Title : Oh Sehun and the Goddess of Hearth (Oh Sehun dan sang Dewi Perapian)
Main Casts : Sehun, Kai and Sharley (all of exo's members are including too)
Genre : Greek Mythology, Action, Thriller
Author : prophexocy
Setelah kejadian tak terduga sore itu, aku tinggal di pondok satu yang termegah dan tampak sangat elegan milik ayahku, Zeus. Pondok ini berwarna serba keemasan yang tidak norak, justru warnanya sangat cantik. Ada tempat tidur susun di sisi kiri dan kanan. Karpet dari bulu singa yang lembut terbentang di lantai, hiasan burung elang di meja kecil di samping tempat tidur, dan lukisan pohon ek.
Sampai saat ini aku masih tidak bisa percaya kalau Zeus,
dewa yang paling kuat dan berkuasa—yang selama ini kukagumi karena dia
adalah ayah dari Heracles atau lebih dikenal Hercules—adalah ayahku. Menyenangkan, bukan?
Tidak juga,
sekarang semua orang termasuk Luhan terlalu kaku atau mungkin takut untuk
sekedar menatap mataku. Mereka percaya bahwa keturunan Zeus di abad ini, lebih
kuat dari siapapun. Termasuk ayahnya sendiri, padahal aku tidak merasa sekuat
itu. Namun ada beberapa yang biasa saja bahkan tidak gentar berada di dekatku misalnya
gadis itu yang sekarang kutahu bernama Sharley, Suho, Kris dan Kai. Kai bilang
kalau pun aku bakal menghancurkannya dia bakal menghilang dalam lima detik. Suho
percaya padaku bahwa aku memiliki kebijaksanaan dan tidak akan main-main dengan
kekuatan yang kupunya. Kris masih dendam padaku karena telah mempermalukannya
dan mungkin akan meminta bantuan pada salah satu anak Nemesis—Dewi Pembalasan Dendam.
Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku,
lalu menekan tombol—yang biasanya
digunakan untuk mengatur jarum jam—dan jam itu melakukan transformasi
menyebabkan bunyi seperti pedang yang diasah. Lalu dengan cepat membentuk
bulatan sempurna, sebuah perisai. Luhan bilang ini namanya Aegis, hadiah dari
ibunya, Athena, untuk Zeus. Dan sekarang ada ditanganku, ya ampun. Aku dapat
melihat kepala medusa yang kurasa masih hidup, karena matanya melotot padaku
seakan masih punya kemampuan untuk mengubahku jadi batu. Aku melepas pin yang
tersemat di bajuku lalu melemparkannya ke udara, pin itu pun berubah menjadi
pedang emas. Semua senjataku bisa berkamuflase menjadi sesuatu yang mudah
dibawa kemana-mana dan ketika aku tidak sengaja menghilangkannya, pasti akan
kembali lagi ke sakuku. Aku tergoda untuk melepaskan sayapku lagi, tapi itu
akan menguras energi. Sia-sia saja kalau dipakai saat tidak dalam keadaan
genting.
Hari ini aku
memakai baju kuning bertuliskan Camp Half Blood dengan simbol burung elang—burung keramat untuk Zeus—tanpa lengan dan jeans berwarna hitam
yang agak longgar. Suho bilang aku bisa mengambil jadwal kelasku kalau mau, dan
siang ini aku ada kelas memanah.
Pintu diketuk dua kali, aku bergegas membukanya. Sharley
memakai baju biru tua dengan rompi dari kulit berwarna hitam berkacak pinggang
di hadapanku. Aku bisa melihat simbol burung gagak di bajunya. Sarung panah dan
busur melekat di punggungnya. Dia mengangkat alis dan memperhatikanku dari
kepala sampai ujung kaki. "Tampaknya kau sudah siap, ayo!" Dia
berjalan tanpa menunggu.
Aku mengerutkan kening, lalu menutup pintu pondok dan
mengikutinya. "Mau kemana?"
"Ayahku memanggil para konselor senior yang menjadi
pengurus—kau termasuk salah satunya sekarang—untuk
berkumpul di Markas Besar. Masalah penting, biasanya." Katanya, mengelus-elus
busur emasnya.
