Title : Oh Sehun and the Goddess of Hearth (Oh Sehun dan Sang Dewi Perapian)
Main casts : Sehun, Kai and Sharley (all of exo's members are including too)
Genre : Greek Mythology, Action, Thriller
Author : prophexocy
*******
Aku benci jadi pusat perhatian. Kalau
saja dewi itu sedang tidak dikurung atau dibelenggu, terserahlah intinya sedang
tidak diculik, aku bakal mengumpat lebih kasar. Mengeluarkan suara lirih di
dalam kobaran api sambil menyebut namaku adalah dongeng menyeramkan sebelum
menutup acara makan malam dan kembali ke pondok. Semua orang berbisik,
menatapku dengan aneh dan ngeri.
"....dewi itu
minta tolong sendiri padanya......"
"....Apollo dan
Hestia percaya bahwa dia pasti berhasil....."
"....tapi dia
nggak keren-keren amat...."
Aku memutar bola malas, kesal
dengan semua tuduhan dan cemoohan semua orang. Lalu memutuskan untuk masuk
pondok lebih awal.
"Jangan dimasukkan ke hati,
Bung." Kata Luhan yang tiba- tiba merangkulku. "Semuanya pasti begitu
kalau kau masih dalam masa percobaan." Katanya.
"Percobaan?" Tanyaku. Dia
mengangkat kedua alisnya dan mengangguk.
"Ya. Kalau kau belum bisa
menyelamatkan perkemahan atau menjalankan sebuah misi, kau belum jadi demigod
sejati," tukas Luhan.
"Jika membuat aku kalang kabut
gara-gara dikejar petir masuk dalam hitungan, kau pasti langsung dikasih gelar
tertinggi disini." Kami terpingkal-pingkal, tidak peduli dengan tatapan
sinis para pekemah.
"Kau tidak takut lagi
padaku?" Luhan menghentikan tawanya. Mengalihkan padangan, tiba-tiba
tertarik pada taburan bintang di langit.
"Aku nggak pernah takut
padamu. Aku cuma terguncang karena kenyataannya kau adalah putra Zeus. Kau
kuat, bisa apa saja, dan dunia bertekuk lutut padamu." Jelasnya. "Dan
aku cuma anak Athena."
" Tapi Athena
adalah anak perempuan favorit Zeus, dan kau juga teman favoritku Luhan. Jangan
pernah merasa minder, kau ini bijaksana." Kataku.
Kami menjejakkan kaki di depan pintu pondok Zeus. Dia
tersenyum.
"Nah, Sehun. Semoga misimu
berhasil dan bawalah kembali Dewi Hestia." Dia melambaikan tangan sambil
mundur perlahan.
"Maaf, karena aku terlalu sibuk, seharusnya
kau bisa lebih baik daripada ini." Aku mengangguk lalu tersenyum menandakan
bahwa semuanya akan baik-baik saja. Walaupun aku sendiri kurang yakin.
"Tetaplah hidup, jangan kecewakan aku." Dia
berbicara lewat telepati, aku bisa mendengarnya. Sebelum aku berbicara lagi,
dia berlari menuju pondok Athena. Aku mendesah lalu masuk ke pondok karena
udara malam hari semakin dingin. Tidak punya saudara tiri, tinggal sendiri di
pondok yang kelewat megah—untuk satu orang dan kedua bola mata
sang elang seakan-akan mengikutiku, membuat malam terakhir di Camp Half Blood
ini terasa menyakitkan. Aku
ketakutan setengah mati, kemungkinan tidak bisa mencicipi kehidupan saat tua
karena terjerat dalam permainan aneh makhluk abadi. Tiba-tiba aku marah pada
Zeus, kenapa dia tidak pernah datang padaku bahkan ketika aku hampir gila
tinggal bersama wanita galak?
Aku bergelung di selimut tebal yang halus, memandang ke luar
jendela yang memaparkan cahaya keperakan dari bulan di malam kelam. Suara
rintik-rintik hujan mengantarku ke alam bawah sadar dan tertidur terlalu lelap.
"Tidak lama lagi kau datang padaku, aku akan menyambutmu dengan sayatan
pedih." Samar-samar suara seorang wanita menganggu tidurku. Masih
dengan setengah sadar, suara itu kembali bernyanyi.
"Siapa aku sebenarnya? Aku tidak ingat masa laluku sama sekali, dewi.
Kenapa kau tega membiarkan aku gila dengan ingatan kosong melompong."
"Saudaramu
yang telah menyebabkan ini semua...."
Aku mengerang, perkataannya seakan telah lama disakiti. Aku
berusaha bangkit, tapi suaranya yang merdu membuat aku terlena dan memutuskan
untuk berbaring sebentar lagi.
"Bunuh dia. Jangan pernah beri dia kesempatan untuk jadi pahlawan."
"Tenang, Tuanku. Aku
dengan senang hati akan memusnahkannya."
Aku tersentak dengan segera bangkit dari tempat tidur, tidak
sengaja membuat angin yang cukup besar dan menerbangkan selimut. Oh bodohnya
aku, seharusnya aku tidak main-main dengan kekuatan angin itu.
"Astaga kau panikkan
sekali." Seorang gadis tengah menatapku dengan cengang sambil mengelus
kepala elang palsu di dekapannya.
"Shar...ley?" Aku
mengerjapkan mata, berusaha untuk menjernihkan pandangan.
"Iya, cungkring. Bangunlah." Katanya. Dia
mengenakan jaket hitam dari kulit dan legging hitam, rambutnya digelung. Tas
converse tersandang di bahu kanan dan busur di bahu kiri.
"Tadi itu apa?" Tanyaku.
Dia mendesah.
"Visi. Perkataan orang di
tempat tertentu, tentu saja ada hubungannya dengan misi ini." Kata
Sharley. "Aku biasanya tahu dengan cara bernyanyi. Sudah lama sekali aku
tidak menyanyikan visi."
Aku kebingungan setengah mati. Dia
menyanyikan perkataan orang, dan kemungkinan besar dia pasti tahu rahasia
besar. Bukankah itu lebih keren dari sambaran petir dan puting beliung?
Aku menutupi dadaku dengan kedua tangan.
Memasang tampang yang kataku lucu. "Apa yang kau lakukan disini? Ya ampun
sekarang jam 2 malam dan....dan untuk ap-"
"Ew, dasar otak porno stadium
akut! Aku kesini untuk menjemputmu. Ayo, tumpangan ke Jeju sudah
menunggu." Potong Sharley. Dia menarik tanganku sesudah meletakkan burung
elang kesayangan Ayah.
"Aduh." Keluhku.
"Sekarang masih jam 2 pagi, kita berangkat saat fajar. Tolong ya nona,
jangan terlalu disiplin." Aku menjatuhkan diri ke kasur dan tidur dengan
posisi nungging yang sexy.
"Dia mau saat ini juga.
Ayolah, ini satu-satunya bantuan, Tuan Pemimpin. Aku tunggu kau diluar dalam lima menit." Dia
menyentil telingaku sebelum keluar dari pondok. Aku terpaksa bersiap-siap
dengan mata setengah tertutup.
Coba pikirkan, bantuan macam apa saat
tengah malam begini? Pastinya bukan sesuatu yang menyenangkan. Hadapi itu, Oh
Sehun. Ini baru permulaan dari penderitaan.
Aku merasa perutku baru ditinju. Setelah menggosok gigi dan
berganti pakaian dengan kaos hitam dan jaket berwarna biru denim, juga jeans
hitam, aku menyandangkan tas lalu berderap keluar pondok sambil
terkantuk-kantuk.
"Nah ini dia si bocah ileran.
Yang lambatnya minta ampun." Kata seorang anak kecil yang berusia sekitar
8 atau 12 tahun berambut perak dan mengenakan jaket berburu, berdiri di antara
Sharley dan Kai. Aku merengut.
"Aku ngantuk, tahu." Kataku.
Kai yang malam ini memakai kemeja berwarna hitam juga jeans hitam, memasang
ekspresi 'waduh' yang kentara.
"Jangan manja, bocah. Ayo,
naik! Sebelum bulan menghilang." Dia naik ke sebuah kereta mirip punya
sinterklas berwarna perak yang ditarik empat ekor rusa yang juga berwarna perak.
Aku bertanya-tanya apakah itu Luhan.
"Kita mau naik bulan?"
Tanyaku. Sharley buru-buru menarikku untuk naik disusul oleh Kai. Mereka
menatapku, walaupun tidak punya kemampuan telepati, aku tahu mereka bilang,
"Diam saja deh,"
Gadis kecil itu memandangku dengan
manik bola mata peraknya, "Aku heran bukan main kenapa saudara kembarku
mengutusmu." Katanya. "Kau keliatan sangat-sangat-sangat
amatir."
Kai berdeham. "Dia baru
ditentukan seminggu yang lalu, Dewi."
"Dewi?" Tanyaku. Sharley
meremas tanganku.
Gadis itu mengetuk kepalaku dengan busurnya (bukan busur
milik Sharley).
"Hah, perkenalkan, aku adalah
Artemis, Dewi Perburuan dan Bulan." Tukasnya. "Saudara kembar dari
Apollo."
Aku melebarkan mata, jadi tidak
mengatuk sama sekali. Sungguh, aku benar-benar masih trauma dengan kutukan.
Mungkin dewi ini juga tidak suka cowok bawel. Oh, dia bahkan tidak suka laki-laki. Artemis adalah salah satu dewi
perawan dan dia bisa dibilang pencetus komunitas perburuan anti-lelaki. Sip.
"Ini bukan wujud asli ku, jadi
percaya saja kalau anak kecil ini dewi, bocah." Aku merasa diremehkan
karena dipanggil bocah oleh seorang gadis yang lebih muda dariku.
"Anak-anak, kalian tidak punya
waktu yang banyak." Katanya. "Jadi aku akan membawa kalian ke Pantai
Jungmun dengan kecepatan 1800 km/jam."
Kami bertiga menganga. Kecepatan
macam apa itu? Kai yang paling pertama pulih dan memasang sabuk pengaman.
"Apapun bantuannya terima
saja, okay?" Katanya, meniru perkataanku tadi di auditorium. Aku menjitak
kepalanya, dia menggeram lalu membalas menyentil hidungku. Sharley menodongkan
anak panah ke arah hidung kami masing-masing. "Diam." Katanya.
Kendaraan ini naik perlahan lalu
melaju dengan kecepatan normal meninggalkan kegelapan di Camp Half Blood ,
karena secara harfiah kami sedang mengendarai bulan. Percaya saja deh. Aku
membentangkan peta yang diberi Apollo, Sharley ikutan menelaah pulau Jeju di
peta ini.
"Siap ya anak-anak."
Ujarnya.
Wusssh....
"EOMMAAAAAA..."
"OH DEMI DEWA-DEWI..."
"REEEEEM..."
"MAU MUNTAAAH..."
Aku tidak sengaja mendatangkan
petir di depan kereta, dan Artemis membelokkan kereta dengan kasar, menghindar
dari sambaran petir. Dia mengomeli dan menjitakku selagi menyetir. Kami bertiga
menjerit gila-gilaan. Pipiku mati rasa karena ditampar angin, begitu pula Kai
yang bersendawa karena terlalu banyak makan angin. Sedangkan Sharley berusaha
untuk tidak muntah.
"Aduh, aku mabuk langit."
Katanya.
"Mabuk langit?" Tanyaku.
Kurasa aku hanya pernah mendengar kata mabuk laut.
Sang dewi tampaknya tidak peduli dan keasyikan menyetir
dengan kecepatan super. Aku tahu kami bakal sampai di Jeju dalam waktu kurang
dari lima
menit.
"AWAS!" Kai menjerit,
seketika dia menghilang, meninggalkan kabut hitam dan lagi-lagi aroma kuburan. Kereta
menabrak gumpalan awan yang tebal, aku dan Sharley terlempar sekitar sepuluh
meter ke atas. Sementara itu, kereta melaju dengan kecepatan tetap,
meninggalkan kami yang terlempar.
Tampaknya tubuhku bereaksi lebih
cepat dibanding otakku, sayap putih gading terbentang dan aku buru-buru
menangkap Sharley. Aku berusaha keras untuk menjaga keseimbangan karena angin
bertiup kencang. Aku memegang Sharley dengan tangan kanan dan membelokkan arah
angin dengan tangan kiri.
"Ouch, Sehun tolong jangan
banyak gerak. Aku berusaha menahan muntahan." Kata Sharley. Aku
menghempaskan angin agar menjauh.
Keringat mengucur di pelipisku, "dan
tolong juga untuk tidak cerewet." Ujarku.
"Sehun, turun disana! Kita
sudah sampai." Sharley menunjuk ke pantai tepat di bawah kami, Kai
melambaikan tangan. Aku mengepakkan sayap dan meluncur turun.
"Wow, kau keren, Bung!"
Puji Kai. Aku tergeletak di hamparan pasir putih setelah menghilangkan sayap. Sharley
berlari ke arah laut, lalu muntah.
"Bisakah kita tidur disini
saja? Aduh." Erangku. "Aku bahkan nggak bisa duduk."
Kai mencibir, "dasar manja,
dulu aku hampir mengira kau anak Aphrodite saking manjanya."
"Lebih baik manja daripada bau
kuburan," balasku. Dia mendelik sebal.
Aku menyipitkan mata, karena cahaya bulan yang sangat
menyilaukan. Kereta milik Artemis berhenti tepat di atas tempatku dan Kai.
Artemis menyeringai.
"Nah, anak-anak! Maaf atas kecelakaan tadi, kurasa rusa
ku mengantuk." Jelasnya dari atas. Tidak repot-repot mendarat untuk
sekedar melihat apa kami baik-baik saja.
"Selamat berpetualang!" Dan
dia meninggalkan kami bertiga dengan kegelapan yang sangat. Malam begitu
hening, aku cuma bisa mendengar deburan ombak dan suara erangan Sharley yang
menderita. Mulai saat ini, ingatkan aku untuk tidak menumpang pada dewa-dewi apalagi
dewi yang tadi.
"Hei, Sharley! Apa kau
baik-baik saja?" Teriak Kai. Sharley mengangkat tangannya dan memberi
tanda ok.
Kai berdiri tegak, rambut hitamnya tersibak oleh angin, ia
merentangkan tangan dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Teleportasi." Kataku.
"Keren banget."
I Ia menoleh
ke arahku. "Itu nggak seberapa, kalau kau kena kutukan 'Dicintai Logam dan
Kerangka'"
Aku mengangkat alis, "Apaan
tuh?"
"Kalau kau menjadi terlalu emosional,
maka secara tidak sengaja kau baru saja menarik logam bagaikan sebuah magnet.
Dan menghidupkan kerangka dari..." Dia menunjuk ke bawah. "Dunia
Bawah, rumah Ayahku."
Aku menatap ngeri, takut-takut kalau ada kerangka tangan
lagi lalu menarikku ke dalam kematian.
"Karena itu kau harus tetap
tenang?" Dia menggangguk dan mendesah berat.
"Kok bisa kena kutuk sih?" Tanyaku.
Tampaknya aku baru saja mengenai
topik sensitif, sehingga Kai terdiam cukup lama. Dia duduk kembali, kali ini
membelakangiku.
"Sebuah kesalahan besar."
Jawabnya. "Tidak apa-apa."
Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu, tapi tidak masalah
kalau dia belum mau berbagi. Kami memang belum saling kenal mengenal.
Sharley berjalan tergopoh-gopoh lalu membaringkan dirinya di
sebelahku. Mukanya pucat, dan dia mandi keringat.
"Kau nggak apa-apa?"
Tanyaku. Dia menggangguk lemah, aku bangkit dan mengambil sebotol nektar. Lalu
Sharley meminum seperempatnya.
"Oh, lebih baik. Makasih,
Sehun." Katanya.
Kai menyandang tas conversenya, mendekat ke arah kami. "Kita
cari hotel."
Aku mengerang dan mencoba menolak. Kai dan Sharley menarik kedua
tanganku, dengan sangat berat hati aku berdiri tegak dan menepuk-nepuk celana
karena banyak pasir yang menempel.
"Kau tahu hotel di sekitar
sini?" Tanyaku. Kai mengendikkan bahu.
"Aku tahu." Kata Sharley.
"The Suites Hotel, sekitar 500 meter dari sini."
Aku meminum nektar, membaginya dengan Kai. Aku merasa
seperti hidup kembali, hampir melompat ke laut saking semangatnya. Kai lebih
buruk lagi, dia mengangkat sebagian dari pasir di pantai. "Ah, sial. Pasir
ini tercampur dengan kalsium karbonat." Katanya.
"Oh, tidak. Peta dari Apollo.
Tidak. Tidak." Aku panik, mengaduk-aduk tas.
Sharley menatapku was-was, "Jangan
bilang kalau peta itu terbang karena-"
"Kalian berdua terlempar dari
kereta. Sip." Potong Kai. Dia berusaha keras menyingkirkan kalsium
karbonat yang menempel di kemeja hitamnya.
"Ya, aku tahu kalau aku
bodoh." Akuku. Sharley mendesah, lalu merangkulku.
"Kau sudah menyelamatkan aku, dibanding orang yang
menghilang tanpa membantu." Dia melirik sinis ke arah Kai.
"Ayolah, aku panik." Kata
Kai.
Kami berjalan menyusuri jalanan kota yang sepi, tentu saja para penduduk
tengah bermanja-manja dengan kasur. Bikin iri saja.
Angin bertiup kencang, membekukan darah yang mengalir di
dalam pembuluh darah. Kai menyuruhku untuk membelokkan angin, tapi karena aku
tidak konsentrasi, angin itu berubah jadi pusaran angin lalu menabrak pohon.
Dryad, sang peri pohon, memelototiku karena menimbulkan kerusakan pada tempat
tinggalnya.
"Maaf," kataku.
Sharley memegangi kepalanya.
"Aduh," aku menoleh dan mendapati kedua matanya berubah menjadi hijau
elektrik seperti yang terjadi pada Apollo.
"Tertimbun tanah,
dan saksikan kegelapan dalam alam kematian."
"Terbawa arus
hingga hanyutkan diri."
"Utara."
Sharley tersentak, kedua warna
matanya berubah menjadi normal. Tubuhnya
hampir terjatuh kalau saja aku tidak segera menangkapnya.
"Visi yang mengerikan,
Shar." Kata Kai. Dia mengusap wajahnya, harus-tetap-tenang. Aku berusaha
untuk tidak bertanya apa maksudnya. Mendengar visi yang masih berupa teka-teki
saja sudah membuatku limbung. Kai terus-terusan mengusap wajahnya, aku tahu
mengenai alam kematian yang kemungkinan ada hubungan dengan dirinya.
Aku berharap bisa mencairkan suasana jadi aku berteriak
sekencang-kencangnya. Tidak peduli penduduk yang akan terganggu tidurnya.
"Nah, The Suites Hotel, aku
dataaaang." Aku berlari meninggalkan mereka berdua.
"Bisa tidak sih tunjukkan
leadershipmu sedikit saja, dasar cungkring." Gerutu Kai. Tapi aku tetap
berlari dan mereka tertinggal lima
meter di belakangku.
Tiba- tiba tiga ekor kucing hitam
berlari-lari di hadapanku, salah satu yang berbadan paling besar menghampiriku,
lalu mengeong meminta makan.
Aku berjongkok lalu mengelus-elus puncak kepalanya, "Kucing
manis,"
"Siapa yang kau sebut kucing
manis, putra Zeus?" Aku terjengkang ke belakang, tercengang mendengar
kucing itu berbicara bahkan tahu kalau aku putra Zeus. Seketika ketiga kucing
itu berubah menjadi sosok mengerikan yang memiliki sepasang sayap tajam dan
taring. Matanya berwarna merah semerah darah. Kuku-kuku kakinya sekuat baja.
Mereka mirip dengan spesies dinosaurus yang bisa terbang, aku lupa namanya.
Aku melempar pin yang tersemat di
jaketku lalu melemparnya, pin itu berubah jadi pedang dari emas imperial lalu
aku menyiagakan Aegis di pergelangan tangan kiriku.
"Tenanglah, Sehun, kami tidak
berselera membunuhmu tapi—"
"Jika
kita bisa membunuhnya, mungkin kita bakalan naik gaji, Alberd." Potong
monster yang satunya.
"Diam, Stephano. Ingatlah
tujuan kita."
Kai dan Sharley bergegas
menghampiri dan mengapitku. "Astaga, Erinyes." Kata Sharley selagi
menyiapkan busur dan panahnya. Kai kelihatan memucat tapi dia tetap menghunus
pedang stygian yang berwarna hitam kelam.
"Apa yang kalian lakukan
disini?" Tanya Kai.
Ketiga Erinyes menyeringai,
"Menjemput anda, Tuan muda." Kata Stephano. Mereka lalu menyerang,
sialnya, aku kebagian Alberd. Dia menerjang terus menerus, aku menikam sayapnya
tapi dia berhasil menghalaunya dengan kedua kakinya lalu dia menendang dadaku
hingga aku jatuh tepat di atas aspal. Alberd berdiri tepat di atasku,
menginjak-injak dadaku, dan parahnya dia mengoyak kulitku. Darah segar yang
hangat mengalir, menodai aspal. "Aargh." Erangku.
"Tunjukan kemampuanmu, putra
Zeus." Lagi-lagi dia menyeringai, memamerkan gigi taring yang setajam
bilah pisau. Air liurnya menetes. Mataku berkunang-kunang namun aku berusaha
memanggil angin untuk berkumpul menjadi badai, nadiku berdenyut cepat. Angin
menuruti perintah dan membawa Alberd jauh dari tubuhku. Tapi Erinyes itu tidak
gentar, dia menukik lagi ke bawah. Aku berguling ke samping dan menebas
kakinya. Ia pun terbuyar kan
jadi debu. Ketiga Erinyes itu telah berhasil kami musnahkan. Aku merangkak
sambil memegangi pundakku yang terkoyak, mendekati Kai yang menatap kosong
langit, aku tidak tahu apa yang telah dikatakan Erinyes yang ia lawan tadi.
Tapi sepertinya itu cukup membuatnya terguncang. Sharley mengelap anak panahnya
yang terkena darah hijau Erinyes.
"Astaga, Sehun, kau
terluka." Sharley buru-buru mengambil sebotol nektar, dan mengolesi itu di
sekitar luka cakarku. Aku berjengit kesakitan.
"Maafkan aku, Sehun."
Kata Kai, menatapku dengan pandangan yang pedih.
"Kau tidak salah, Kai."
Dia menggeleng lalu meremas rambutnya kesal. Sebatang besi melayang dan
menabrak lampu jalan di sebelah Kai.
"Ini salahku. Semua kesalahan ini.
Tidak. Tidak. Tidaaaak." Ia menjerit frustasi. Lampu jalan di seberang
menjadi bengkok karenanya.
"Tidak apa-apa, Kai. Tidak
apa-apa, tenanglah." Sharley mengusap-usap punggung Kai dengan lembut. Kai
mulai terisak.
Tiba-tiba tanah di bawah kami
bertiga mulai retak, awalnya bagaikan sepotong ranting, lama-kelamaan merambat.
"LARI!" Teriakku.
Terlambat untuk berlari, kami hampir jatuh ke dalam lubang
yang gelap hanya berpegangan pada akar-akar pohon yang besar. Aku dan Sharley
kesusahan menahan Kai agar tidak terjatuh. Aku memegang tangan kanannya,
sedangkan Sharley tangan kirinya. Kai tampaknya pasrah, dia cuma memejamkan
mata dan kembali menangis.
"Ini bukan saat yang tepat buat
nangis, bodoh!" Kataku. Meremas tangannya, agar dia tersadar kemabli.
"Kai, kaukah yang buat lubang
ini?! Kau ingin kita mati?!" Bentak Sharley.
Kai menggeleng dengan cepat.
"Tidak! Aku bahkan tidak punya cukup energi untuk meretakkan tanah!"
Dia berusaha melepaskan pegangannya dari tanganku. Tapi, aku justru memegangnya
lebih erat.
"Kau mati, aku juga
mati." Kataku. Kai menatapku dengan pandangan pedih. Sharley mengangguk. Belum
sempat aku dan Sharley melepas pegangan kami. Sekelebat bayangan hitam seperti
Kai, berdiri tepat di atas kami. Ia berubah menjadi pria berkulit putih pucat,
dengan bola mata yang besar. Rambut merahnya ditiup angin terlihat seperti
kobaran api.
"Wah, sungguh mengharukan."
Katanya.
Kai membeku. "Kau-" Dia
menatap pria itu dengan terkejut.
"Halo, Kai." Sapanya.
"Menjemput ajal?"
Aku menggeram. "Siapa
kau?"
Dia tertawa licik, lalu menatap
remeh. "Putra Zeus ya? Hah, tidak sehebat yang kukira." Dia
berjalan-jalan santai mengelilingin lubang.
"Aku, Do Kyungsoo." Katanya. "Putra dari
Pluto."
"Atau yang kau kenal sebagai Hades."
Dia menjetikkan jarinya dan lubang
pun tertutup menimbun aku, Sharley dan Kai. Mengantarkan kami kedalaman
kegelapan yang tak berujung.
"Tertimbun tanah,
dan saksikan kegelapan dalam alam kematian."
omgomgomg huhu really nice ff ARGH UH
BalasHapusHahaha makasih farah<3 saranghaja! Wait for chapter 4 ya! Special kaisoo huhuhu.
Hapus