika kalian tidak jauh darinya." Jelasnya, menggulung peta itu dan mengikatnya. Apollo menyerahkan itu padaku. "Kupercayakan misi ini padamu, Sehun. Kau yang memimpin."

"Kenapa harus aku?" Mulutku menganga. Apollo menggerakkan tangannya, seketika mulutku langsung tertutup rapat. Aku mencoba bertanya lagi, tapi mulutku tidak bisa terbuka. Sial, dia benar-benar serius dengan kutukannya.

"Kau harus ditemani dua orang. Jadi, kupilih Sharley dan Kai untuk menuntaskan misi ini bersamamu." Baik Kai maupun Sharley bergumam puas dan bersemangat. Apollo menyalakan kembali music disco dan memakai kacamata hitamnya.

"Tidak bisa begitu, Pak." Kris bangkit dari kursinya. "Sohee itu masih baru dan misi ini sangat penting!" Luhan dan Suho mencibir ke arahnya. Chen membisikkan sesuatu pada Kris.  
Kris berdeham. "Maksudku, Sehun."

"Baru? Ya. Tapi menyambarmu dengan petir adalah kesan pertama yang memikat minatku untuk menaruh tanggung jawab padanya." Tukas Apollo. "Dia patut mengemban misi ini, Kevin, tutup mulut." Mendadak Kris menutup mulutnya rapat dan duduk dengan posisi tegang. Ouch, baru saja dikutuk. "Lagipula kau, Suho dan Chanyeol baru saja menuntaskan misi. Jadi bersikap adil, ok? Dan kami membutuhkan konselor senior untuk menjaga perkemahan ini selama direktur tidak ada."

"Baiklah, semuanya boleh pergi kecuali kalian bertiga. Silahkan meninggalkan Markas." Apollo tersenyum dan pergi mencari sesuatu lagi. Para konselor senior meninggalkan markas, kami bertiga diam seribu bahasa. Kutukanku belum dihapus juga. Di tanganku, gulungan peta itu terasa menghangat.

Apollo kembali dengan gulungan-gulungan perkamen sambil mengganti musik disconya menjadi musik seram. Sharley menggerutu lagi.
"Nah, kalian bertiga saatnya mendengarkan ramalan Phoebes Apollo." Dia mengedipkan mata dan tersenyum misterius.

Kai menghela napas panjang. Mengatupkan kedua tangan di wajahnya, Kai sepertinya berusaha untuk terus tetap tenang. Sharley mengeratkan genggaman pada busurnya sedangkan aku masih berusaha untuk mengeluarkan suara. Apollo menghela napas panjang. Aku berjengit, menatap ngeri kedua matanya ketika berubah menjadi hijau elektrik dan suaranya seperti bergaung.

"Tanah, Udara, dan Cahaya bersama hadapi ancaman,"
"Temukan saudara yang telah lama menghilang,"
"Rasakan sakit dari seorang yang menyimpan dendam lama,"
"Kau lepaskan yang telah dibelenggu,"
"Dan dapatkan sebuah pemberian yang tak pernah kau bayangkan."

Aku merasa telah menelan sebuah bola api, dan secara tidak sengaja membuat guntur. Belum pernah mendengar ramalan sebelumnya, dan ini benar-benar mengerikan. Walaupun hanya sekedar larik-larik, tapi yang jelas ramalan tadi menggambarkan hal-hal yang akan kulalui. Peta di tanganku mendadak jadi dua ratus tiga puluh dua farenheit. Kai mengigit bibirnya, tidak bisa menenangkan diri lagi sehingga sebuah piala melayang ke arahnya dan dia merunduk. Lantai di bawah kakiku bergetar hebat lalu kerangka tangan membelah lantai. Sharley juga tampak cemas, tapi selebihnya dia keliatan tenang.

"Tidak apa-apa, anak-anak! Ya ampun! Kai, perbaiki itu dan buat tanahnya berhenti bergetar. Oh ya ampun ada tangan!" Seru Apollo sambil mengeratkan pegangannya pada kursi. Setelah pulih, dia menggulung perkamen-perkamen kecil itu lalu memberikannya padaku. Apa dia benar-benar serius percaya padaku?! "Pikirkan ini baik-baik. Kalian harus lebih awas jika tempat atau waktu yang kalian jalani tepat dengan ramalan, bahaya akan menerkam."

Sharley lah yang paling pertama sadar. "Jadi, Tanah, Udara, dan Cahaya adalah Kai, Sehun, dan aku? Apa memang seperti itu yang dimaksud ramalan?" Tanyanya. Apollo menggangguk, "Itulah kenapa alasan aku memilih kalian. Kurasa misi ini akan berhasil jika kalian membentuk tim."

"Temukan saudara yang telah lama menghilang." Kai bergumam lirih. "Siapa? Banyak demigod berkeliaran dan nggak repot-repot tinggal disini." Dia mencoba tenang lagi, sambil menyusun piala emas itu agar terbentuk kembali.