"Siapa ayahmu?" Tanyaku. Dia melihatku dengan
tatapan bahwa aku adalah orang yang tidak tahu apa-apa.
"Demi dewa-dewi," kata Sharley. "Kukira kau
sudah tahu dari busur dan burung gagak ini. Ayahku, Apollo, tentu saja. Dewa
Matahari dan Musik."
Aku bergumam kagum, dan dia hanya mengerlingkan mata seolah
itu bukan apa-apa. "Aku tinggal di pondok tujuh." Dia menunjuk ke
arah kanan tepat pada pondok ber cat oranye, patung-patung burung gagak
bertengger di atap. Simbol matahari tergantung di pintu, menandakan itu milik
Apollo. "Bersama dua saudara yang menyebalkan minta di kasih ampun, Byun Baekhyun
dan Zhang Yixing."
"Kalian pasti tidak berasal dari negara yang
sama?" Tebakku, Sharley menggangguk.
"Aku seharusnya pindah dari camp ini ke camp yang lebih
dekat dari rumahku di Mexico sejak setahun yang lalu, tapi aku terlanjur betah.
Salahkan satir itu yang membawaku kesini." Dia merengut.
Aku berusaha mencerna kalimatnya. "Satir? Apa tuh
Satir?" Sharley tertawa. "Ya ampun, setengah manusia-setengah
kambing. Dia penjaga anak-anak seperti kita supaya nggak dimakan monster."
"Jadi, karena Luhan menyelamatkanku waktu itu. Berarti
dia satir?"
Sharley ketawa lagi, kali ini lebih kencang dan lebih lama.
"Aduh, sehun, lain kali kau harus lebih pintar dari hari ini."
Katanya, "Apa Luhan punya kaki kambing? Nggak, kan? Ya ampun, dia itu
demigod juga, astaga. Tunggu sampai Athena mendengar ini, kau akan jadi daging
asap." Ketawa lagi. "Satir sedang sibuk mengurus masalahnya sendiri,
jadi mungkin saja Luhan mencoba membantu dan mengawasimu." Aku cemberut,
merasa kalau aku adalah anak ingusan yang bodoh.
"kenapa kau bisa bahasa korea?" Dia berhenti
tertawa dan mengerutkan kening tanda tidak mengerti. Lalu dia tersenyum dan
menggangguk.
"Wah, kau mendengarku berbicara korea? Aku mendengarmu
berbicara bahasa Inggris malah. Ini adalah sebuah mantra dari anak Hecate—Dewi Sihir—jadi sesama demigod bisa mengerti
satu sama lain walaupun bicara dalam bahasa berbeda. Hanya saja mantra ini tidak
terlalu ampuh jika berada di luar camp half blood. Yah, tapi aku bisa kok
bahasa korea." Sharley tersenyum bangga. Aku terkesima mendengar
penuturannya, lalu tertarik untuk mengikuti kelas sihir kapan-kapan. Merapal
mantra untuk mengatasi respon otak yang lambat.
"Nah, ayo masuk. Ingatlah, jangan macam-macam. Ayahku suka
mengutuk orang." Dia mengedipkan mata dan meletakkan telunjuknya dibibir. Bahaya
nih.
Kami melangkah masuk, walaupun namanya Markas Besar
kenyataannya ruangan ini sangat minimalis. Rak-rak buku memenuhi seisi ruangan
berisi seribu buku tebal yang kertasnya sudah usang. Gulungan peta terbentang
menunjukkan peta laut mediterania. Ubin-ubin terbuat dari kayu, sehingga jika
melangkah ada bunyi yang berkeriut. Kami menaiki lantai dua, di sepanjang
tangga lilin-lilin di dalam tengkorak kepala manusia menyala tiba-tiba, seakan
menyambut kami atau memberi tanda ada yang datang.
Terdengar musik disco berdentum-dentum dengan volume penuh.
Sharley mengumpat dan menutup telinganya, melangkah dengan langkah lebar.
Ruangan yang berada di loteng ini lebih luas, mungkin karena
tidak ada rak buku disini. Terlihat para konselor senior tengah bercakap-cakap
di sebuah meja rapat yang terbuat dari kayu mahoni. Sharley mengabsen,
memastikan semua sudah hadir. "Jumlahnya 11 orang, Aku, Kau, Kai, Suho,
Kris, Luhan, Chanyeol dari pondok Hephaetus—Dewa Api, Xiumin dari pondok
Demeter—Dewi Pertanian, Chen dari pondok Dionysus—Dewa Anggur, Cassandra dari pondok Aphrodite—Dewi Cinta, oh kenapa konselor senior Hermes nggak lagi
sama?" Kami mengambil tempat duduk. Luhan mengajak tos, "Bung, lama nggak
berjumpa." Ya, memang. Habisnya dia sih yang menjauh.
Seorang pria menjabarkan peta lalu berdecak dan
menggulungnya lagi. Dia terlihat seperti pria 18 tahunan, dan sangat tampan.
Memakai baju merah tanpa lengan, memamerkan otot lengannya yang terbentuk.
Celana jeans hitam belel yang robek-robek di bagian lutut hingga tulang kering,
kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya. Dan dia pasti bukan orang korea.
"Oh, kalian sudah datang? Halo, namamu Sehun, kan?
Putra Zeus, kan? Wah, berarti kalau dihubung-hubungkan, kau adalah saudara
tiriku." Dia berceloteh dengan riang. Bolak-balik mencari sesuatu sambil
bergoyang.
"Kok bisa?" Tanyaku. Sharley mengerlingkan mata
mengatakan bahwa dia bilang, mulai deh bodohnya.
"Ya ampun." Kata pria itu, "karena ayahku,
Zeus, kukira kau adalah anak yang pintar karena kau adalah pemimpin."
"Anda Apollo? Dewa?" Kebodohan lagi. Kai tertawa,
menyebabkan koleksi koin-koin dari abad 16 berterbangan.
"Iya! Tentu saja. Kenapa? Kau pikir seorang dewa itu
tidak bisa fashionable dan macho seperti model jaman sekarang? Pemikiran
dangkal." Kata Apollo. Dia kembali ke kursinya sambil membawa gulungan
peta, menjabarkannya dan menggangguk-angguk. Dia melepaskan kacamata hitamnya.
"Nah, Oh Sehun, jangan bicara lagi atau bertanya. Ini serius, atau kau
dikutuk." Memutar-mutar kacamata hitamnya seakan kacamata itu adalah
tongkat sihirnya.
"Sudah kubilang," kata Sharley. "Ayah, kalau
kau mau memulai rapat, tolong hentikan dulu musik disco-mu." Sharley
memohon dengan malas.
"Oops, maaf, kebiasaan lama." Ujarnya. "Aku
selalu mendengarkan musik kapanpun dan dimanapun, bahkan ketika rapat di
Olympus. Zeus hampir menjatuhkan hukuman seabad tanpa musik. Keterlaluan, Ayah
benar-benar gila!" Guntur menggelegar. Apollo menengok ke atas seolah-olah
atap menembus, menampakkan langit biru. "Maaf, Ayah tersayang." Tapi
dia tampak tidak menyesal sama sekali.
Dia berdiri, meletakkan tangan yang dikepal di bawah
hidungnya dan memandangi kami satu-persatu. "Jadi, begini anak-anak, aku
datang kesini khusus untuk memberi sebuah misi." Kris mendadak bersemangat
pada topik yang dibahas. "Seperti yang kalian dengar dari gosip para naiad—peri air—bahwa direktur perkemahan tengah
berlibur, itu cuman sekedar gosip."
Apollo
menatap jail, teramat senang dengan ekspresi kami yang bego.
"Dia
diculik." Kata Apollo. Aku melotot, para konselor terperanjat, hampir
memekik. Kami menunggu sampai Apollo bilang, aku cuma bercanda dasar anak-anak ingusan.
"Bagaimana
bisa?" Tanya Suho, tampak cemas. Disebelahnya, Cassandra, terlihat
ketakutan dan khawatir juga, entah karena direktur atau bedaknya yang luntur.
"Aku
tidak tahu pasti. Dia memang bukan ahli perang tapi setidaknya semua orang
membuat sumber kekuatannya. Penculik ini sangat cerdik, wajar sih. Dia salah
satu keturunan kakekmu yang menyebalkan itu, Tuan Oh." Dia menatap lirih
ke arahku, aku menahan hasrat untuk bertanya karena masih ingin hidup dengan
normal. Tapi, kakek? Kakek yang jauh berbeda dengan kakek-kakek lainnya.
Kakek abadi.
"Kalian harus bisa menemukan dia di pulau Jeju, aku
rasa disitulah letaknya. Yang jelas, kalian akan bisa merasakan sendiri ketika
kalian tidak jauh darinya." Jelasnya, menggulung peta itu dan mengikatnya.
Apollo menyerahkan itu padaku. "Kupercayakan misi ini padamu, Sehun. Kau
yang memimpin."
"Kenapa harus aku?" Mulutku menganga. Apollo
menggerakkan tangannya, seketika mulutku langsung tertutup rapat. Aku mencoba
bertanya lagi, tapi mulutku tidak bisa terbuka. Sial, dia benar-benar serius
dengan kutukannya.
"Kau harus ditemani dua orang. Jadi, kupilih Sharley
dan Kai untuk menuntaskan misi ini bersamamu." Baik Kai maupun Sharley
bergumam puas dan bersemangat. Apollo menyalakan kembali music disco dan
memakai kacamata hitamnya.
"Tidak bisa begitu, Pak." Kris bangkit dari
kursinya. "Sohee itu masih baru dan misi ini sangat penting!" Luhan
dan Suho mencibir ke arahnya. Chen membisikkan sesuatu pada Kris.
Kris berdeham. "Maksudku, Sehun."
"Baru? Ya. Tapi menyambarmu dengan petir adalah kesan
pertama yang memikat minatku untuk menaruh tanggung jawab padanya." Tukas
Apollo. "Dia patut mengemban misi ini, Kevin, tutup mulut." Mendadak
Kris menutup mulutnya rapat dan duduk dengan posisi tegang. Ouch, baru saja
dikutuk. "Lagipula kau, Suho dan Chanyeol baru saja menuntaskan misi. Jadi
bersikap adil, ok? Dan kami membutuhkan konselor senior untuk menjaga
perkemahan ini selama direktur tidak ada."
"Baiklah, semuanya boleh pergi kecuali kalian bertiga.
Silahkan meninggalkan Markas." Apollo tersenyum dan pergi mencari sesuatu
lagi. Para konselor senior meninggalkan markas, kami bertiga diam seribu
bahasa. Kutukanku belum dihapus juga. Di tanganku, gulungan peta itu terasa
menghangat.
Apollo kembali dengan gulungan-gulungan perkamen sambil mengganti
musik disconya menjadi musik seram. Sharley menggerutu lagi.
"Nah, kalian bertiga saatnya mendengarkan ramalan
Phoebes Apollo." Dia mengedipkan mata dan tersenyum misterius.
Kai menghela napas panjang. Mengatupkan kedua tangan di
wajahnya, Kai sepertinya berusaha untuk terus tetap tenang. Sharley mengeratkan
genggaman pada busurnya sedangkan aku masih berusaha untuk mengeluarkan suara. Apollo
menghela napas panjang. Aku berjengit, menatap ngeri kedua matanya ketika
berubah menjadi hijau elektrik dan suaranya seperti bergaung.
"Tanah, Udara, dan Cahaya bersama hadapi ancaman,"
"Temukan saudara yang telah lama menghilang,"
"Rasakan sakit dari seorang yang menyimpan dendam lama,"
"Kau lepaskan yang telah dibelenggu,"
"Dan dapatkan sebuah pemberian yang tak pernah kau
bayangkan."
Aku merasa telah menelan sebuah bola api, dan secara tidak
sengaja membuat guntur. Belum pernah mendengar ramalan sebelumnya, dan ini
benar-benar mengerikan. Walaupun hanya sekedar larik-larik, tapi yang jelas ramalan
tadi menggambarkan hal-hal yang akan kulalui. Peta di tanganku mendadak jadi
dua ratus tiga puluh dua farenheit. Kai mengigit bibirnya, tidak bisa
menenangkan diri lagi sehingga sebuah piala melayang ke arahnya dan dia
merunduk. Lantai di bawah kakiku bergetar hebat lalu kerangka tangan membelah
lantai. Sharley juga tampak cemas, tapi selebihnya dia keliatan tenang.
"Tidak apa-apa, anak-anak! Ya ampun! Kai, perbaiki itu
dan buat tanahnya berhenti bergetar. Oh ya ampun ada tangan!" Seru Apollo
sambil mengeratkan pegangannya pada kursi. Setelah pulih, dia menggulung
perkamen-perkamen kecil itu lalu memberikannya padaku. Apa dia benar-benar serius
percaya padaku?! "Pikirkan ini baik-baik. Kalian harus lebih awas jika
tempat atau waktu yang kalian jalani tepat dengan ramalan, bahaya akan
menerkam."
Sharley lah yang paling pertama sadar. "Jadi, Tanah,
Udara, dan Cahaya adalah Kai, Sehun, dan aku? Apa memang seperti itu yang
dimaksud ramalan?" Tanyanya. Apollo menggangguk, "Itulah kenapa
alasan aku memilih kalian. Kurasa misi ini akan berhasil jika kalian membentuk
tim."
"Temukan saudara
yang telah lama menghilang." Kai bergumam lirih. "Siapa? Banyak
demigod berkeliaran dan nggak repot-repot tinggal disini." Dia mencoba
tenang lagi, sambil menyusun piala emas itu agar terbentuk kembali.
"Yah, kita tidak bisa tahu begitu saja." Tukas
Apollo. "Tapi, jika kalian menemukannya, bersikaplah sopan."
Sayangnya aku tidak mengerti.
"Rasakan sakit
dari seorang yang menyimpan dendam lama," Sharley mengulang kalimat
ramalan ketiga. "Aku bakal bertanya pada salah satu anak Nemesis jika
perlu." Dia menghembuskan napas.
"Dan menurut ramalan keempat, kalian berhasil menyelamatkan
direktur, kurasa? Yah, semoga saja dia bukan yang lain. Ingatlah, membebaskan
makhluk immortal lebih rumit dari yang kalian bayangkan." Kata Apollo,
memasang earphone berbentuk tengkorak ditelinganya, Kai memberi tatapan seolah
earphone itu miliknya.
"Aku suka ramalan terakhir." Ujar Kai.
"Hadiah, inilah hasil dari sebuah misi. Kuharap Anda memberikan saya
skateboard baru, Pak." Apollo mendelik marah, Kai nyengir dan memberi
tanda peace. Sharley menggelengkan kepala, dan aku masih kesal karena Apollo
tidak juga mencabut kutukannya, aku jadi nggak bisa ikut berdiskusi.
Apollo menjentikkan jari, seketika ada tiga buah tas ransel
merek converse di hadapan kami. "Ini perlengkapan kalian. Aku sudah
menyiapkan segalanya jadi kalian tinggal pergi saat fajar." Jelasnya. Kami
mengambil masing-masing satu tas. Aku mengecek punyaku, ada botol-botol minum
berisi nektar, juga ada kabut (buat apa sih?), multivitamin dan masih banyak
lagi. Anehnya, tas ini sama sekali tidak berat.
"Minumlah sesuai takaran dan pakai perlengkapan itu
saat keadaan genting, kalau tidak, kau akan merugi." Ujar Apollo.
"Semakin banyak monster yang menghadang kalian, bantuan juga akan semakin
banyak. Darimana saja, misalnya alam liar?"
"Terima kasih, Ayah." Kata Sharley. Apollo tersenyum
hangat. Aku jadi kepingin bertemu ayahku, berpikir apakah ayahku setampan itu
atau bertampang sangar secara dia mungkin stres punya tanggung jawab yang
besar.
"Kalian pasti akan berhasil," Apollo berusaha
menyemangati, tapi kami masih sangat tegang. "Aku janji akan mengawasi
kalian," Itulah kalimat penyemangat, Pak.
Kami semua turun dan keluar dari Markas Besar. Apollo
mendesah lega melihat matahari masih terik, aku tidak mengerti maksudnya apa.
Dia menjentikkan jarinya seketika aku terbatuk-batuk. "Aduh," kataku.
Oh, rupanya dia baru saja mencabut kutukan sialan itu.
"Ambil pelajaran dari kutukan itu ya, Tuan Oh. Jangan
terlalu cerewet, aku tidak suka cowok bawel." Aku menggerutu pelan, sendirinya cerewet. Sharley menyikutku. "Iya, terima kasih, Dewa
Apollo." Aku berkata dengan tulus. Apollo mendekati Sharley dan
mengacak-acak rambutnya. Sharley memeluknya. Apollo membisikkan sesuatu dan
Sharley menoleh padaku, lalu menggangguk.
"Semuanya, jangan menoleh ke langit! Setidaknya setelah
kendaraanku parkir." Kata Apollo.
"Kendaraan macam apa?" Tanyaku. Sharley menyuruhku
diam dan lihat saja. Tiba-tiba langit menjadi terang benderang dan menyilaukan,
panasnya hampir seribu derajat. Aku hampir berlari ke danau kano untuk
menceburkan diri kalau saja tidak ada kerumunan pekemah.
Mobil ferrari berwarna merah mengkilap terparkir di dekat
api unggun yang padam. Para pekemah berdecak kagum seakan ingin menyentuhnya.
"Ini kendaraan matahari, ya karena aku jadi Dewa Matahari menggantikan
Helious mungkin ini adalah sebuah mobil dinas?" Dia mengedipkan mata pada
kami bertiga.
"Nah, semoga berhasil! Aku harus pulang ke Olympus
untuk mengirim laporan pada Zeus." Katanya. Lalu dia masuk ke dalam mobil
impianku itu, perlahan mobil itu mulai bercahaya. Aku ingin terus melihatnya
tapi Sharley menangkupkan kedua tangannya di kedua pipiku dan menghadapkan mukaku
dengan mukanya. Wajahku pasti bersuhu lebih panas daripada mobil Apollo.
"Kita pasti berhasil, kan?" Tanyanya. Aku agak
lamban merespon sehingga dia menatap lebih dalam.
"E.. Eh.. Iya, tentu saja!" Aku bicara dengan
gugup dan dia tersenyum. Dia jadi cantik banget dengan jarak sedekat ini.
Kai berdeham. Sharley melepaskan tangannya dan aku dengan
bodohnya menatap sinis ke arah Kai. "Maaf mengganggu, Bung." Dia
nyengir.
Malam itu kami berkumpul di auditorium untuk makan malam,
aku duduk di meja Zeus sendirian karena aku tidak punya saudara. Sharley bilang
ketika direktur belum diculik, mereka biasanya membakar setengah dari makan malam
mereka di api unggun sebagai persembahan untuk dewa- dewi. Tapi sekarang dia
tidak ada dan api unggun padam.
Kai datang dan duduk di sebelahku. "Nggak apa-apa,
peraturan tidak berlaku sementara." Katanya. "Makan yang banyak,
okay? Misi ini penuh tantangan."
"Apa aku bakal mati?" Tanyaku sambil mengiris
steak sapi yang agak alot. Kai mengendikkan bahu. "Usahakan tetap hidup.
Kau keturunan Zeus satu-satunya, mungkin bermanfaat untuk keabadian
Olympus." Kai menyeruput jus jeruknya dan meringis seakan jus jeruk itu
berisi paku. Garpu yang ia letakkan di meja melayang rendah lalu jatuh lagi.
"Asem banget." gerutunya. Aku tertawa.
Sharley datang sambil membawa nampan berisi makan malamnya.
Dia tersenyum lebar seakan esok hari dia cuman mengikuti kelas bukan menjalankan
misi berbahaya.
"Hei, kurasa besok kita harus cari tumpangan ke
Jeju." Kata Sharley. "Waktu kita nggak banyak."
"Mungkin para harpy mau membantu?" Kai berharap.
"Tapi manusia setengah ayam itu suka ngelantur, aku jadi takut
tersesat." Sharley bergumam setuju.
"Nah, Sehun, kaulah pemimpin! Mungkin kau ada
saran?" Tanya Sharley. Aku menggeleng, "Ayolah!" Aku terdengar
merengek. "Aku disini baru dua minggu dan nggak tahu apa-apa. Kalau aku
bertanya, aku dikutuk. Kalian tidak tega padaku?"
Kai menjulurkan lidah, "Sayangnya tidak, anak
manja." Sharley tertawa. Dan kami mulai menyantap makan malam, tidak
peduli tatapan para pekemah karena Kai dan Sharley secara harfiah melanggar
peraturan karena duduk di meja Zeus. Seharusnya mereka duduk di meja orang
tuanya masing-masing.
"Begini," tukasku. "Apollo bilang bantuan
akan datang sendirinya kalau diawal misi, ya kan?"
"Benar." Sharley sepakat. "Aku berharap
hippocamus lah yang mengantarkan kita."
Kai menggeram, "tidak mau lewat laut lagi dan nggak mau
bertemu kuda pelangi yang kau sebut itu."
"Apapun bantuannya terima saja, okay?" Aku mencoba
membuat Kai tenang. Takut-takut kalau pisau yang kupegang terbang dan menancap
dimana saja.
Seorang pekemah mendekati kami bertiga. Dia memberikan
minuman padaku, "Ini, Sehun. Minum-"
"Tidak, terima kasih, sudah ada." Potong Sharley.
Aku menatapnya heran. Sang pekemah meninggalkan kami sambil mengumpat kasar.
"Kenapa?" Tanyaku. Sharley mengerlingkan matanya
malas. "Putra Nemesis, dia mau membalaskan dendam Kris padamu.
Berhati-hatilah." Jawab Sharley. Aku bergidik ngeri.
"Bagaimana kalau minum Pepsi?" Tawar Kai.
"Jeruk ini asem banget." Kai memanggil seorang pekemah lagi yang
bernama Chen, konselor senior Dionysus.
"Yo wassup!" Sapa Chen, dia membawa tiga gelas
kaca yang kosong. "Minum apa? Pepsi?" Tanyanya. Seketika gelas-gelas
yang ada di tangannya terisi. Aku bengong, tidak mengerti bagaimana Pepsi itu
bisa tertuang dari udara. "Makasih, sobat!" Kai dan Chen
beradu tos, aku jadi kangen Luhan. Sayangnya dia sibuk dengan urusannya
mengurus perkemahan yang kacau balau.
"Teman-teman." Panggilku. Kai menoleh dibalik
gelas kaca, dan Sharley mengucapkan apa tanpa suara.
"Direktur perkemahan ini sebenarnya siapa?"
Tanyaku. Kai tersedak, memukul-mukul dadanya. Sharley buru-buru mengumpulkan
garpu dan pisau lalu menyembunyikannya.
"Di immortales," keluh Kai. "Jadi selama ini
kau belum tahu juga?" Aku menggeleng. Kai menyentil dahiku dan membaca
mantra asal-asalan supaya aku lebih pintar. Sialan.
"Sehun, direktur perkemahan kita adalah seorang dewi
Olympia." Kata Sharley. "Keluarga, rumah dan perapian. Tidakkah kau
bisa menerka?" Aku berpikir keras, perapian, perapian, perapian.
"Dia memang bukan ahli perang tapi
setidaknya semua orang membuat sumber kekuatannya." Perkataan Apollo terngiang di
kepalaku. Perapian adalah sumber kekuatannya.
"Hestia,"
kataku. "Dewi Perapian."
Tiba-tiba
api unggun di tengah pondok-pondok yang membentuk persegi menyala terang dan
berkobar.
"Selamatkan aku, Oh Sehun."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar