Me!

YO WASSUP !

Holla! I'm Nabila Alya Ramadhina but you can call me by nickname, it's Alzeya! i just joined blog this year so actually i don't even know what people usually do in their own blog~ but i'm writing here and i hope you willing to read those hehe i'm 14yo and i'm an exofan. asking me over here www.ask.fm/growlseductively and follow me www.twitter.com/xeyeol thank you xoxo

Minggu, 12 Januari 2014

Oh Sehun and the Goddess of Hearth (chapter 3)


Title : Oh Sehun and the Goddess of Hearth (Oh Sehun dan Sang Dewi Perapian)

Main casts : Sehun, Kai and Sharley (all of exo's members are including too)

Genre : Greek Mythology, Action, Thriller

Author : prophexocy
 *******
Aku benci jadi pusat perhatian. Kalau saja dewi itu sedang tidak dikurung atau dibelenggu, terserahlah intinya sedang tidak diculik, aku bakal mengumpat lebih kasar. Mengeluarkan suara lirih di dalam kobaran api sambil menyebut namaku adalah dongeng menyeramkan sebelum menutup acara makan malam dan kembali ke pondok. Semua orang berbisik, menatapku dengan aneh dan ngeri.
"....dewi itu minta tolong sendiri padanya......"
"....Apollo dan Hestia percaya bahwa dia pasti berhasil....."
"....tapi dia nggak keren-keren amat...."
Aku memutar bola malas, kesal dengan semua tuduhan dan cemoohan semua orang. Lalu memutuskan untuk masuk pondok lebih awal.
"Jangan dimasukkan ke hati, Bung." Kata Luhan yang tiba- tiba merangkulku. "Semuanya pasti begitu kalau kau masih dalam masa percobaan." Katanya.
"Percobaan?" Tanyaku. Dia mengangkat kedua alisnya dan mengangguk.
"Ya. Kalau kau belum bisa menyelamatkan perkemahan atau menjalankan sebuah misi, kau belum jadi demigod sejati," tukas Luhan.
"Jika membuat aku kalang kabut gara-gara dikejar petir masuk dalam hitungan, kau pasti langsung dikasih gelar tertinggi disini." Kami terpingkal-pingkal, tidak peduli dengan tatapan sinis para pekemah.
"Kau tidak takut lagi padaku?" Luhan menghentikan tawanya. Mengalihkan padangan, tiba-tiba tertarik pada taburan bintang di langit.
"Aku nggak pernah takut padamu. Aku cuma terguncang karena kenyataannya kau adalah putra Zeus. Kau kuat, bisa apa saja, dan dunia bertekuk lutut padamu." Jelasnya. "Dan aku cuma anak Athena."

"           Tapi Athena adalah anak perempuan favorit Zeus, dan kau juga teman favoritku Luhan. Jangan pernah merasa minder, kau ini bijaksana." Kataku.
Kami menjejakkan kaki di depan pintu pondok Zeus. Dia tersenyum.
"Nah, Sehun. Semoga misimu berhasil dan bawalah kembali Dewi Hestia." Dia melambaikan tangan sambil mundur perlahan.
 "Maaf, karena aku terlalu sibuk, seharusnya kau bisa lebih baik daripada ini." Aku mengangguk lalu tersenyum menandakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Walaupun aku sendiri kurang yakin.
"Tetaplah hidup, jangan kecewakan aku." Dia berbicara lewat telepati, aku bisa mendengarnya. Sebelum aku berbicara lagi, dia berlari menuju pondok Athena. Aku mendesah lalu masuk ke pondok karena udara malam hari semakin dingin. Tidak punya saudara tiri, tinggal sendiri di pondok yang kelewat megahuntuk satu orang dan kedua bola mata sang elang seakan-akan mengikutiku, membuat malam terakhir di Camp Half Blood ini terasa menyakitkan.  Aku ketakutan setengah mati, kemungkinan tidak bisa mencicipi kehidupan saat tua karena terjerat dalam permainan aneh makhluk abadi. Tiba-tiba aku marah pada Zeus, kenapa dia tidak pernah datang padaku bahkan ketika aku hampir gila tinggal bersama wanita galak?
Aku bergelung di selimut tebal yang halus, memandang ke luar jendela yang memaparkan cahaya keperakan dari bulan di malam kelam. Suara rintik-rintik hujan mengantarku ke alam bawah sadar dan tertidur terlalu lelap.

"Tidak lama lagi kau datang padaku, aku akan menyambutmu dengan sayatan pedih." Samar-samar suara seorang wanita menganggu tidurku. Masih dengan setengah sadar, suara itu kembali bernyanyi.
"Siapa aku sebenarnya? Aku tidak ingat masa laluku sama sekali, dewi. Kenapa kau tega membiarkan aku gila dengan ingatan kosong melompong."
"Saudaramu yang telah menyebabkan ini semua...."  
Aku mengerang, perkataannya seakan telah lama disakiti. Aku berusaha bangkit, tapi suaranya yang merdu membuat aku terlena dan memutuskan untuk berbaring sebentar lagi.
"Bunuh dia. Jangan pernah beri dia kesempatan untuk jadi pahlawan."  
"Tenang, Tuanku. Aku dengan senang hati akan memusnahkannya."
Aku tersentak dengan segera bangkit dari tempat tidur, tidak sengaja membuat angin yang cukup besar dan menerbangkan selimut. Oh bodohnya aku, seharusnya aku tidak main-main dengan kekuatan angin itu.
"Astaga kau panikkan sekali." Seorang gadis tengah menatapku dengan cengang sambil mengelus kepala elang palsu di dekapannya.
"Shar...ley?" Aku mengerjapkan mata, berusaha untuk menjernihkan pandangan.
"Iya, cungkring. Bangunlah." Katanya. Dia mengenakan jaket hitam dari kulit dan legging hitam, rambutnya digelung. Tas converse tersandang di bahu kanan dan busur di bahu kiri.
"Tadi itu apa?" Tanyaku. Dia mendesah.
"Visi. Perkataan orang di tempat tertentu, tentu saja ada hubungannya dengan misi ini." Kata Sharley. "Aku biasanya tahu dengan cara bernyanyi. Sudah lama sekali aku tidak menyanyikan visi."
Aku kebingungan setengah mati. Dia menyanyikan perkataan orang, dan kemungkinan besar dia pasti tahu rahasia besar. Bukankah itu lebih keren dari sambaran petir dan puting beliung?
Aku menutupi dadaku dengan kedua tangan. Memasang tampang yang kataku lucu. "Apa yang kau lakukan disini? Ya ampun sekarang jam 2 malam dan....dan untuk ap-"
"Ew, dasar otak porno stadium akut! Aku kesini untuk menjemputmu. Ayo, tumpangan ke Jeju sudah menunggu." Potong Sharley. Dia menarik tanganku sesudah meletakkan burung elang kesayangan Ayah.
"Aduh." Keluhku. "Sekarang masih jam 2 pagi, kita berangkat saat fajar. Tolong ya nona, jangan terlalu disiplin." Aku menjatuhkan diri ke kasur dan tidur dengan posisi nungging yang sexy.
"Dia mau saat ini juga. Ayolah, ini satu-satunya bantuan, Tuan Pemimpin. Aku tunggu kau diluar dalam lima menit." Dia menyentil telingaku sebelum keluar dari pondok. Aku terpaksa bersiap-siap dengan mata setengah tertutup.
Coba pikirkan, bantuan macam apa saat tengah malam begini? Pastinya bukan sesuatu yang menyenangkan. Hadapi itu, Oh Sehun. Ini baru permulaan dari penderitaan.
Aku merasa perutku baru ditinju. Setelah menggosok gigi dan berganti pakaian dengan kaos hitam dan jaket berwarna biru denim, juga jeans hitam, aku menyandangkan tas lalu berderap keluar pondok sambil terkantuk-kantuk.
"Nah ini dia si bocah ileran. Yang lambatnya minta ampun." Kata seorang anak kecil yang berusia sekitar 8 atau 12 tahun berambut perak dan mengenakan jaket berburu, berdiri di antara Sharley dan Kai. Aku merengut.
"Aku ngantuk, tahu." Kataku. Kai yang malam ini memakai kemeja berwarna hitam juga jeans hitam, memasang ekspresi 'waduh' yang kentara.
"Jangan manja, bocah. Ayo, naik! Sebelum bulan menghilang." Dia naik ke sebuah kereta mirip punya sinterklas berwarna perak yang ditarik empat ekor rusa yang juga berwarna perak. Aku bertanya-tanya apakah itu Luhan.
"Kita mau naik bulan?" Tanyaku. Sharley buru-buru menarikku untuk naik disusul oleh Kai. Mereka menatapku, walaupun tidak punya kemampuan telepati, aku tahu mereka bilang, "Diam saja deh,"
Gadis kecil itu memandangku dengan manik bola mata peraknya, "Aku heran bukan main kenapa saudara kembarku mengutusmu." Katanya. "Kau keliatan sangat-sangat-sangat amatir."
Kai berdeham. "Dia baru ditentukan seminggu yang lalu, Dewi."
"Dewi?" Tanyaku. Sharley meremas tanganku.
Gadis itu mengetuk kepalaku dengan busurnya (bukan busur milik Sharley).
"Hah, perkenalkan, aku adalah Artemis, Dewi Perburuan dan Bulan." Tukasnya. "Saudara kembar dari Apollo."
Aku melebarkan mata, jadi tidak mengatuk sama sekali. Sungguh, aku benar-benar masih trauma dengan kutukan. Mungkin dewi ini juga tidak suka cowok bawel. Oh, dia bahkan tidak suka laki-laki. Artemis adalah salah satu dewi perawan dan dia bisa dibilang pencetus komunitas perburuan anti-lelaki. Sip.
"Ini bukan wujud asli ku, jadi percaya saja kalau anak kecil ini dewi, bocah." Aku merasa diremehkan karena dipanggil bocah oleh seorang gadis yang lebih muda dariku.
"Anak-anak, kalian tidak punya waktu yang banyak." Katanya. "Jadi aku akan membawa kalian ke Pantai Jungmun dengan kecepatan 1800 km/jam."
Kami bertiga menganga. Kecepatan macam apa itu? Kai yang paling pertama pulih dan memasang sabuk pengaman.
"Apapun bantuannya terima saja, okay?" Katanya, meniru perkataanku tadi di auditorium. Aku menjitak kepalanya, dia menggeram lalu membalas menyentil hidungku. Sharley menodongkan anak panah ke arah hidung kami masing-masing. "Diam." Katanya.
Kendaraan ini naik perlahan lalu melaju dengan kecepatan normal meninggalkan kegelapan di Camp Half Blood, karena secara harfiah kami sedang mengendarai bulan. Percaya saja deh. Aku membentangkan peta yang diberi Apollo, Sharley ikutan menelaah pulau Jeju di peta ini.
"Siap ya anak-anak." Ujarnya.
Wusssh....
"EOMMAAAAAA..."
"OH DEMI DEWA-DEWI..."
"REEEEEM..."
"MAU MUNTAAAH..."
Aku tidak sengaja mendatangkan petir di depan kereta, dan Artemis membelokkan kereta dengan kasar, menghindar dari sambaran petir. Dia mengomeli dan menjitakku selagi menyetir. Kami bertiga menjerit gila-gilaan. Pipiku mati rasa karena ditampar angin, begitu pula Kai yang bersendawa karena terlalu banyak makan angin. Sedangkan Sharley berusaha untuk tidak muntah.
"Aduh, aku mabuk langit." Katanya.
"Mabuk langit?" Tanyaku. Kurasa aku hanya pernah mendengar kata mabuk laut.
Sang dewi tampaknya tidak peduli dan keasyikan menyetir dengan kecepatan super. Aku tahu kami bakal sampai di Jeju dalam waktu kurang dari lima menit.
"AWAS!" Kai menjerit, seketika dia menghilang, meninggalkan kabut hitam dan lagi-lagi aroma kuburan. Kereta menabrak gumpalan awan yang tebal, aku dan Sharley terlempar sekitar sepuluh meter ke atas. Sementara itu, kereta melaju dengan kecepatan tetap, meninggalkan kami yang terlempar.
Tampaknya tubuhku bereaksi lebih cepat dibanding otakku, sayap putih gading terbentang dan aku buru-buru menangkap Sharley. Aku berusaha keras untuk menjaga keseimbangan karena angin bertiup kencang. Aku memegang Sharley dengan tangan kanan dan membelokkan arah angin dengan tangan kiri.
"Ouch, Sehun tolong jangan banyak gerak. Aku berusaha menahan muntahan." Kata Sharley. Aku menghempaskan angin agar menjauh.
Keringat mengucur di pelipisku, "dan tolong juga untuk tidak cerewet." Ujarku.
"Sehun, turun disana! Kita sudah sampai." Sharley menunjuk ke pantai tepat di bawah kami, Kai melambaikan tangan. Aku mengepakkan sayap dan meluncur turun.
"Wow, kau keren, Bung!" Puji Kai. Aku tergeletak di hamparan pasir putih setelah menghilangkan sayap. Sharley berlari ke arah laut, lalu muntah.
"Bisakah kita tidur disini saja? Aduh." Erangku. "Aku bahkan nggak bisa duduk."
Kai mencibir, "dasar manja, dulu aku hampir mengira kau anak Aphrodite saking manjanya."
"Lebih baik manja daripada bau kuburan," balasku. Dia mendelik sebal.
Aku menyipitkan mata, karena cahaya bulan yang sangat menyilaukan. Kereta milik Artemis berhenti tepat di atas tempatku dan Kai. Artemis menyeringai.  
"Nah, anak-anak! Maaf atas kecelakaan tadi, kurasa rusa ku mengantuk." Jelasnya dari atas. Tidak repot-repot mendarat untuk sekedar melihat apa kami baik-baik saja.
"Selamat berpetualang!" Dan dia meninggalkan kami bertiga dengan kegelapan yang sangat. Malam begitu hening, aku cuma bisa mendengar deburan ombak dan suara erangan Sharley yang menderita. Mulai saat ini, ingatkan aku untuk tidak menumpang pada dewa-dewi apalagi dewi yang tadi.
"Hei, Sharley! Apa kau baik-baik saja?" Teriak Kai. Sharley mengangkat tangannya dan memberi tanda ok.
Kai berdiri tegak, rambut hitamnya tersibak oleh angin, ia merentangkan tangan dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Teleportasi." Kataku. "Keren banget."
I           Ia menoleh ke arahku. "Itu nggak seberapa, kalau kau kena kutukan 'Dicintai Logam dan Kerangka'"
Aku mengangkat alis, "Apaan tuh?"
"Kalau kau menjadi terlalu emosional, maka secara tidak sengaja kau baru saja menarik logam bagaikan sebuah magnet. Dan menghidupkan kerangka dari..." Dia menunjuk ke bawah. "Dunia Bawah, rumah Ayahku."
Aku menatap ngeri, takut-takut kalau ada kerangka tangan lagi lalu menarikku ke dalam kematian.
"Karena itu kau harus tetap tenang?" Dia menggangguk dan mendesah berat.
"Kok bisa kena kutuk sih?" Tanyaku.
Tampaknya aku baru saja mengenai topik sensitif, sehingga Kai terdiam cukup lama. Dia duduk kembali, kali ini membelakangiku.
"Sebuah kesalahan besar." Jawabnya. "Tidak apa-apa."
Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu, tapi tidak masalah kalau dia belum mau berbagi. Kami memang belum saling kenal mengenal.
Sharley berjalan tergopoh-gopoh lalu membaringkan dirinya di sebelahku. Mukanya pucat, dan dia mandi keringat.
"Kau nggak apa-apa?" Tanyaku. Dia menggangguk lemah, aku bangkit dan mengambil sebotol nektar. Lalu Sharley meminum seperempatnya.
"Oh, lebih baik. Makasih, Sehun." Katanya.
Kai menyandang tas conversenya, mendekat ke arah kami. "Kita cari hotel."
Aku mengerang dan mencoba menolak. Kai dan Sharley menarik kedua tanganku, dengan sangat berat hati aku berdiri tegak dan menepuk-nepuk celana karena banyak pasir yang menempel.
"Kau tahu hotel di sekitar sini?" Tanyaku. Kai mengendikkan bahu.
"Aku tahu." Kata Sharley. "The Suites Hotel, sekitar 500 meter dari sini."
Aku meminum nektar, membaginya dengan Kai. Aku merasa seperti hidup kembali, hampir melompat ke laut saking semangatnya. Kai lebih buruk lagi, dia mengangkat sebagian dari pasir di pantai. "Ah, sial. Pasir ini tercampur dengan kalsium karbonat." Katanya.
"Oh, tidak. Peta dari Apollo. Tidak. Tidak." Aku panik, mengaduk-aduk tas.
Sharley menatapku was-was, "Jangan bilang kalau peta itu terbang karena-"
"Kalian berdua terlempar dari kereta. Sip." Potong Kai. Dia berusaha keras menyingkirkan kalsium karbonat yang menempel di kemeja hitamnya.
"Ya, aku tahu kalau aku bodoh." Akuku. Sharley mendesah, lalu merangkulku.
"Kau sudah menyelamatkan aku, dibanding orang yang menghilang tanpa membantu." Dia melirik sinis ke arah Kai.
"Ayolah, aku panik." Kata Kai.
Kami berjalan menyusuri jalanan kota yang sepi, tentu saja para penduduk tengah bermanja-manja dengan kasur. Bikin iri saja.
Angin bertiup kencang, membekukan darah yang mengalir di dalam pembuluh darah. Kai menyuruhku untuk membelokkan angin, tapi karena aku tidak konsentrasi, angin itu berubah jadi pusaran angin lalu menabrak pohon. Dryad, sang peri pohon, memelototiku karena menimbulkan kerusakan pada tempat tinggalnya.
"Maaf," kataku.
Sharley memegangi kepalanya. "Aduh," aku menoleh dan mendapati kedua matanya berubah menjadi hijau elektrik seperti yang terjadi pada Apollo.
"Tertimbun tanah, dan saksikan kegelapan dalam alam kematian."
"Terbawa arus hingga hanyutkan diri."
"Utara."
Sharley tersentak, kedua warna matanya berubah menjadi normal. Tubuhnya hampir terjatuh kalau saja aku tidak segera menangkapnya.
"Visi yang mengerikan, Shar." Kata Kai. Dia mengusap wajahnya, harus-tetap-tenang. Aku berusaha untuk tidak bertanya apa maksudnya. Mendengar visi yang masih berupa teka-teki saja sudah membuatku limbung. Kai terus-terusan mengusap wajahnya, aku tahu mengenai alam kematian yang kemungkinan ada hubungan dengan dirinya.
Aku berharap bisa mencairkan suasana jadi aku berteriak sekencang-kencangnya. Tidak peduli penduduk yang akan terganggu tidurnya.  
"Nah, The Suites Hotel, aku dataaaang." Aku berlari meninggalkan mereka berdua.
"Bisa tidak sih tunjukkan leadershipmu sedikit saja, dasar cungkring." Gerutu Kai. Tapi aku tetap berlari dan mereka tertinggal lima meter di belakangku.
Tiba- tiba tiga ekor kucing hitam berlari-lari di hadapanku, salah satu yang berbadan paling besar menghampiriku, lalu mengeong meminta makan.
Aku berjongkok lalu mengelus-elus puncak kepalanya, "Kucing manis,"
"Siapa yang kau sebut kucing manis, putra Zeus?" Aku terjengkang ke belakang, tercengang mendengar kucing itu berbicara bahkan tahu kalau aku putra Zeus. Seketika ketiga kucing itu berubah menjadi sosok mengerikan yang memiliki sepasang sayap tajam dan taring. Matanya berwarna merah semerah darah. Kuku-kuku kakinya sekuat baja. Mereka mirip dengan spesies dinosaurus yang bisa terbang, aku lupa namanya.
Aku melempar pin yang tersemat di jaketku lalu melemparnya, pin itu berubah jadi pedang dari emas imperial lalu aku menyiagakan Aegis di pergelangan tangan kiriku.
"Tenanglah, Sehun, kami tidak berselera membunuhmu tapi"
"Jika kita bisa membunuhnya, mungkin kita bakalan naik gaji, Alberd." Potong monster yang satunya.  
"Diam, Stephano. Ingatlah tujuan kita."
Kai dan Sharley bergegas menghampiri dan mengapitku. "Astaga, Erinyes." Kata Sharley selagi menyiapkan busur dan panahnya. Kai kelihatan memucat tapi dia tetap menghunus pedang stygian yang berwarna hitam kelam.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Kai.
Ketiga Erinyes menyeringai, "Menjemput anda, Tuan muda." Kata Stephano. Mereka lalu menyerang, sialnya, aku kebagian Alberd. Dia menerjang terus menerus, aku menikam sayapnya tapi dia berhasil menghalaunya dengan kedua kakinya lalu dia menendang dadaku hingga aku jatuh tepat di atas aspal. Alberd berdiri tepat di atasku, menginjak-injak dadaku, dan parahnya dia mengoyak kulitku. Darah segar yang hangat mengalir, menodai aspal. "Aargh." Erangku.
"Tunjukan kemampuanmu, putra Zeus." Lagi-lagi dia menyeringai, memamerkan gigi taring yang setajam bilah pisau. Air liurnya menetes. Mataku berkunang-kunang namun aku berusaha memanggil angin untuk berkumpul menjadi badai, nadiku berdenyut cepat. Angin menuruti perintah dan membawa Alberd jauh dari tubuhku. Tapi Erinyes itu tidak gentar, dia menukik lagi ke bawah. Aku berguling ke samping dan menebas kakinya. Ia pun terbuyar kan jadi debu. Ketiga Erinyes itu telah berhasil kami musnahkan. Aku merangkak sambil memegangi pundakku yang terkoyak, mendekati Kai yang menatap kosong langit, aku tidak tahu apa yang telah dikatakan Erinyes yang ia lawan tadi. Tapi sepertinya itu cukup membuatnya terguncang. Sharley mengelap anak panahnya yang terkena darah hijau Erinyes.
"Astaga, Sehun, kau terluka." Sharley buru-buru mengambil sebotol nektar, dan mengolesi itu di sekitar luka cakarku. Aku berjengit kesakitan.
"Maafkan aku, Sehun." Kata Kai, menatapku dengan pandangan yang pedih.
"Kau tidak salah, Kai." Dia menggeleng lalu meremas rambutnya kesal. Sebatang besi melayang dan menabrak lampu jalan di sebelah Kai.
"Ini salahku. Semua kesalahan ini. Tidak. Tidak. Tidaaaak." Ia menjerit frustasi. Lampu jalan di seberang menjadi bengkok karenanya.
"Tidak apa-apa, Kai. Tidak apa-apa, tenanglah." Sharley mengusap-usap punggung Kai dengan lembut. Kai mulai terisak.
Tiba-tiba tanah di bawah kami bertiga mulai retak, awalnya bagaikan sepotong ranting, lama-kelamaan merambat.
"LARI!" Teriakku.
Terlambat untuk berlari, kami hampir jatuh ke dalam lubang yang gelap hanya berpegangan pada akar-akar pohon yang besar. Aku dan Sharley kesusahan menahan Kai agar tidak terjatuh. Aku memegang tangan kanannya, sedangkan Sharley tangan kirinya. Kai tampaknya pasrah, dia cuma memejamkan mata dan kembali menangis.
"Ini bukan saat yang tepat buat nangis, bodoh!" Kataku. Meremas tangannya, agar dia tersadar kemabli.
"Kai, kaukah yang buat lubang ini?! Kau ingin kita mati?!" Bentak Sharley.
Kai menggeleng dengan cepat. "Tidak! Aku bahkan tidak punya cukup energi untuk meretakkan tanah!" Dia berusaha melepaskan pegangannya dari tanganku. Tapi, aku justru memegangnya lebih erat.
"Kau mati, aku juga mati." Kataku. Kai menatapku dengan pandangan pedih. Sharley mengangguk. Belum sempat aku dan Sharley melepas pegangan kami. Sekelebat bayangan hitam seperti Kai, berdiri tepat di atas kami. Ia berubah menjadi pria berkulit putih pucat, dengan bola mata yang besar. Rambut merahnya ditiup angin terlihat seperti kobaran api.
"Wah, sungguh mengharukan." Katanya.
Kai membeku. "Kau-" Dia menatap pria itu dengan terkejut.
"Halo, Kai." Sapanya. "Menjemput ajal?"
Aku menggeram. "Siapa kau?"
Dia tertawa licik, lalu menatap remeh. "Putra Zeus ya? Hah, tidak sehebat yang kukira." Dia berjalan-jalan santai mengelilingin lubang.

"Aku, Do Kyungsoo." Katanya. "Putra dari Pluto."
"Atau yang kau kenal sebagai Hades."

Dia menjetikkan jarinya dan lubang pun tertutup menimbun aku, Sharley dan Kai. Mengantarkan kami kedalaman kegelapan yang tak berujung.
"Tertimbun tanah, dan saksikan kegelapan dalam alam kematian."

2 komentar:

  1. omgomgomg huhu really nice ff ARGH UH

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha makasih farah<3 saranghaja! Wait for chapter 4 ya! Special kaisoo huhuhu.

      Hapus