"Yah, kita tidak bisa tahu begitu saja." Tukas Apollo. "Tapi, jika kalian menemukannya, bersikaplah sopan." Sayangnya aku tidak mengerti.

"Rasakan sakit dari seorang yang menyimpan dendam lama," Sharley mengulang kalimat ramalan ketiga. "Aku bakal bertanya pada salah satu anak Nemesis jika perlu." Dia menghembuskan napas.

"Dan menurut ramalan keempat, kalian berhasil menyelamatkan direktur, kurasa? Yah, semoga saja dia bukan yang lain. Ingatlah, membebaskan makhluk immortal lebih rumit dari yang kalian bayangkan." Kata Apollo, memasang earphone berbentuk tengkorak ditelinganya, Kai memberi tatapan seolah earphone itu miliknya.

"Aku suka ramalan terakhir." Ujar Kai. "Hadiah, inilah hasil dari sebuah misi. Kuharap Anda memberikan saya skateboard baru, Pak." Apollo mendelik marah, Kai nyengir dan memberi tanda peace. Sharley menggelengkan kepala, dan aku masih kesal karena Apollo tidak juga mencabut kutukannya, aku jadi nggak bisa ikut berdiskusi.

Apollo menjentikkan jari, seketika ada tiga buah tas ransel merek converse di hadapan kami. "Ini perlengkapan kalian. Aku sudah menyiapkan segalanya jadi kalian tinggal pergi saat fajar." Jelasnya. Kami mengambil masing-masing satu tas. Aku mengecek punyaku, ada botol-botol minum berisi nektar, juga ada kabut (buat apa sih?), multivitamin dan masih banyak lagi. Anehnya, tas ini sama sekali tidak berat.

"Minumlah sesuai takaran dan pakai perlengkapan itu saat keadaan genting, kalau tidak, kau akan merugi." Ujar Apollo. "Semakin banyak monster yang menghadang kalian, bantuan juga akan semakin banyak. Darimana saja, misalnya alam liar?"

"Terima kasih, Ayah." Kata Sharley. Apollo tersenyum hangat. Aku jadi kepingin bertemu ayahku, berpikir apakah ayahku setampan itu atau bertampang sangar secara dia mungkin stres punya tanggung jawab yang besar.

"Kalian pasti akan berhasil," Apollo berusaha menyemangati, tapi kami masih sangat tegang. "Aku janji akan mengawasi kalian," Itulah kalimat penyemangat, Pak.

Kami semua turun dan keluar dari Markas Besar. Apollo mendesah lega melihat matahari masih terik, aku tidak mengerti maksudnya apa. Dia menjentikkan jarinya seketika aku terbatuk-batuk. "Aduh," kataku. Oh, rupanya dia baru saja mencabut kutukan sialan itu.

"Ambil pelajaran dari kutukan itu ya, Tuan Oh. Jangan terlalu cerewet, aku tidak suka cowok bawel." Aku menggerutu pelan, sendirinya cerewet. Sharley menyikutku. "Iya, terima kasih, Dewa Apollo." Aku berkata dengan tulus. Apollo mendekati Sharley dan mengacak-acak rambutnya. Sharley memeluknya. Apollo membisikkan sesuatu dan Sharley menoleh padaku, lalu menggangguk.

"Semuanya, jangan menoleh ke langit! Setidaknya setelah kendaraanku parkir." Kata Apollo.

"Kendaraan macam apa?" Tanyaku. Sharley menyuruhku diam dan lihat saja. Tiba-tiba langit menjadi terang benderang dan menyilaukan, panasnya hampir seribu derajat. Aku hampir berlari ke danau kano untuk menceburkan diri kalau saja tidak ada kerumunan pekemah.

Mobil ferrari berwarna merah mengkilap terparkir di dekat api unggun yang padam. Para pekemah berdecak kagum seakan ingin menyentuhnya. "Ini kendaraan matahari, ya karena aku jadi Dewa Matahari menggantikan Helious mungkin ini adalah sebuah mobil dinas?" Dia mengedipkan mata pada kami bertiga.  
"Nah, semoga berhasil! Aku harus pulang ke Olympus untuk mengirim laporan pada Zeus." Katanya. Lalu dia masuk ke dalam mobil impianku itu, perlahan mobil itu mulai bercahaya. Aku ingin terus melihatnya tapi Sharley menangkupkan kedua tangannya di kedua pipiku dan menghadapkan mukaku dengan mukanya. Wajahku pasti bersuhu lebih panas daripada mobil Apollo.

"Kita pasti berhasil, kan?" Tanyanya. Aku agak lamban merespon sehingga dia menatap lebih dalam.
"E.. Eh.. Iya, tentu saja!" Aku bicara dengan gugup dan dia tersenyum. Dia jadi cantik banget dengan jarak sedekat ini.
Kai berdeham. Sharley melepaskan tangannya dan aku dengan bodohnya menatap sinis ke arah Kai. "Maaf mengganggu, Bung." Dia nyengir.

Malam itu kami berkumpul di auditorium untuk makan malam, aku duduk di meja Zeus sendirian karena aku tidak punya saudara. Sharley bilang ketika direktur belum diculik, mereka biasanya membakar setengah dari makan malam mereka di api unggun sebagai persembahan untuk dewa- dewi. Tapi sekarang dia tidak ada dan api unggun padam.

Kai datang dan duduk di sebelahku. "Nggak apa-apa, peraturan tidak berlaku sementara." Katanya. "Makan yang banyak, okay? Misi ini penuh tantangan."

"Apa aku bakal mati?" Tanyaku sambil mengiris steak sapi yang agak alot. Kai mengendikkan bahu. "Usahakan tetap hidup. Kau keturunan Zeus satu-satunya, mungkin bermanfaat untuk keabadian Olympus." Kai menyeruput jus jeruknya dan meringis seakan jus jeruk itu berisi paku. Garpu yang ia letakkan di meja melayang rendah lalu jatuh lagi. "Asem banget." gerutunya. Aku tertawa.

Sharley datang sambil membawa nampan berisi makan malamnya. Dia tersenyum lebar seakan esok hari dia cuman mengikuti kelas bukan menjalankan misi berbahaya.
"Hei, kurasa besok kita harus cari tumpangan ke Jeju." Kata Sharley. "Waktu kita nggak banyak."

"Mungkin para harpy mau membantu?" Kai berharap. "Tapi manusia setengah ayam itu suka ngelantur, aku jadi takut tersesat." Sharley bergumam setuju.

"Nah, Sehun, kaulah pemimpin! Mungkin kau ada saran?" Tanya Sharley. Aku menggeleng, "Ayolah!" Aku terdengar merengek. "Aku disini baru dua minggu dan nggak tahu apa-apa. Kalau aku bertanya, aku dikutuk. Kalian tidak tega padaku?"

Kai menjulurkan lidah, "Sayangnya tidak, anak manja." Sharley tertawa. Dan kami mulai menyantap makan malam, tidak peduli tatapan para pekemah karena Kai dan Sharley secara harfiah melanggar peraturan karena duduk di meja Zeus. Seharusnya mereka duduk di meja orang tuanya masing-masing.

"Begini," tukasku. "Apollo bilang bantuan akan datang sendirinya kalau diawal misi, ya kan?"

"Benar." Sharley sepakat. "Aku berharap hippocamus lah yang mengantarkan kita."
Kai menggeram, "tidak mau lewat laut lagi dan nggak mau bertemu kuda pelangi yang kau sebut itu."
"Apapun bantuannya terima saja, okay?" Aku mencoba membuat Kai tenang. Takut-takut kalau pisau yang kupegang terbang dan menancap dimana saja.

Seorang pekemah mendekati kami bertiga. Dia memberikan minuman padaku, "Ini, Sehun. Minum-"
"Tidak, terima kasih, sudah ada." Potong Sharley. Aku menatapnya heran. Sang pekemah meninggalkan kami sambil mengumpat kasar.

"Kenapa?" Tanyaku. Sharley mengerlingkan matanya malas. "Putra Nemesis, dia mau membalaskan dendam Kris padamu. Berhati-hatilah." Jawab Sharley. Aku bergidik ngeri.

"Bagaimana kalau minum Pepsi?" Tawar Kai. "Jeruk ini asem banget." Kai memanggil seorang pekemah lagi yang bernama Chen, konselor senior Dionysus.

"Yo wassup!" Sapa Chen, dia membawa tiga gelas kaca yang kosong. "Minum apa? Pepsi?" Tanyanya. Seketika gelas-gelas yang ada di tangannya terisi. Aku bengong, tidak mengerti bagaimana Pepsi itu bisa tertuang dari udara.     "Makasih, sobat!" Kai dan Chen beradu tos, aku jadi kangen Luhan. Sayangnya dia sibuk dengan urusannya mengurus perkemahan yang kacau balau.

"Teman-teman." Panggilku. Kai menoleh dibalik gelas kaca, dan Sharley mengucapkan apa tanpa suara.

"Direktur perkemahan ini sebenarnya siapa?" Tanyaku. Kai tersedak, memukul-mukul dadanya. Sharley buru-buru mengumpulkan garpu dan pisau lalu menyembunyikannya.

"Di immortales," keluh Kai. "Jadi selama ini kau belum tahu juga?" Aku menggeleng. Kai menyentil dahiku dan membaca mantra asal-asalan supaya aku lebih pintar. Sialan.

"Sehun, direktur perkemahan kita adalah seorang dewi Olympia." Kata Sharley. "Keluarga, rumah dan perapian. Tidakkah kau bisa menerka?" Aku berpikir keras, perapian, perapian, perapian.
"Dia memang bukan ahli perang tapi setidaknya semua orang membuat sumber kekuatannya." Perkataan Apollo terngiang di kepalaku. Perapian adalah sumber kekuatannya.

"Hestia," kataku. "Dewi Perapian."

Tiba-tiba api unggun di tengah pondok-pondok yang membentuk persegi menyala terang dan berkobar.

"Selamatkan aku, Oh Sehun."   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar